(Business Lounge – Global News) Boeing mengambil langkah besar untuk merombak portofolio bisnisnya dengan mengalihkan tiga anak usaha teknologi penerbangan kepada Archer Aviation, perusahaan California yang mengembangkan pesawat listrik lepas landas dan mendarat vertikal atau eVTOL. Aset yang dialihkan mencakup Wisk Aero, SkyGrid dan Insitu. Sebagai imbalannya, Boeing akan memperoleh sekitar 19,75% saham Archer, mendapatkan kursi di dewan direksi dan tetap memiliki akses terhadap teknologi penerbangan otonom Wisk. The Wall Street Journal melihat transaksi ini sebagai bagian dari strategi CEO Boeing Kelly Ortberg untuk mengurangi bisnis noninti dan memusatkan perhatian perusahaan pada operasi penerbangan utamanya.
Transaksi tersebut menarik karena Boeing tidak benar-benar keluar dari teknologi yang selama ini dikembangkan Wisk. Perusahaan justru memindahkan pengembangan dan komersialisasinya ke Archer sambil mempertahankan hak penggunaan teknologi otonom untuk pesawat Boeing saat ini maupun generasi mendatang. Struktur itu membuat kesepakatan lebih menyerupai reposisi aset daripada penjualan biasa. Boeing melepaskan kepemilikan langsung atas bisnis-bisnis tersebut, tetapi tetap memperoleh kepentingan ekonomi dalam Archer sekaligus menjaga akses terhadap teknologi yang berpotensi penting bagi masa depan penerbangan. Archer Aviation menyebut struktur tersebut sebagai upaya membangun platform teknologi yang menghubungkan penerbangan listrik, otonomi, kecerdasan buatan dan sistem pertahanan.
Wisk menjadi aset paling mudah dikaitkan dengan transaksi ini karena perusahaan tersebut sejak awal dikembangkan untuk membangun taksi udara tanpa pilot. Boeing telah menginvestasikan sekitar US$450 juta ke Wisk dan perusahaan tersebut telah mengembangkan enam generasi pesawat eVTOL. Wisk membawa pengalaman dalam sistem penerbangan otonom dan teknologi elektrifikasi yang dapat melengkapi pengembangan Archer. FlightGlobal mencatat bahwa pengalihan Wisk memberikan Archer akses terhadap teknologi penerbangan otonom dan sistem penggerak listrik, sehingga perusahaan California itu memperoleh kemampuan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan secara mandiri.
Namun, nilai transaksi sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar bisnis taksi udara. Insitu, salah satu perusahaan yang ikut dialihkan, memiliki bisnis kendaraan udara tanpa awak untuk sektor pertahanan. Perusahaan tersebut telah beroperasi di 35 negara dan menghasilkan pendapatan lebih dari US$200 juta per tahun. Bagi Archer, aset tersebut memberikan sumber pendapatan yang lebih konkret dibandingkan bisnis eVTOL yang masih berada dalam tahap pengembangan dan sertifikasi. Archer Aviation menyatakan bahwa akuisisi ini akan membawa bisnis pertahanan yang sudah menghasilkan pendapatan sekaligus memperluas eksposur perusahaan dari mobilitas udara perkotaan menuju teknologi pertahanan dan sistem tanpa awak.
Masuknya Insitu juga mengubah profil Archer secara signifikan. Selama ini perusahaan tersebut lebih banyak dikenal sebagai salah satu pesaing dalam perlombaan membangun taksi udara listrik bersama perusahaan seperti Joby Aviation dan Beta Technologies. Setelah transaksi, Archer tidak lagi hanya bertaruh pada satu produk yang belum masuk operasi komersial secara luas. Insitu dapat menyediakan bisnis yang sudah berjalan, sementara Wisk membawa teknologi otonom dan SkyGrid memberikan perangkat lunak untuk pengelolaan lalu lintas udara. Axios menilai kombinasi tersebut memberikan Archer jalur pertumbuhan yang lebih cepat karena perusahaan memperoleh bisnis pertahanan dan teknologi penerbangan yang dapat digunakan jauh di luar pasar taksi udara.
SkyGrid mungkin menjadi aset yang paling tidak terlihat oleh konsumen, tetapi perannya sangat penting untuk masa depan penerbangan otonom. Perusahaan tersebut mengembangkan teknologi pengelolaan lalu lintas udara untuk pesawat tanpa awak dan sistem penerbangan generasi baru. Ketika jumlah drone, kendaraan otonom dan eVTOL meningkat, ruang udara membutuhkan sistem yang dapat mengatur posisi, rute dan komunikasi berbagai kendaraan secara bersamaan. Dokumen konsep operasi SkyGrid menjelaskan visi untuk mengintegrasikan taksi udara, drone pengiriman dan pesawat kargo otonom ke dalam sistem ruang udara yang semakin terdigitalisasi.
Dengan demikian, transaksi Boeing dan Archer dapat dipandang sebagai penggabungan tiga lapisan teknologi. Wisk menyediakan kendaraan dan kemampuan otonom, SkyGrid menyediakan perangkat lunak serta infrastruktur digital untuk mengelola penerbangan, sementara Insitu membawa pengalaman operasional dalam kendaraan udara tanpa awak dan bisnis pertahanan. Commercial UAV News menilai kombinasi tersebut menciptakan portofolio yang jauh lebih luas bagi Archer daripada bisnis eVTOL semata. Perusahaan kini memperoleh teknologi dan pengalaman yang mencakup kendaraan, sistem pengelolaan ruang udara serta aplikasi pertahanan.
Kesepakatan tersebut juga memperlihatkan perubahan strategi Boeing. Selama beberapa tahun, perusahaan raksasa dirgantara itu berusaha membangun posisi dalam berbagai teknologi penerbangan masa depan, termasuk taksi udara listrik dan sistem otonom. Namun, tekanan untuk memperkuat bisnis utama membuat Boeing harus lebih selektif dalam mengalokasikan modal. The Wall Street Journal mengaitkan divestasi ini dengan agenda Ortberg untuk menyederhanakan perusahaan dan memusatkan sumber daya pada bisnis inti. Dengan menerima saham Archer sebagai pembayaran, Boeing tetap memiliki peluang memperoleh keuntungan jika teknologi yang dialihkan berkembang menjadi bisnis besar tanpa harus menanggung seluruh biaya pengembangannya sendiri.
Bagi Archer, keuntungan lainnya berasal dari hubungan yang sudah pernah dibangun dengan Boeing dan Wisk. Kedua perusahaan sebelumnya terlibat dalam sengketa hukum mengenai teknologi, yang kemudian diselesaikan pada 2023 melalui kesepakatan teknologi dan penyelesaian perselisihan. Archer dan Wisk kemudian membangun hubungan yang lebih kooperatif, termasuk kerja sama mengenai teknologi penerbangan otonom. Laporan tahunan Archer mencatat bahwa kesepakatan 2023 tersebut menjadi dasar penting bagi hubungan teknologi antara Archer, Boeing dan Wisk. Transaksi terbaru memperluas hubungan tersebut dari kerja sama teknologi menjadi kepemilikan bisnis yang jauh lebih terintegrasi.
Harga transaksi dalam bentuk saham juga memiliki arti strategis bagi kedua pihak. Boeing tidak menerima pembayaran tunai, melainkan memperoleh 19,75% saham Archer. Dengan struktur tersebut, nilai yang diterima Boeing akan mengikuti perkembangan nilai Archer setelah transaksi. Jika Archer berhasil mengkomersialkan eVTOL, mengembangkan bisnis pertahanan dan memanfaatkan teknologi otonom secara luas, Boeing dapat memperoleh manfaat dari kenaikan nilai perusahaan tersebut. Sebaliknya, Boeing juga mengambil risiko karena nilai saham yang diterimanya dapat berfluktuasi. TradingView melaporkan struktur transaksi tersebut sebagai pertukaran aset Boeing dengan kepemilikan saham Archer dan tambahan instrumen terkait.
Archer sendiri menghadapi tantangan besar meskipun mendapatkan aset baru. Industri eVTOL masih membutuhkan sertifikasi regulator, infrastruktur seperti vertiport, sistem pengelolaan lalu lintas udara serta penerimaan masyarakat. Pesawat listrik yang mampu terbang secara komersial bukan sekadar persoalan membuat prototipe, tetapi membutuhkan standar keselamatan yang sangat tinggi sebelum membawa penumpang. Kajian mengenai taksi udara juga menunjukkan bahwa pengembangan layanan tersebut membutuhkan penyelesaian berbagai persoalan mulai dari desain jaringan, pencocokan permintaan, penjadwalan hingga pelatihan dan regulasi.
Karena itu, masuknya bisnis Insitu dan SkyGrid dapat menjadi penyangga penting bagi Archer ketika pasar taksi udara belum menghasilkan pendapatan dalam skala besar. Insitu sudah memiliki pelanggan dan operasi nyata, sementara SkyGrid berada di wilayah teknologi yang akan semakin dibutuhkan jika penerbangan otonom berkembang. Electrive mencatat bahwa akuisisi tersebut memperluas Archer ke teknologi penerbangan otonom, manajemen lalu lintas udara dan sistem tanpa awak. Perubahan itu membuat perusahaan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada keberhasilan satu kategori pesawat.
Boeing juga mempertahankan kepentingan strategisnya dalam teknologi Wisk. Dengan tetap memiliki akses terhadap teknologi penerbangan otonom, Boeing dapat memanfaatkan hasil pengembangan tersebut untuk program pesawat masa depan tanpa harus mempertahankan seluruh struktur organisasi Wisk di dalam perusahaan. Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara perusahaan besar dirgantara mengelola inovasi: teknologi yang dianggap penting tetap dipertahankan aksesnya, sementara biaya dan risiko membangun bisnis baru dapat dipindahkan kepada perusahaan yang lebih fokus dan lebih kecil. The Wall Street Journal melihat pola tersebut sebagai bagian dari upaya Boeing mengurangi kompleksitas dan memperkuat fokus terhadap bisnis utamanya.
Bagi industri penerbangan, kesepakatan ini memberikan sinyal bahwa batas antara penerbangan komersial, pertahanan, drone dan kecerdasan buatan semakin kabur. Teknologi otonom yang awalnya dikembangkan untuk taksi udara dapat digunakan dalam sistem pertahanan, sementara perangkat lunak pengelolaan ruang udara dapat menjadi infrastruktur untuk berbagai jenis kendaraan. Archer Aviation bahkan menggambarkan transaksi tersebut sebagai pembentukan platform physical AI untuk sektor kedirgantaraan dan pertahanan. Konsep itu menunjukkan bahwa nilai masa depan tidak hanya berada pada pesawat, tetapi juga pada perangkat lunak, data, otonomi dan kemampuan mengintegrasikan berbagai sistem dalam satu ekosistem.
Kesepakatan yang diperkirakan selesai pada akhir 2026 tersebut akhirnya memperlihatkan perubahan posisi kedua perusahaan. Boeing mengurangi kepemilikan langsung atas tiga bisnis teknologi yang bukan inti operasi manufakturnya, tetapi tetap mendapatkan saham hampir 20% di perusahaan yang mengambil alihnya. Archer memperoleh Wisk, Insitu dan SkyGrid sekaligus mendapatkan Boeing sebagai pemegang saham besar dan mitra strategis. FlightGlobal melihat transaksi ini sebagai langkah yang memberikan Archer akses terhadap teknologi dan pengalaman yang dapat mempercepat ekspansinya ke penerbangan otonom, kendaraan tanpa awak dan sistem pertahanan.
Yang menentukan keberhasilan transaksi bukan lagi sekadar apakah taksi udara dapat terbang. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah Archer mampu mengubah kumpulan teknologi tersebut menjadi bisnis yang saling memperkuat. Wisk dapat mempercepat otonomi, SkyGrid dapat menyediakan lapisan digital, dan Insitu memberikan pendapatan pertahanan yang sudah berjalan. Sementara itu, Boeing memperoleh posisi strategis tanpa harus menjalankan ketiga bisnis tersebut secara langsung. Jika integrasi berhasil, transaksi ini dapat menjadi contoh bagaimana perusahaan besar melepaskan bisnis noninti tanpa benar-benar kehilangan akses terhadap teknologi masa depan. Jika tidak, Archer justru akan menghadapi tantangan mengelola portofolio yang jauh lebih kompleks daripada bisnis eVTOL yang selama ini menjadi identitasnya.

