Canada Goose

Penjualan Canada Goose Tumbuh Tak Terduga

(Business Lounge – Global News) Di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan tekanan daya beli konsumen, Canada Goose Holdings Inc. justru mencatatkan hasil mengejutkan: pertumbuhan penjualan kuartalan yang melampaui ekspektasi analis. Perusahaan asal Kanada yang dikenal dengan jaket musim dingin premium ini membukukan kenaikan penjualan sebesar 7,4 persen pada kuartal keempat fiskalnya, jauh di atas perkiraan konsensus analis yang sebelumnya memproyeksikan penurunan ringan.

Peningkatan ini menyoroti satu kenyataan menarik dalam dinamika konsumsi global: belanja barang mewah, meski melambat di beberapa pasar seperti Tiongkok, tetap bertahan kuat di kawasan seperti Amerika Utara dan Eropa. Seperti disampaikan oleh Bloomberg, hasil ini menjadi kejutan yang menyenangkan bagi pelaku pasar yang semula mengkhawatirkan melemahnya daya beli kelas menengah atas akibat inflasi tinggi dan suku bunga acuan yang masih agresif.

Dalam laporan terbarunya, Reuters mengungkap bahwa Canada Goose membukukan pendapatan sebesar C$358 juta dalam tiga bulan terakhir yang berakhir pada 31 Maret 2025, dibandingkan C$333 juta pada periode yang sama tahun lalu. Tak hanya itu, laba kotor perusahaan juga meningkat, sebagian besar berkat strategi distribusi langsung ke konsumen (DTC) yang kini menyumbang porsi pendapatan terbesar, dibandingkan penjualan melalui mitra ritel.

Model penjualan DTC—melalui toko milik sendiri dan platform e-commerce—memungkinkan Canada Goose menjaga margin dan mengontrol pengalaman merek secara lebih ketat. Menurut laporan dari The Wall Street Journal, strategi ini juga membuat perusahaan lebih adaptif dalam menghadapi fluktuasi permintaan di berbagai pasar. Sebagai contoh, meskipun permintaan di Asia melambat, pertumbuhan yang solid di Amerika Utara dan Eropa berhasil menutupi ketimpangan tersebut.

CEO Canada Goose, Dani Reiss, menyatakan dalam panggilan konferensi dengan investor bahwa kinerja kuat ini menunjukkan “resiliensi merek” dan kemampuan perusahaan dalam menjaga daya tarik meski tekanan ekonomi terus meningkat. Ia menambahkan bahwa konsumen saat ini lebih selektif, namun tetap bersedia mengeluarkan uang untuk produk dengan narasi keaslian, kualitas tinggi, dan nilai jangka panjang.

Keberhasilan Canada Goose di tengah perlambatan konsumsi global ini patut dicermati karena tidak semua merek mewah mencatatkan performa serupa. Beberapa label fesyen Eropa seperti Gucci dan Burberry telah melaporkan pelambatan permintaan, terutama di kalangan pembeli muda yang lebih konservatif dalam pengeluaran. Namun, seperti disorot oleh Bloomberg, Canada Goose menempati posisi unik sebagai merek yang memadukan fungsionalitas ekstrem dengan identitas gaya hidup eksklusif, sehingga tetap menarik bagi kalangan dengan preferensi belanja yang lebih sadar nilai.

Sebagian besar pertumbuhan dalam kuartal ini datang dari pelanggan lokal di Kanada dan Amerika Serikat, yang secara tradisional menjadi basis konsumen utama. Meski perusahaan terus menaruh harapan pada ekspansi di Tiongkok dan kawasan Asia Timur, ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi kebijakan lockdown selama beberapa tahun terakhir memengaruhi laju pertumbuhan di kawasan tersebut. Dalam laporan yang dikutip oleh Reuters, perusahaan menyebut bahwa penjualan di Tiongkok daratan tetap stabil, namun tidak menunjukkan lonjakan signifikan pasca pembukaan kembali ekonomi.

Menariknya, laporan keuangan ini juga menunjukkan bahwa konsumen kini lebih cenderung membeli langsung dari toko fisik milik Canada Goose dibanding dari gerai ritel multibrand. Hal ini memperkuat keyakinan perusahaan bahwa kendali penuh atas distribusi memberi keunggulan strategis jangka panjang, baik dalam menjaga eksklusivitas merek maupun dalam mengumpulkan data perilaku konsumen.

Selain strategi distribusi, Canada Goose juga berhasil memaksimalkan kampanye pemasaran terarah dan kolaborasi produk terbatas yang berhasil menciptakan buzz di media sosial. Seperti disorot oleh The Wall Street Journal, perusahaan baru-baru ini meluncurkan koleksi terbatas dengan selebritas dan desainer global, termasuk jaket edisi spesial yang langsung habis dalam beberapa jam setelah peluncuran online. Strategi ini bukan hanya mendongkrak penjualan, tetapi juga memperkuat persepsi eksklusivitas merek.

Pencapaian ini datang pada saat banyak produsen fesyen menghadapi biaya operasional yang meningkat. Biaya tenaga kerja, pengiriman, dan material mentah seperti bulu angsa dan bahan teknis sintetis yang menjadi ciri khas produk Canada Goose terus meningkat sejak pandemi. Namun, perusahaan berhasil menjaga margin kotor dengan menaikkan harga secara selektif dan fokus pada lini produk bernilai tinggi. Dalam wawancara dengan Bloomberg TV, CFO Jonathan Sinclair mengatakan bahwa perusahaan “tidak mengejar volume, melainkan nilai per transaksi,” sebuah pendekatan yang konsisten dengan citra merek mewah.

Sementara itu, pasar menyambut baik laporan ini. Saham Canada Goose melonjak lebih dari 10 persen sesaat setelah rilis pendapatan, mencerminkan kepercayaan investor terhadap arah strategi perusahaan. Seperti dicatat oleh analis di Bank of America, keberhasilan mempertahankan pertumbuhan di tengah tekanan makroekonomi membuktikan bahwa Canada Goose termasuk dalam kategori “essential luxury”—produk mewah yang dianggap penting oleh konsumennya, bukan sekadar barang pameran.

Dalam jangka panjang, Canada Goose berencana memperluas portofolio produknya di luar jaket musim dingin. Perusahaan telah meluncurkan lini pakaian musim panas dan aksesori serta mempertimbangkan masuk ke kategori alas kaki dan tas premium. Menurut Bloomberg, diversifikasi produk ini menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap musim dingin dan memperluas potensi pendapatan di pasar yang lebih luas.

Secara geografis, ekspansi tetap menjadi prioritas. Selain memperkuat jaringan ritel di AS dan Eropa, Canada Goose juga sedang mengevaluasi peluang ekspansi di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Kawasan ini dinilai memiliki potensi pertumbuhan belanja mewah yang tinggi, terutama di kalangan konsumen muda urban. Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh McKinsey & Company dan dikutip oleh Reuters, Asia Tenggara diprediksi menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat dalam konsumsi barang mewah lima tahun ke depan.

Namun, perusahaan tetap berhati-hati dalam mengelola ekspansi. Seperti disampaikan dalam laporan keuangan tahunan, fokus utama masih pada “pertumbuhan berkualitas tinggi” dan menjaga ekuitas merek. Hal ini berarti pembukaan toko baru akan dilakukan selektif, dengan mempertimbangkan lokasi, demografi konsumen, serta potensi jangka panjang. Pendekatan ini berbeda dari strategi hiper-ekspansi yang pernah digunakan beberapa pesaingnya di masa lalu, yang kemudian terbukti tidak berkelanjutan.

Peningkatan permintaan terhadap produk premium yang fungsional juga mencerminkan perubahan nilai konsumen pasca-pandemi. Ketimbang membeli barang mewah yang mencolok, banyak konsumen kini memilih produk yang menawarkan kenyamanan, ketahanan, dan nilai guna. Canada Goose, dengan produk tahan cuaca ekstrem namun tetap stylish, berada pada titik temu antara performa dan prestise. Inilah yang menurut The Wall Street Journal menjadi kekuatan utama perusahaan dalam bertahan di tengah lanskap industri yang berubah cepat.

Secara keseluruhan, hasil keuangan Canada Goose menjadi sinyal positif bagi sektor barang mewah, yang sempat diragukan daya tahannya dalam menghadapi tekanan makroekonomi. Meskipun risiko tetap ada—termasuk ketidakpastian geopolitik, inflasi yang membandel, dan tren belanja yang berubah—perusahaan ini menunjukkan bahwa merek dengan proposisi nilai yang kuat, kendali distribusi, dan eksekusi strategi yang disiplin tetap dapat tumbuh bahkan dalam kondisi yang penuh tantangan.

Sebagai simbol dari keseimbangan antara kebutuhan akan performa ekstrem dan aspirasi gaya hidup premium, Canada Goose tampaknya berhasil mempertahankan tempatnya dalam lanskap industri fesyen global. Dalam dunia di mana loyalitas konsumen cepat berubah dan kepercayaan terhadap merek menjadi komoditas langka, pertumbuhan penjualan yang melampaui ekspektasi bukan sekadar prestasi finansial, melainkan juga bukti bahwa diferensiasi yang otentik masih menjadi mata uang yang berharga di pasar global.