(Business Lounge – Global News) Produsen makanan dan minuman raksasa asal Prancis, Danone SA, melaporkan kenaikan penjualan yang solid pada kuartal ketiga tahun ini, ditopang oleh pertumbuhan yang kuat di China meski dihadapkan pada tekanan ekonomi di pasar Amerika Utara. Laporan keuangan terbaru perusahaan yang dikutip Bloomberg menunjukkan bahwa penjualan meningkat 4,8 persen secara like-for-like, melampaui ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan di bawah 4 persen.
Danone, yang dikenal melalui merek global seperti Evian, Actimel, Oikos, dan Aptamil, tampaknya berhasil memanfaatkan momentum pemulihan konsumsi di China setelah melewati masa fluktuasi pasca-pandemi. Sementara banyak perusahaan Barat masih berjuang menghadapi permintaan yang tidak stabil di pasar tersebut, Danone justru mencatat akselerasi di segmen nutrisi anak dan produk susu premium yang menjadi tulang punggung portofolionya.
Menurut laporan Reuters, pertumbuhan di China terutama didorong oleh lonjakan penjualan formula bayi dan produk kesehatan berbasis susu, dua kategori yang selama beberapa tahun terakhir menjadi fokus transformasi bisnis Danone. Konsumen kelas menengah di kota-kota besar seperti Shanghai, Beijing, dan Shenzhen kini semakin selektif terhadap kualitas dan keamanan produk, tren yang memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan yang memiliki reputasi kuat dalam riset nutrisi seperti Danone.
Namun di sisi lain, kinerja di Amerika Utara menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang lebih tajam. The Wall Street Journal mencatat bahwa permintaan terhadap produk-produk susu fermentasi dan air minum kemasan melemah di tengah tekanan inflasi dan perubahan preferensi konsumen yang kini lebih tertarik pada alternatif nabati serta produk lokal dengan harga lebih rendah. Beberapa merek utama Danone seperti Silk dan Alpro juga menghadapi persaingan ketat dari pemain baru di kategori minuman nabati.
CEO Danone, Antoine de Saint-Affrique, menyebut hasil kuartalan ini sebagai bukti bahwa strategi “Renew Danone” yang diluncurkan dua tahun lalu mulai menunjukkan hasil konkret. Dalam pernyataannya yang dikutip Bloomberg, ia mengatakan bahwa perusahaan kini lebih disiplin dalam mengelola portofolio dan berani mengambil keputusan yang sulit untuk memusatkan investasi pada pasar dan kategori yang memberikan pertumbuhan paling tinggi. Ia juga menekankan pentingnya fokus pada inovasi, efisiensi rantai pasok, dan profitabilitas jangka panjang.
Salah satu langkah strategis yang paling mencolok adalah peningkatan eksposur Danone terhadap pasar Asia, khususnya China dan India. Kedua negara ini kini menyumbang sekitar seperlima dari total pendapatan perusahaan. Pertumbuhan ekonomi yang masih relatif kuat, urbanisasi cepat, dan kesadaran kesehatan yang meningkat menjadi faktor utama yang mendukung ekspansi tersebut. Financial Times menulis bahwa Danone telah meningkatkan investasi di fasilitas produksi di wilayah Asia Timur untuk memperkuat rantai pasok dan mempercepat peluncuran produk baru.
Di China, keberhasilan Danone juga ditopang oleh kemitraan dengan perusahaan lokal dan optimalisasi kanal digital. Platform e-commerce seperti Tmall dan JD.com menjadi jalur utama penjualan produk bayi dan nutrisi premium. Perusahaan menilai bahwa kehadiran digital bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pusat strategi distribusi masa depan. Reuters menambahkan bahwa penjualan daring kini menyumbang lebih dari 35 persen total penjualan Danone di China, meningkat signifikan dibanding dua tahun lalu.
Meski pasar China memberikan angin segar, tantangan global tetap besar. Inflasi biaya bahan baku, kenaikan upah, dan fluktuasi mata uang masih menjadi tekanan bagi margin keuntungan. Untuk mengatasinya, Danone terus melanjutkan program efisiensi operasional, termasuk pengurangan biaya logistik dan restrukturisasi beberapa pabrik di Eropa Barat. Perusahaan juga menerapkan strategi harga selektif untuk menjaga margin di tengah permintaan yang sensitif terhadap harga.
Bloomberg Intelligence mencatat bahwa kenaikan harga yang dilakukan Danone pada awal tahun berhasil menyeimbangkan sebagian dampak inflasi, tetapi perusahaan tetap berhati-hati agar tidak kehilangan pangsa pasar di segmen menengah. Sejumlah analis menilai pendekatan Danone lebih konservatif dibanding pesaingnya seperti Nestlé, yang lebih agresif dalam menaikkan harga di kategori susu dan makanan bayi.
Sementara itu, di Amerika Utara, Danone tengah melakukan evaluasi portofolio menyeluruh. Segmen yogurt, yang dulu menjadi andalan, kini menghadapi stagnasi karena munculnya berbagai alternatif baru seperti Greek-style high-protein yogurt dan minuman probiotik fungsional dari pemain kecil yang lebih inovatif.

