(Business Lounge – Global News) Boeing baru saja mendapatkan kontrak besar dari Pentagon untuk mengembangkan F-47, jet tempur generasi terbaru yang diharapkan menjadi tulang punggung Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF). Kontrak ini, yang bernilai lebih dari $20 miliar, merupakan bagian dari program Next Generation Air Dominance (NGAD), yang bertujuan menggantikan armada F-22 Raptor yang sudah mulai menua.
Kontrak ini memberikan jaminan keuntungan bagi Boeing selama fase pengembangan—suatu langkah yang jarang terjadi dalam industri pertahanan AS. Dalam beberapa tahun terakhir, Boeing mengalami berbagai tantangan dalam proyek-proyek pertahanan dan komersialnya, sehingga kemenangan ini menjadi titik balik yang penting bagi perusahaan tersebut.
Menurut laporan dari Defense News, Angkatan Udara AS sedang mencari jet tempur generasi keenam yang tidak hanya memiliki teknologi siluman canggih, tetapi juga dapat beroperasi dalam konsep perang modern yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan dan drone otonom.
F-47 dirancang untuk memiliki kemampuan stealth lebih canggih dibandingkan F-22 dan F-35. Teknologi komunikasi dan sensor canggih akan dimanfaatkan untuk koordinasi dengan drone tempur. Kecepatan tinggi dan daya tahan yang lebih besar dibandingkan pendahulunya menjadi fokus utama, serta pengoperasian dalam jaringan tempur yang lebih luas dengan sistem pengambilan keputusan berbasis AI. Teknologi ini diharapkan dapat memberikan superioritas udara bagi AS di tengah meningkatnya persaingan dengan Tiongkok dan Rusia dalam perlombaan senjata global.
Menurut Wall Street Journal, yang membuat kontrak ini unik adalah jaminan keuntungan bagi Boeing selama fase pengembangan. Biasanya, perusahaan pertahanan harus menanggung risiko kelebihan biaya dan penundaan proyek, seperti yang terjadi dalam proyek Boeing KC-46 dan proyek F-35 Lockheed Martin. Dalam kontrak ini, Pentagon berkomitmen untuk memberikan margin keuntungan tetap bagi Boeing selama pengembangan F-47. Hal ini menandakan perubahan strategi pemerintah AS dalam mengelola proyek pertahanan bernilai miliaran dolar agar tetap menarik bagi produsen senjata.
Keputusan Pentagon untuk memilih Boeing mengejutkan banyak pengamat industri. Menurut laporan dari New York Post, Lockheed Martin dianggap sebagai pemimpin industri dalam teknologi pesawat tempur dengan kesuksesan F-22 dan F-35. Namun, Boeing berhasil mengamankan kontrak ini, yang menunjukkan kepercayaan Pentagon terhadap kemampuan perusahaan dalam mengembangkan jet tempur generasi mendatang. Keputusan ini juga mencerminkan strategi diversifikasi dalam industri pertahanan AS. Dengan memberi Boeing kontrak ini, Pentagon memastikan bahwa tidak hanya satu perusahaan yang mendominasi proyek jet tempur AS.
Boeing telah menghadapi berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk krisis keselamatan Boeing 737 MAX yang mengguncang kepercayaan industri penerbangan sipil, kegagalan dalam beberapa proyek pertahanan seperti tanker KC-46 yang mengalami berbagai masalah teknis, serta kehilangan sejumlah kontrak besar karena persaingan dengan Lockheed Martin dan Northrop Grumman. Namun, dengan kontrak F-47 ini, Boeing mendapatkan kesempatan untuk merevitalisasi divisi pertahanannya dan membangun kembali reputasi sebagai pemimpin dalam teknologi pesawat tempur. Menurut laporan dari Business Insider, program ini diharapkan menjadi katalis bagi inovasi teknologi di dalam Boeing dan mendorong pemulihan finansialnya.
Pengembangan F-47 bukan hanya sekadar proyek pertahanan, tetapi juga bagian dari strategi militer AS dalam menghadapi ancaman global yang semakin kompleks. Menurut laporan dari Defense News, F-47 akan memainkan peran kunci dalam konsep perang jaringan (network-centric warfare), di mana pesawat tempur tidak lagi beroperasi secara individu, melainkan dalam ekosistem yang saling terhubung dengan drone dan sistem AI. Hal ini penting dalam menghadapi perkembangan teknologi militer Tiongkok, yang saat ini sedang mengembangkan pesawat tempur generasi keenamnya sendiri, J-XX. AS ingin memastikan bahwa mereka tetap memegang kendali dalam perlombaan teknologi udara dengan mengembangkan jet tempur yang lebih maju.
Meskipun proyek ini menjanjikan, ada beberapa tantangan yang harus diatasi. Dengan harga yang diperkirakan akan melampaui $20 miliar, pengembangan F-47 akan menjadi salah satu proyek pertahanan termahal dalam sejarah. Kemampuan Pentagon untuk mengontrol anggaran akan menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program ini. Integrasi kecerdasan buatan dan drone dalam operasi militer masih merupakan tantangan teknis yang signifikan. Tiongkok dan Rusia juga sedang mengembangkan jet tempur generasi keenam, sehingga AS harus bergerak cepat untuk memastikan keunggulan teknologi.
Kontrak F-47 menjadi langkah besar bagi Boeing dan industri pertahanan AS. Dengan jaminan keuntungan dalam fase pengembangan, proyek ini memberikan kesempatan bagi Boeing untuk bangkit dari tantangan yang dihadapinya dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, keputusan Pentagon untuk memilih Boeing menunjukkan strategi diversifikasi yang bertujuan memastikan bahwa industri pertahanan AS tidak didominasi oleh satu perusahaan saja. Dengan tantangan besar di depan, termasuk biaya pengembangan yang tinggi dan persaingan global yang semakin ketat, proyek F-47 akan menjadi ujian penting bagi Boeing dan kebijakan pertahanan AS dalam beberapa dekade mendatang.

