(Business Lounge Journal – Medicine)
Amerika kini mulai menggunakan terapi antibodi monoklonal di semua rumah sakitnya. Terapi ini dibuat oleh dua perusahaan farmasi yaitu Regeneron dan satu lagi oleh Eli Lilly. Pengobatan diberikan secara intravena dan telah terbukti mengurangi gejala COVID-19. Pada November 2020 kemarin, Food and Drug Administration (FDA) telah memberikan ijin atas penggunaan terapi ini dan terapi ini mencuat setelah digunakan oleh mantan presiden Trump pada Oktober tahun yang lalu ketika ia terkena COVID-19. Saat itu obat ini masih dalam tahap eksperimental.
Soerang direktur medis di UGD di Blue Diamond, Las Vegas yaitu Dr. Patrick Olivieri mengatakan bahwa satu dari 10 orang pasien yang beresiko tinggi yang ditangani dengan terapi ini dapat dicegah untuk tidak dirawat di rumah sakit. Terapi ini dapat mengurangi rawat inap di rumah sakit dan bahkan kematian yang terkait dengan COVID-19.
“Orang-orang yang paling diuntungkan dari terapi antibodi monoklonal ini adalah pasien berisiko tinggi di atas 65 tahun, pasien diabetes, pasien yang kelebihan berat badan, memiliki indeks massa tubuh tinggi di atas 35, dan beberapa kualifikasi lain seperti orang dengan penyakit pernapasan atau penyakit jantung, ” demikian jelas dr. Olivieri.
Ia juga mengatakan bahwa dua buah rumah sakit di Las Vegas yaitu rumah sakit Spring Valley dan Blue Diamond telah melakukan pekerjaan yang baik dengan menerapkan protokol kesehatan. Sehingga terapi antibodi monoklonal ini tidak hanya digunakan dengan aman tapi juga tidak ada reaksi buruk dan tidak ada satu pun pasien beresiko tinggi dengan komorbiditas yang akhirnya harus dirawat ke rumah sakit.
Antibodi monoklonal bekerja dengan cara mengambil salah satu sel limfosit B i dan mengkloningnya sehingga mulai memproduksi dalam jumlah besar antibodi dalam tubuh seseorang terhadap komponen virus yang sangat spesifik. Keuntungan terapi antibodi monoklonal ini adalah sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi jangka panjang. Walaupun respons imun terhadap antigen tertentu bisa saja tidak memadai.
Di Indonesia sendiri baru-baru ini juga telah mengeluarkan ijin atas penggunaan antibodi monoklonal Regkirona TM yang merupakan produk dari perusahaan farmasi di Korea dan mulai digunakan untuk pasien-pasien yang beresiko tinggi. Telah diuji bahwa antibodi monoklonal Regkirona TM ini menunjukkan efektivitas terhadap varian Delta, Beta, Gamma.
Bukan hanya pasien yang memiliki penyakit diabetes dan sakit jantung atau pernafasan saja, tetapi mereka yang memiliki penyakit autoimun, pasien HIV, pasien kanker, dan penerima transplantasi organ juga dapat menggunakan terapi antibodi monoklonal ketika terpapar Covid-19. Semua pasien yang beresiko tinggi diharapkan tidak akan mengalami keparahan bahkan tidak perlu dirawat di Rumah Sakit. Sebuah harapan baru yang membuat kematian karena COVID-19 tidak lagi menakutkan.

