Intel

Janji Intel $28 Miliar Bikin Ohio Terlunta

(Business Lounge – Global News) Ketika Intel mengumumkan rencana membangun kompleks pabrik semikonduktor canggih senilai 28 miliar dolar di New Albany, Ohio, suasana di kota kecil itu berubah drastis. Media nasional seperti The Wall Street Journal dan Bloomberg menyebut pengumuman tersebut sebagai tonggak kebangkitan industri manufaktur Amerika, sekaligus simbol upaya Washington mengurangi ketergantungan pada chip Asia. Namun, beberapa tahun setelah janji besar itu, banyak warga New Albany justru merasa berada dalam ketidakpastian.

Awalnya, proyek ini dipromosikan sebagai “Silicon Heartland” dengan harapan menciptakan ribuan lapangan kerja langsung dan tidak langsung, serta mendongkrak ekonomi lokal. Pemerintah federal melalui CHIPS and Science Act berjanji memberikan subsidi besar, sementara pejabat Ohio menggelontorkan insentif tambahan. Intel menyebut pabrik baru ini akan menjadi fasilitas paling canggih yang pernah dibangun di Amerika, mampu memproduksi chip berteknologi nanometer terkini.

Namun, seperti dicatat Financial Times, kemajuan proyek jauh lebih lambat dari harapan. Lahan luas memang sudah dibebaskan dan sebagian pekerjaan persiapan dimulai, tetapi konstruksi utama tidak berjalan secepat yang dijanjikan. Faktor birokrasi, persaingan anggaran federal, hingga perubahan peta permintaan global semikonduktor membuat jadwal molor. Akibatnya, warga dan bisnis lokal yang sudah bersiap ikut memanen keuntungan kini harus menunggu tanpa kepastian.

Bagi New Albany, sebuah kota yang sebelumnya dikenal dengan perumahan tenang dan kawasan ritel menengah ke atas, kehadiran Intel ibarat jackpot. Banyak pemilik usaha kecil berinvestasi untuk memperbesar kapasitas, yakin bahwa ribuan pekerja akan segera berdatangan. Perusahaan properti menaikkan harga tanah, sekolah setempat memproyeksikan lonjakan jumlah murid, dan restoran lokal bersiap menggandakan kapasitas. Namun, semua antisipasi itu kini terasa berlebihan.

Menurut Bloomberg, warga lokal mulai mempertanyakan apakah proyek benar-benar akan berjalan sesuai skala awal. Intel sendiri menghadapi tantangan finansial. Pendapatan perusahaan menurun drastis akibat kompetisi sengit dengan TSMC dan Samsung, sementara biaya riset chip generasi baru melonjak. Meskipun CEO Pat Gelsinger berulang kali menegaskan komitmen jangka panjang, pasar modal menunjukkan keraguan. Harga saham Intel sempat tertekan, menambah kekhawatiran bahwa ekspansi masif di Ohio bisa direvisi.

Sementara itu, pemerintah federal AS juga lambat menyalurkan dana subsidi CHIPS Act. Wall Street Journal melaporkan bahwa hingga pertengahan tahun, hanya sebagian kecil dari total anggaran ratusan miliar dolar yang benar-benar dicairkan. Proses seleksi dan audit sangat ketat, membuat perusahaan harus menunggu lama sebelum dana segar mengalir. Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi proyek New Albany.

Bagi pemerintah Ohio, penundaan ini menciptakan dilema politik. Gubernur dan pejabat lokal sudah mengumumkan proyek dengan gegap gempita, memposisikannya sebagai bukti keberhasilan menarik investasi global. Namun, jika pembangunan melambat, kritik akan muncul bahwa pemerintah terlalu cepat menjual mimpi tanpa landasan kokoh. Warga yang telah menjual tanah atau pindah rumah untuk memberi ruang bagi ekspansi industri mulai merasa kecewa.

Dari perspektif tenaga kerja, peluang juga belum jelas. Intel memang menjanjikan 3.000 pekerjaan langsung bergaji tinggi dan puluhan ribu lapangan kerja tidak langsung. Namun, serikat pekerja menyoroti bahwa hingga kini belum ada kepastian jadwal perekrutan besar-besaran. Universitas lokal yang bergegas membuka program teknik semikonduktor juga harus bersabar, karena gelombang kebutuhan tenaga ahli belum datang.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai proyek ini masih terlalu besar untuk gagal. Financial Times menekankan bahwa AS memiliki kepentingan strategis memastikan pabrik di Ohio terwujud, karena kemandirian chip adalah isu keamanan nasional. Ketergantungan pada Taiwan dianggap berisiko tinggi, terutama dengan ketegangan geopolitik di Selat Taiwan. Oleh karena itu, cepat atau lambat, Washington kemungkinan akan mengucurkan dana yang dibutuhkan Intel.

Namun, waktu adalah faktor penting. Jika penundaan terlalu lama, New Albany bisa kehilangan momentum ekonomi. Investasi turunan dari pemasok komponen, perusahaan logistik, maupun penyedia jasa bisa dialihkan ke lokasi lain yang lebih pasti. Sejumlah analis memperingatkan bahwa harapan New Albany untuk menjadi pusat ekosistem semikonduktor bisa pudar jika Intel tidak bergerak lebih cepat.

Kondisi global juga tidak membantu. Pasar semikonduktor tengah mengalami siklus fluktuatif. Setelah permintaan memuncak pada masa pandemi akibat ledakan perangkat elektronik, kini industri menghadapi kelebihan pasokan di beberapa segmen, terutama chip memori. Walau chip canggih tetap sangat dicari, ketidakpastian permintaan membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam ekspansi besar.

Untuk masyarakat New Albany, dampak nyata sudah terasa. Harga rumah yang sempat melonjak kini mulai stabil, bahkan turun di beberapa area karena ekspektasi tidak terpenuhi. Bisnis kecil yang memperbesar kapasitas menghadapi risiko kelebihan pasokan tanpa konsumen baru. Bahkan beberapa warga mengaku menunda rencana investasi pribadi karena tidak yakin kapan manfaat proyek Intel akan benar-benar terasa.

Meskipun demikian, optimisme belum sepenuhnya hilang. Intel terus menekankan bahwa Ohio tetap menjadi bagian inti dari strategi jangka panjang perusahaan. Pat Gelsinger dalam wawancara dengan Bloomberg menyebut proyek New Albany sebagai “investasi multi-dekade” yang tidak bisa diukur hanya dari beberapa tahun pertama. Menurutnya, kompleks tersebut pada akhirnya akan menjadi salah satu pusat manufaktur chip paling strategis di dunia.

Pakar ekonomi lokal juga mencoba meredakan kegelisahan. Menurut analisis Columbus Dispatch, meskipun ada penundaan, keberadaan lahan, infrastruktur, serta komitmen pemerintah tetap menjadi fondasi kuat. Begitu subsidi federal mengalir dan pasar chip kembali stabil, pembangunan kemungkinan akan dipercepat. Tantangan saat ini lebih bersifat siklus dan administratif daripada struktural.

Namun, bagi warga biasa, narasi jangka panjang sulit memberi kepastian. Mereka menilai janji lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan tindakan nyata, bukan sekadar visi bertahun-tahun ke depan. Setiap bulan yang berlalu tanpa kemajuan nyata memperdalam rasa frustrasi.

Kasus New Albany mencerminkan dilema yang lebih besar dalam kebijakan industri AS. Upaya membangkitkan kembali manufaktur chip memang penting secara strategis, tetapi implementasi di lapangan jauh lebih rumit. Proses birokrasi, dinamika pasar, dan realitas keuangan perusahaan bisa membuat janji spektakuler menjadi lambat terealisasi.