Ketika Dua Kepala Memimpin: Tantangan dan Peluang di Balik Model Co-CEO

(Business Lounge Journal – General Management)

Dalam dunia bisnis modern yang semakin kompleks, kepemimpinan tidak selalu harus datang dari satu orang di puncak. Beberapa perusahaan global kini memilih struktur co-CEO, yakni dua pemimpin eksekutif yang berbagi tanggung jawab strategis dalam menjalankan perusahaan.

Namun, sebagaimana pernikahan yang diatur, hubungan kepemimpinan ganda ini membutuhkan kepercayaan, komunikasi efektif, dan kejelasan peran agar dapat berjalan harmonis. Sebuah kemitraan yang hebat belum tentu menjamin hasil bisnis yang luar biasa — dan di sinilah letak paradoks dari model co-CEO.

Gelombang Baru di Puncak Kepemimpinan

Beberapa perusahaan besar baru-baru ini mengumumkan peralihan ke struktur co-CEO:

  • Oracle menunjuk Clay Magouyrk dan Mike Sicilia menggantikan Safra Catz, yang kini menjadi wakil ketua dewan.
  • Spotify mengangkat Gustav Söderström dan Alex Norström sebagai co-CEO, sementara pendiri Daniel Ek beralih menjadi executive chairman.
  • Comcast juga akan memiliki dua CEO: Michael Cavanagh akan memimpin bersama Brian Roberts mulai tahun depan.

Fenomena ini bukan hanya tren, tetapi refleksi atas kebutuhan organisasi global yang semakin besar dan berlapis.

Sebuah studi oleh Harvard Business Review tahun 2022 menemukan bahwa perusahaan publik dengan struktur co-CEO mencatat rata-rata pengembalian tahunan pemegang saham sebesar 9,5%, lebih tinggi dibandingkan 6,9% pada perusahaan dengan satu CEO. Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa dua CEO tidak otomatis lebih baik daripada satu.

Kualitas hubungan antara para pemimpin menjadi kunci utama. Tanpa kejelasan peran, keselarasan tujuan, dan mekanisme penyelesaian konflik yang disepakati, model kepemimpinan ganda mudah gagal.

Beberapa perusahaan membuktikan bahwa dua kepala bisa berpikir dan bergerak lebih cepat — jika dikelola dengan baik.
Netflix dan perusahaan investasi global KKR sukses menjalankan struktur ini. Contoh lain datang dari firma arsitektur global Gensler, di mana co-CEO Jordan Goldstein dan Elizabeth Brink bahkan menerapkan model kepemimpinan ganda di seluruh organisasi mereka.

“Kami membangun kepercayaan dan keselarasan nilai sejak awal,” ujar keduanya dalam pernyataan bersama. “Kami memiliki area kepemimpinan yang berbeda, namun selalu bergerak dengan satu suara. Komunikasi adalah fondasi kami.”

Kelebihan dan Bahaya di Balik Dua Pemimpin

Menurut Dan Auerback, seorang pelatih CEO, struktur co-CEO dapat menjadi “kelas master dalam kepemimpinan komplementer” atau justru “jalan cepat menuju kebuntuan.”

Auerback menyoroti lima prinsip utama agar model ini berhasil:

  1. Kejelasan peran. Setiap orang dalam organisasi harus tahu siapa yang memimpin di area tertentu.
  2. Pembagian alami. Pemisahan berdasarkan domain — misalnya strategi vs. operasional, atau kreatif vs. komersial — akan memperkuat akuntabilitas.
  3. Disiplin komunikasi. Rutinitas seperti weekly check-in dan structured decision review mencegah pergeseran arah.
  4. Satu suara di depan publik, beda pendapat diselesaikan secara pribadi.
  5. Ego management. Persaingan pribadi adalah racun bagi model ini.

Tanpa disiplin ini, yang terjadi hanyalah kebingungan, sinyal campur aduk, dan perebutan kekuasaan. Tetapi dengan disiplin, organisasi bisa memperluas kapasitas kepemimpinan yang tak bisa dilakukan oleh satu orang saja.

Struktur yang Langka, Tapi Menarik

Meskipun menarik, model co-CEO tetap langka. Berdasarkan data Heidrick & Struggles, hanya 14–15 perusahaan Fortune 1000 yang menjalankan struktur ini setiap tahun sejak 2022 hingga 2025.

Menurut Joey Price, CEO Jumpstart HR dan penulis The Power of HR, kunci keberhasilan terletak pada budaya organisasi, tata kelola, dan kejelasan arah. Ia menambahkan, model ini paling efektif digunakan sebagai strategi transisi — misalnya dalam proses suksesi, ekspansi pasar baru, atau integrasi pasca-merger — bukan sebagai struktur permanen.

“Struktur kepemimpinan harus selalu menjadi alat untuk kejelasan, budaya, dan eksekusi,” ujar Price. “Bukan sekadar kompromi di puncak.”

Pelajaran bagi Dunia Bisnis Indonesia

Bagi perusahaan di Indonesia, terutama bisnis keluarga atau konglomerasi yang sedang melakukan regenerasi kepemimpinan, model co-CEO dapat menjadi strategi peralihan yang bijak. Generasi pendiri bisa berbagi tanggung jawab dengan generasi penerus sambil memastikan nilai dan budaya perusahaan tetap terjaga.

Namun, implementasinya menuntut kedewasaan organisasi: budaya komunikasi terbuka, sistem pengambilan keputusan yang jelas, serta komitmen untuk menempatkan kepentingan perusahaan di atas ego individu.

Pada akhirnya, struktur apa pun — entah satu CEO atau dua — hanyalah wadah. Yang menentukan hasilnya adalah kualitas hubungan, kejelasan peran, dan konsistensi nilai. Dua kepala bisa menjadi dua kekuatan… atau dua arah yang berlawanan.