McDonald’s

Strategi Diskon Dorong Penjualan McDonald’s di Amerika Serikat

(Business Lounge – Global News) McDonald’s Corp. melaporkan peningkatan penjualan yang melampaui ekspektasi analis, didorong oleh strategi promosi dan penawaran harga yang menarik bagi konsumen di tengah tekanan inflasi dan melemahnya daya beli. Raksasa makanan cepat saji asal Amerika Serikat itu menyebut bahwa penjualan di gerai yang telah beroperasi minimal satu tahun (same-store sales) di pasar domestik naik 2,4% untuk kuartal yang berakhir pada 30 September, melampaui perkiraan analis sebesar sekitar 2%, sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal dan Bloomberg.

CEO McDonald’s Chris Kempczinski menyebut bahwa “strategi nilai dan kolaborasi kreatif dengan merek-merek budaya populer” menjadi faktor utama di balik performa kuat tersebut. Kampanye $5 Meal Deal dan kolaborasi dengan selebritas seperti Cardi B dan Travis Scott disebut membantu menarik minat pelanggan muda yang sebelumnya mulai menjauh akibat kenaikan harga menu. “Konsumen saat ini jauh lebih sensitif terhadap harga. Mereka mencari alasan untuk datang kembali, dan kami memberi mereka alasan itu melalui promosi yang relevan dan pengalaman digital yang konsisten,” ujar Kempczinski dalam pernyataannya kepada Reuters.

Kinerja ini menjadi sinyal positif di tengah meningkatnya tekanan terhadap sektor restoran cepat saji di Amerika Serikat. Survei CNBC menunjukkan bahwa hampir 60% pelanggan berpenghasilan menengah kini lebih jarang makan di luar dibanding tahun lalu karena biaya hidup yang meningkat. Namun, kemampuan McDonald’s menggabungkan strategi diskon, efisiensi digital, dan loyalitas merek membuatnya tetap unggul dibanding pesaing seperti Wendy’s dan Burger King.

McDonald’s juga melaporkan bahwa penggunaan aplikasi seluler dan layanan delivery meningkat signifikan, dengan lebih dari sepertiga total transaksi di AS kini berasal dari kanal digital. Strategi ini sejalan dengan fokus perusahaan untuk memperluas platform MyMcDonald’s Rewards, yang kini telah memiliki lebih dari 150 juta pengguna aktif secara global. Pendekatan berbasis data ini memungkinkan perusahaan menyesuaikan promosi berdasarkan preferensi pelanggan di setiap pasar.

Meski demikian, pertumbuhan McDonald’s secara keseluruhan sedikit melambat dibandingkan tahun lalu. Di pasar internasional, penjualan meningkat hanya 3,2%, lebih rendah dari kenaikan dua digit yang tercatat pada 2023. Faktor utama penyebabnya adalah pelemahan mata uang asing terhadap dolar AS dan kondisi ekonomi yang menantang di beberapa wilayah Eropa. Financial Times mencatat bahwa di Inggris dan Jerman, peningkatan harga bahan baku dan energi masih menekan margin operasional meski volume penjualan stabil.

Untuk menjaga profitabilitas, McDonald’s melanjutkan strategi rasionalisasi jaringan global dengan menutup sebagian gerai yang tidak efisien dan mempercepat investasi pada desain restoran baru yang lebih hemat energi. Perusahaan juga berencana menambah lebih dari 1.000 gerai baru pada tahun fiskal 2025, sebagian besar di Asia, termasuk di Indonesia, India, dan China, yang dianggap sebagai pasar pertumbuhan jangka panjang.

Menurut analis dari Morningstar, keberhasilan McDonald’s menjaga pertumbuhan positif di tengah tekanan inflasi membuktikan ketahanan model bisnisnya. “McDonald’s memiliki skala operasional dan daya beli yang sangat besar, yang memungkinkannya mempertahankan margin meskipun harga bahan pangan meningkat,” tulis analis tersebut.

Dengan kapitalisasi pasar mendekati US$190 miliar, McDonald’s tetap menjadi ikon industri makanan cepat saji global. Namun, tantangan ke depan terletak pada keseimbangan antara mempertahankan nilai merek dan menarik konsumen muda yang semakin sadar akan harga dan kualitas.

Sebagaimana ditulis Bloomberg Intelligence, “Keberhasilan McDonald’s bukan hanya karena menjual burger lebih murah, tetapi karena memahami psikologi pelanggan—bahwa dalam masa sulit, konsumen tidak hanya mencari makanan, tapi juga sedikit rasa nyaman.”