(Business Lounge Journal – Human Resources)
Setelah memahami bagaimana prinsip lean dapat diimplementasikan untuk meningkatkan efisiensi organisasi secara keseluruhan, kini saatnya kita melihat bagaimana prinsip yang sama dapat diterapkan secara spesifik pada masing-masing fungsi dalam bisnis. Salah satunya adalah pada fungsi Sumber Daya Manusia (SDM). (Baca juga: Meraih Efisiensi Maksimal: Pilar dan Prinsip Lean untuk Keunggulan Kompetitif.)
Penerapan lean pada HR bertujuan untuk menyederhanakan proses, mengurangi segala bentuk pemborosan, dan memastikan bahwa setiap layanan yang diberikan benar-benar membawa nilai tambah bagi organisasi maupun karyawan. Meskipun HR tidak menghasilkan produk fisik, layanan seperti rekrutmen, orientasi karyawan baru, administrasi penggajian, hingga manajemen kinerja tetap memegang peranan vital yang bisa — dan seharusnya — dioptimalkan.
Pendekatan lean membantu HR untuk memastikan bahwa setiap aktivitas tidak hanya efektif, tetapi juga efisien. Dengan mindset ini, HR secara terus-menerus mengevaluasi:
- Apakah setiap layanan memiliki alur proses yang jelas?
- Apakah proses tersebut dijalankan secara konsisten oleh semua pihak yang terlibat?
- Apakah terdapat langkah-langkah yang bisa disederhanakan, dihapus, atau diotomatisasi tanpa mengurangi kualitas layanan?
Dengan membangun HR yang lean, organisasi dapat mempercepat waktu layanan, meningkatkan pengalaman karyawan, serta mengalokasikan sumber daya dengan lebih bijak — pada akhirnya, mendorong pertumbuhan dan daya saing bisnis di tengah perubahan yang semakin cepat.
Contoh Penerapan Lean dalam Fungsi HR
Prinsip lean tidak hanya sekadar teori — ia dapat diterjemahkan ke dalam tindakan nyata di berbagai proses inti HR. Berikut beberapa contoh bagaimana lean thinking dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan HR:
-
Rekrutmen:
Proses rekrutmen seringkali tersendat hanya karena masalah koordinasi jadwal wawancara. Dengan menggunakan alat penjadwalan otomatis, kandidat dapat memilih sendiri waktu wawancara yang tersedia. Ini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga meningkatkan pengalaman kandidat dan mengurangi beban administratif tim HR. -
Onboarding:
Masa orientasi karyawan baru adalah momen penting untuk membangun kesan pertama terhadap perusahaan. Pendekatan lean mendorong pengurangan tugas-tugas administratif yang berulang, menggantinya dengan pengalaman onboarding yang cepat, jelas, dan relevan, sehingga karyawan dapat beradaptasi dan produktif lebih cepat. -
Kompensasi:
Dalam mengelola kompensasi dan tunjangan, transparansi menjadi kunci. Komunikasi yang rumit atau tidak jelas dapat membingungkan karyawan dan menciptakan ketidakpuasan. Dengan pendekatan lean, informasi terkait gaji, bonus, serta manfaat lain dibuat lebih sederhana, mudah diakses, dan disampaikan secara terbuka. -
Manajemen Kinerja:
Proses evaluasi kinerja tradisional seringkali memakan waktu lama, penuh dokumen, namun kurang berdampak nyata. Lean HR mendorong pengurangan tahapan pelaporan yang panjang, berfokus pada pemberian umpan balik yang konkret, cepat, dan berkelanjutan — mempercepat pengembangan karyawan dan peningkatan kinerja tim.
Dengan mengadopsi prinsip-prinsip ini, HR tidak hanya menjadi lebih responsif, tetapi juga lebih strategis dalam mendukung tujuan bisnis secara keseluruhan.
Contoh Pemborosan dalam HR yang Bisa Dihilangkan
Dalam menerapkan Lean HR, langkah penting yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai bentuk pemborosan (waste) yang sering terjadi dalam proses HR. Pemborosan ini bukan hanya memperlambat kerja, tetapi juga menguras sumber daya tanpa memberikan nilai tambah bagi organisasi maupun karyawan. Berikut beberapa contoh umum pemborosan dalam fungsi HR yang dapat segera dihilangkan:
-
Inventaris:
Penyimpanan data karyawan lama yang sudah tidak relevan, tumpukan dokumen cetak yang jarang atau bahkan tidak pernah digunakan lagi, adalah bentuk inventaris berlebih. Digitalisasi yang terkelola dengan baik dapat membantu HR mengurangi beban ini dan memastikan hanya data penting yang tetap dipertahankan. -
Menunggu:
Penundaan akibat menunggu persetujuan atasan, keputusan dari manajemen, atau informasi dari pihak terkait sering kali memperlambat alur kerja HR. Dengan menyederhanakan jalur persetujuan dan meningkatkan kolaborasi real-time, waktu tunggu ini dapat diminimalkan. -
Proses Berlebihan:
Input ulang data, pembuatan laporan berulang yang jarang dibaca, hingga lapisan persetujuan yang tidak benar-benar diperlukan adalah contoh proses berlebihan. Lean HR mendorong standarisasi dan otomatisasi untuk menghilangkan kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah. -
Gerakan:
Baik perpindahan fisik seperti mencari dokumen di berbagai lokasi, maupun perpindahan digital seperti mencari file di banyak folder atau sistem yang tidak terintegrasi, termasuk dalam kategori gerakan yang tidak efisien. Solusinya adalah pengelolaan arsip dan sistem informasi HR yang lebih terstruktur. -
Transportasi:
Distribusi dokumen fisik, pengiriman email dengan banyak lampiran yang sulit dilacak, atau penggunaan media komunikasi yang tidak efektif dapat menyebabkan pemborosan. Dengan mengadopsi sistem berbagi dokumen yang terpusat dan sederhana, proses transportasi ini dapat diminimalisasi. -
Bakat Tidak Dimanfaatkan:
Ketika karyawan tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan ide, terlibat dalam perbaikan proses, atau mengembangkan keterampilan mereka, maka potensi besar organisasi menjadi terbuang. HR perlu menciptakan ruang bagi inovasi, kolaborasi, dan pengembangan diri. -
Ketidaksesuaian/ Kekeliruan proses:
Kesalahan dalam entri data, ketidakakuratan dalam administrasi, atau kesalahan dalam proses rekrutmen yang akhirnya menyebabkan turnover tinggi adalah contoh kerugian nyata. Lean HR menekankan pentingnya membangun sistem yang akurat dan memperbaiki kesalahan di sumbernya (root cause). -
Overproduksi:
Membuat laporan-laporan berlebih, mengumpulkan informasi yang tidak pernah digunakan untuk pengambilan keputusan, atau membuat program HR yang tidak mendapat sambutan dari karyawan adalah bentuk overproduksi. Fokus harus diberikan pada kebutuhan nyata yang terukur dan berdampak.
Dengan mengidentifikasi dan menghilangkan sumber-sumber pemborosan ini, fungsi HR dapat menjadi lebih lincah (agile), strategis, dan berfokus pada apa yang benar-benar penting untuk pertumbuhan organisasi.
Manfaat Lean HR
Mengadopsi prinsip Lean HR membawa berbagai manfaat nyata, tidak hanya bagi fungsi SDM itu sendiri, tetapi juga bagi seluruh organisasi. Berikut adalah beberapa manfaat utama yang bisa dirasakan:
-
Pengalaman Karyawan yang Lebih Baik:
Proses yang ramping dan jelas membuat interaksi karyawan dengan HR menjadi lebih sederhana, cepat, dan menyenangkan. Ini meningkatkan kepuasan karyawan, mempercepat adaptasi karyawan baru, dan memperkuat hubungan positif antara karyawan dan perusahaan. -
Efisiensi Meningkat:
Dengan fokus pada aktivitas yang benar-benar bernilai, HR dapat menggunakan sumber daya—termasuk waktu, tenaga, dan anggaran—dengan lebih bijaksana. Proses yang lebih efisien menunjukkan penghargaan terhadap waktu dan kontribusi semua pihak, baik tim internal maupun karyawan. -
Penghematan Biaya:
Dalam prinsip lean, waktu adalah aset berharga. Dengan menghilangkan waktu tunggu, proses yang tidak perlu, dan langkah-langkah yang berulang, HR dapat memangkas biaya operasional secara signifikan, sekaligus meningkatkan produktivitas. -
Budaya Belajar:
Lean HR mendorong keterlibatan aktif dari seluruh karyawan dalam proses perbaikan. Ketika karyawan diberikan ruang untuk menyampaikan ide dan terlibat dalam penyempurnaan sistem, mereka merasa dihargai, lebih terlibat, dan lebih termotivasi untuk terus belajar dan berinovasi. -
Agilitas Organisasi:
Dalam lingkungan bisnis yang dinamis, kemampuan beradaptasi adalah kunci. Proses HR yang ramping memungkinkan organisasi bergerak lebih cepat dalam merespons kebutuhan bisnis, mengadopsi perubahan, dan mengimplementasikan kebijakan atau program baru dengan lebih lincah. -
Kualitas Meningkat:
Komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan menghasilkan layanan HR yang lebih akurat, responsif, dan konsisten. Hal ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan karyawan terhadap HR, tetapi juga memperkuat reputasi internal HR sebagai mitra strategis organisasi.
Dengan menerapkan Lean HR, perusahaan tidak hanya membuat fungsi SDM lebih efektif, tetapi juga menciptakan fondasi budaya kerja yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada nilai tambah.
Langkah Awal Menerapkan Lean HR
Menerapkan prinsip Lean ke dalam fungsi HR bukan berarti harus melakukan perubahan besar sekaligus. Sebaliknya, pendekatan yang efektif dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten dan berfokus pada perbaikan berkelanjutan. Berikut adalah beberapa langkah awal yang dapat dilakukan untuk memulai perjalanan Lean HR:
- Pahami Prinsip Dasar Lean:
Sebelum melakukan perubahan, penting bagi tim HR untuk memahami prinsip-prinsip inti lean, seperti fokus pada nilai, pengurangan pemborosan, alur kerja yang mengalir, dan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). - Identifikasi Proses Utama HR:
Petakan seluruh proses HR yang ada, seperti rekrutmen, onboarding, administrasi gaji, hingga pengelolaan kinerja. Dengan memahami alur kerja secara menyeluruh, tim dapat melihat di mana letak ketidakefisienan dan potensi pemborosan. - Dengarkan Suara Pengguna (Karyawan dan Manajer):
Lean berpusat pada nilai bagi pengguna akhir. Dalam konteks HR, pengguna ini adalah karyawan dan manajer. Lakukan wawancara, survei, atau diskusi terbuka untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka dan pengalaman nyata mereka terhadap layanan HR saat ini. - Identifikasi dan Hilangkan Pemborosan:
Gunakan prinsip “7+1 waste” lean untuk meninjau proses HR yang ada. Fokuskan upaya pada menghilangkan atau mengurangi pemborosan seperti menunggu, proses berlebihan, dan ketidaksesuaian data. - Mulai dari Perubahan Kecil:
Pilih satu atau dua area yang paling berdampak untuk perbaikan awal. Misalnya, mengimplementasikan sistem penjadwalan wawancara otomatis atau merampingkan proses onboarding. Perubahan kecil yang berhasil akan membangun momentum positif. - Bangun Budaya Perbaikan Berkelanjutan:
Dorong seluruh tim HR dan karyawan untuk aktif berkontribusi dalam mengidentifikasi ide-ide perbaikan. Jadikan perbaikan proses sebagai bagian dari budaya kerja, bukan sekadar proyek satu kali. - Gunakan Teknologi Secara Cerdas:
Manfaatkan alat digital dan otomasi untuk mendukung alur kerja yang lebih efisien, seperti sistem manajemen karyawan (HRIS), platform rekrutmen berbasis cloud, atau tools komunikasi internal yang terintegrasi. - Ukur, Evaluasi, dan Perbaiki:
Tetapkan indikator kinerja kunci (KPI) untuk mengukur dampak dari perubahan yang dilakukan. Evaluasi hasilnya secara berkala dan gunakan data tersebut untuk mendorong perbaikan lanjutan.
Menerapkan Model Pemecahan Masalah
Dalam perjalanan menerapkan prinsip lean dalam fungsi HR, penggunaan model pemecahan masalah yang terstruktur sangatlah penting. Model ini membantu memastikan bahwa perubahan dilakukan dengan sistematis, berbasis data, dan fokus pada hasil yang nyata. Dua pendekatan yang paling umum digunakan adalah Plan-Do-Study-Act (PDSA) dan Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC).
a. Siklus Plan-Do-Study-Act (PDSA)
Model PDSA adalah pendekatan berulang yang memungkinkan tim untuk menguji perubahan dalam skala kecil, belajar dari hasilnya, lalu mengimplementasikan perbaikan yang lebih luas berdasarkan bukti. Berikut langkah-langkahnya:
| Tahap | Apa yang Dilakukan | Contoh Praktik |
|---|---|---|
| Plan | Identifikasi masalah, tetapkan tujuan dan rencana tindakan. | Survei menunjukkan onboarding terasa membebani karyawan baru. Tim HR menetapkan tujuan meningkatkan kepuasan onboarding dari 30% ke 50% dalam satu kuartal dengan mengurangi tugas onboarding 20% melalui fase preboarding. |
| Do | Jalankan rencana aksi, kumpulkan data awal. | Implementasikan program preboarding baru dan onboarding yang lebih sederhana. Kumpulkan data melalui survei singkat karyawan baru. |
| Study | Evaluasi hasil, analisa tren, dan identifikasi hambatan. | Setelah satu kuartal, kepuasan onboarding meningkat ke 40%. Survei menunjukkan 87% karyawan merasa preboarding membantu persiapan mereka. |
| Act | Standardisasi jika berhasil, atau sesuaikan dan ulangi siklus jika perlu. | Setelah dua kuartal, tingkat kepuasan mencapai 46%. Proses ini diadopsi sebagai standar, dengan perbaikan lanjutan berdasarkan umpan balik rutin. |
Dengan PDSA, HR dapat melakukan perbaikan bertahap tanpa mengambil risiko besar, sekaligus membangun budaya belajar dan adaptasi berkelanjutan.
b. Model Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC)
DMAIC adalah metode pemecahan masalah sistematis yang berasal dari Six Sigma, namun juga sangat cocok digunakan dalam pendekatan lean. Model ini lebih detail dalam identifikasi dan analisa masalah.
| Tahap | Apa yang Dilakukan |
|---|---|
| Define | Tentukan masalah, pelanggan yang terpengaruh, ekspektasi, serta batasan dan cakupan proses. Buat peta alur proses yang jelas. |
| Measure | Kumpulkan data untuk mengukur kinerja proses saat ini dan mendeteksi ketidaksempurnaan. |
| Analyze | Analisa perbedaan antara kondisi saat ini dan target. Cari akar penyebab masalah. |
| Improve | Kembangkan dan uji solusi untuk mengatasi masalah dan mencegah kemunculan kembali. |
| Control | Dokumentasikan solusi dan buat sistem kontrol untuk memastikan perbaikan tetap berkelanjutan. |
Contoh Praktik DMAIC di HR:
Jika tingkat turnover karyawan baru tinggi, HR dapat menggunakan DMAIC untuk memetakan alur onboarding, mengukur durasi dan efektivitasnya, menganalisa titik-titik rawan kegagalan, mengembangkan program onboarding yang lebih terarah, dan mengontrol keberlanjutan dengan pengukuran berkala.
Menggunakan model seperti PDSA atau DMAIC bukan hanya soal memperbaiki masalah sesaat, melainkan membangun pola pikir sistematis dalam mengelola perubahan. Dengan pendekatan ini, HR dapat bergerak dari sekadar reaktif menjadi proaktif dalam menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan untuk organisasi.
Dalam era bisnis yang bergerak cepat, HR tidak lagi hanya berfungsi sebagai pengelola administrasi, tetapi juga sebagai mitra strategis yang mendorong pertumbuhan organisasi. Dengan menerapkan prinsip Lean HR, perusahaan dapat membangun fungsi SDM yang lebih efisien, adaptif, dan berfokus pada nilai nyata bagi karyawan maupun bisnis.
Lean bukan tentang bekerja lebih keras, tetapi tentang bekerja lebih cerdas—menghilangkan pemborosan, memperbaiki proses, dan menciptakan pengalaman yang lebih baik untuk semua pihak.
Dengan komitmen pada perbaikan berkelanjutan, HR dapat menjadi motor penggerak inovasi, produktivitas, dan keunggulan kompetitif di masa depan.
Lean HR adalah perjalanan menuju efisiensi, kolaborasi, dan pelayanan yang benar-benar bermakna. Dengan pendekatan ini, tim HR bisa menjadi penggerak perubahan yang menciptakan nilai nyata—bukan hanya untuk organisasi, tapi juga bagi setiap individu di dalamnya.

