Bagaimana Kreator Asia Tenggara Membentuk Budaya dan Menggerakkan Hasil Bisnis

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Pada Bulan Oktober tahun lalu, sebuah media membahas bagaimana sembilan juta pengguna unik tercapai, dengan tingkat engagement dua kali lipat, hanya dalam waktu 11 hari. Angka ini bukan hasil iklan konvensional, melainkan dampak kolaborasi empat kreator YouTube Indonesia dengan platform perjalanan daring tiket.com—sebuah kampanye yang mengangkat perjalanan melalui lensa kuliner dan budaya.

Kisah ini menggambarkan pergeseran besar dalam cara merek membangun pengaruh. Di Asia Tenggara, kreator YouTube tidak lagi sekadar pembuat konten. Mereka adalah arsitek budaya, pembangun komunitas, dan mitra strategis merek dalam mengonversi perhatian menjadi aksi nyata.

Di Indonesia dan Thailand, YouTube menjadi platform utama tempat audiens kembali lagi dan lagi kepada kreator karena kualitas kontennya—mengungguli platform digital lain. Bagi bisnis, implikasinya jelas: jika ingin relevan secara kultural dan berdampak secara komersial, kreator YouTube adalah kolaborator yang tak terelakkan.

Ada setidaknya tiga cara utama bagaimana kreator di Asia Tenggara memengaruhi budaya sekaligus membantu merek meraih hasil bisnis.

Membangun kedekatan melalui bahasa universal: makanan dan musik

Makanan dan musik sejak lama menjadi medium pemersatu. Namun di tangan kreator YouTube Asia Tenggara, keduanya berevolusi menjadi pengalaman budaya yang imersif. Melalui kombinasi video panjang, Shorts, dan format dokumenter ringan, kreator menceritakan kisah tentang rasa, irama, dan manusia di baliknya.

Tigercrychannel dari Thailand, misalnya, dengan lebih dari tiga juta pelanggan, tidak hanya mengulas tempat makan lokal. Mereka menghadirkan wawancara intim dengan selebritas di warung sederhana, membuka percakapan tentang kehidupan, mimpi, dan perjuangan pemilik usaha kecil. Penonton tidak hanya menonton; mereka terlibat, berdiskusi, dan membentuk komunitas di kolom komentar.

Ketika channel ini menampilkan video di balik layar pabrik air minum Singha, diskusi yang muncul justru memperkuat persepsi merek—mulai dari rasa air hingga filosofi produksinya. Di sinilah kekuatan kreator bekerja: pengaruh mereka melampaui topik konten, menjalar ke relasi sosial dan kepercayaan komunitas.

Hal serupa terlihat di Indonesia lewat kolaborasi Toyota dengan band rock Noah. Melalui remake lagu-lagu populer di YouTube, Toyota Veloz tampil bukan sebagai produk yang diiklankan secara frontal, melainkan bagian dari narasi emosional tentang kerinduan dan perjalanan hidup. Hasilnya: jutaan penonton, meme yang menyebar luas, dan relevansi merek yang tumbuh secara organik.

Menata ulang pengalaman hiburan digital

Kreator Asia Tenggara juga mengubah cara orang menikmati hiburan daring. Channel seperti omped_visual di Indonesia dan Far Fin Fun di Thailand memanfaatkan kanvas kreatif YouTube untuk menghadirkan sketsa episodik, serial mikro-drama, hingga format hiburan yang dirancang khusus untuk konsumsi mobile.

Namun inovasi tidak berhenti pada konten. Kreator juga memanfaatkan fitur interaktif YouTube untuk memperpanjang pengalaman hiburan. One Sports, misalnya, menggelar nonton bareng digital dengan fitur Live Chat, memungkinkan penonton merasakan atmosfer pertandingan secara kolektif—lengkap dengan interaksi real-time bersama komentator dan sesama penonton.

Fitur Communities juga dimanfaatkan untuk memperdalam hubungan dengan audiens. Celloszxz, kreator tinju dengan jutaan pelanggan, rutin melibatkan penggemar dalam polling dan diskusi tentang konten berikutnya. Audiens tidak lagi pasif; mereka ikut menentukan arah kanal.

Bagi merek, ekosistem ini membuka peluang kolaborasi yang jauh lebih kreatif. Turnamen Bahkan Voli 2 dari Vindes, misalnya, menggabungkan olahraga, selebritas, dan hiburan dalam format game show yang disiarkan langsung di YouTube. Produk merek terintegrasi secara natural melalui sketsa off-court dan wawancara pemain, tanpa mengganggu alur hiburan. Hasilnya adalah keterlibatan tinggi, bukan sekadar impresi.

Menjadi teman tepercaya lewat life hacks dan literasi hidup

Di luar hiburan, kreator YouTube di Asia Tenggara juga memainkan peran penting dalam membantu audiens memahami isu-isu kompleks yang berdampak langsung pada kehidupan mereka. Salah satunya adalah literasi keuangan.

Konten tentang kebiasaan belanja Gen Z, pengelolaan anggaran, dan perencanaan keuangan mengalami lonjakan watchtime signifikan di berbagai negara Asia Tenggara. Di Indonesia, pertumbuhannya bahkan melampaui 175% dalam setahun. Di Vietnam dan Filipina, tren serupa terlihat jelas.

Chinkee Tan dari Filipina menjadi contoh kuat bagaimana keaslian membangun kepercayaan. Dengan berbagi pengalaman pribadi, termasuk kesalahan finansial yang pernah ia lakukan, ia menjelma menjadi figur yang dianggap setara—bukan menggurui, melainkan menemani. Video panjangnya ditonton jutaan kali, menandakan bahwa audiens menghargai kejujuran lebih dari sekadar nasihat instan.

Kepercayaan ini kemudian menjadi jembatan bagi merek. Krom Bank di Indonesia, misalnya, menggandeng kreator YouTube untuk menjelaskan produknya lewat Shorts dengan gaya bertutur khas masing-masing kreator. Alih-alih satu pesan tunggal dari merek, audiens menerima beragam narasi yang terasa personal. Dampaknya terukur: kenaikan pencarian merek hingga 42%.

 

Di Asia Tenggara, kreator YouTube bukan sekadar influencer. Mereka adalah penggerak budaya, kurator komunitas, dan penerjemah kompleksitas menjadi cerita yang relevan. Bagi merek, kolaborasi dengan kreator bukan lagi soal “siapa yang paling terkenal,” melainkan siapa yang paling dipercaya dan paling mengerti audiensnya.

Dalam lanskap di mana perhatian semakin mahal dan kepercayaan semakin langka, para kreator ini menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan media buying semata: hubungan. Dan di era ekonomi perhatian, hubungan itulah yang akhirnya menggerakkan hasil bisnis.