(Business Lounge – Global News) Keputusan Diageo menjual kepemilikan sahamnya di bisnis minuman Kenya kepada Asahi Group senilai sekitar 2,3 miliar dolar AS menandai babak baru dalam penataan ulang portofolio perusahaan minuman terbesar di dunia itu. Transaksi ini menempatkan East African Breweries dengan nilai perusahaan sekitar 4,8 miliar dolar AS, sebuah angka yang tidak hanya mencerminkan potensi pasar Afrika Timur, tetapi juga perubahan prioritas strategis Diageo di tengah tekanan global.
Selama bertahun-tahun, Afrika dipandang sebagai pasar pertumbuhan jangka panjang bagi produsen minuman beralkohol global. Populasi muda, urbanisasi yang cepat, dan naiknya kelas menengah menjadi fondasi narasi tersebut. Namun realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan proyeksi. Volatilitas nilai tukar, tekanan biaya bahan baku, serta regulasi dan pajak yang berubah-ubah membuat kontribusi laba dari kawasan ini sering kali tidak stabil. Dalam konteks itu, keputusan Diageo untuk melepas sebagian eksposurnya di Kenya dapat dibaca sebagai upaya menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan disiplin modal.
Bagi Diageo, penjualan ini membuka ruang likuiditas yang signifikan. Dana segar dari transaksi dapat digunakan untuk memperkuat neraca, menekan utang, atau dialihkan ke pasar dan merek yang menawarkan pengembalian lebih cepat dan lebih terukur. Investor global dalam beberapa waktu terakhir semakin sensitif terhadap arus kas dan efisiensi penggunaan modal, terutama ketika pertumbuhan volume global melambat dan konsumen mulai menahan belanja. Dengan menjual aset bernilai tinggi di Afrika Timur, Diageo mengirimkan sinyal bahwa fokusnya bergeser dari ekspansi geografis agresif menuju optimalisasi portofolio.
Di sisi lain, Asahi melihat peluang yang berbeda. Grup asal Jepang ini selama beberapa tahun terakhir aktif mencari pertumbuhan di luar pasar domestiknya yang matang. Kepemilikan di East African Breweries memberi Asahi pijakan kuat di kawasan dengan demografi menguntungkan dan konsumsi minuman yang masih relatif rendah per kapita. Meski risikonya nyata, potensi jangka panjang Afrika Timur sejalan dengan strategi Asahi untuk mendiversifikasi sumber pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada Jepang dan Eropa.
Nilai perusahaan East African Breweries sebesar 4,8 miliar dolar AS juga menggarisbawahi betapa strategisnya aset ini. Diageo memilih keluar pada saat valuasi masih mencerminkan optimisme terhadap pertumbuhan kawasan. Waktu transaksi menjadi krusial, karena sentimen terhadap pasar negara berkembang bisa berubah cepat seiring dinamika global, mulai dari suku bunga tinggi hingga ketidakpastian geopolitik. Dengan mengunci valuasi sekarang, Diageo meminimalkan risiko penurunan nilai di masa depan.
Transaksi ini pada akhirnya mencerminkan perbedaan perspektif dua raksasa minuman global. Bagi Diageo, ini adalah langkah defensif yang rasional untuk menjaga fleksibilitas keuangan dan kepercayaan investor. Bagi Asahi, ini adalah taruhan jangka panjang pada pasar yang masih bertumbuh. Pasar akan menilai siapa yang membaca arah angin dengan lebih tepat, tetapi satu hal jelas: di industri minuman global yang semakin matang, keputusan tentang di mana menanamkan modal sama pentingnya dengan merek apa yang dijual.

