(Business Lounge Journal – Tech) Amazon memperluas eksplorasinya di bidang kecerdasan buatan (AI) dengan menggandeng startup teknologi TBC untuk mengembangkan model AI yang memanfaatkan prinsip kerja neuron manusia. Teknologi tersebut ditujukan untuk membuat pemrosesan AI lebih cepat sekaligus menekan biaya komputasi yang terus meningkat seiring melonjaknya penggunaan model generatif.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan teknologi besar untuk mencari pendekatan baru di tengah kebutuhan akan daya komputasi yang semakin besar. Model AI generatif, khususnya yang mampu menghasilkan video, membutuhkan sumber daya komputasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi AI berbasis teks.
TBC tengah mengembangkan model AI baru yang dirancang menggunakan pendekatan yang terinspirasi oleh cara kerja otak manusia. Startup tersebut mengklaim teknologi ini dapat meningkatkan kecepatan pembuatan video hingga lima kali lipat.
Pendekatan berbasis neuron tersebut berbeda dari pola komputasi AI konvensional yang umumnya sangat bergantung pada pemrosesan dalam jumlah besar melalui GPU dan infrastruktur pusat data. Dengan meniru karakteristik tertentu dari jaringan saraf biologis, teknologi ini diharapkan dapat menjalankan tugas AI dengan penggunaan energi dan sumber daya yang lebih efisien.
Bagi Amazon, efisiensi menjadi isu strategis. Perusahaan telah menggelontorkan investasi besar untuk membangun infrastruktur cloud dan AI melalui Amazon Web Services (AWS). Permintaan pelanggan terhadap layanan AI membuat kebutuhan akan chip, pusat data, listrik, dan kapasitas komputasi terus meningkat.
Jika teknologi TBC mampu memangkas kebutuhan komputasi secara signifikan, penerapannya berpotensi membantu menurunkan biaya operasional untuk sejumlah layanan AI. Keuntungan lainnya adalah kemampuan menjalankan model AI dengan latensi lebih rendah, terutama untuk aplikasi yang membutuhkan respons cepat.
Generasi video menjadi salah satu area yang paling membutuhkan terobosan tersebut. Model text-to-video dan image-to-video harus memproses data dalam jumlah besar untuk menghasilkan rangkaian gambar yang membentuk sebuah video. Semakin tinggi resolusi, durasi, dan kompleksitas video, semakin besar pula beban komputasinya.
Peningkatan kecepatan hingga lima kali lipat dapat mengubah pengalaman pengguna sekaligus ekonomi di balik layanan tersebut. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama dapat dipangkas, sementara perusahaan penyedia layanan AI berpotensi menangani lebih banyak permintaan dengan kapasitas infrastruktur yang sama.
Teknologi yang dikembangkan TBC juga menunjukkan semakin luasnya pencarian alternatif terhadap arsitektur AI saat ini. Industri tidak hanya berlomba membuat model yang lebih besar, tetapi juga mencari cara agar model tersebut dapat bekerja lebih efisien.
Meski demikian, teknologi yang terinspirasi oleh neuron manusia masih harus membuktikan keandalannya ketika diterapkan pada skala komersial. Kecepatan pemrosesan hanyalah salah satu faktor. Akurasi, kualitas output, konsumsi energi, kompatibilitas dengan infrastruktur yang sudah ada, serta biaya implementasi akan menentukan seberapa jauh teknologi tersebut dapat digunakan.
Bagi Amazon, kerja sama dengan TBC memberikan jalur tambahan untuk mengeksplorasi generasi baru komputasi AI. Jika pendekatan tersebut berhasil diterapkan secara luas, persaingan AI ke depan bukan hanya soal siapa yang memiliki model paling canggih, tetapi juga siapa yang mampu menjalankannya dengan lebih cepat, hemat energi, dan ekonomis.

