(Business Lounge – Global News) Wacana megadeal senilai sekitar US$100 miliar antara OpenAI dan Nvidia kini masuk lemari pendingin. Di balik optimisme pasar teknologi global, CEO Nvidia Jensen Huang disebut secara pribadi mengecilkan peluang bahwa kesepakatan raksasa tersebut akan difinalisasi sesuai rencana awal. Cerita ini segera menyebar di kalangan investor, analis, dan pelaku industri AI yang selama ini melihat OpenAI dan Nvidia sebagai duet paling berpengaruh dalam ledakan kecerdasan buatan.
Menurut berbagai laporan media internasional, komunikasi antara kedua perusahaan sebenarnya masih berjalan intens. Namun bentuknya berubah. Alih-alih kesepakatan strategis berskala masif, relasi OpenAI dan Nvidia kini lebih diposisikan sebagai kolaborasi erat tanpa ikatan megadeal. The Wall Street Journal menulis bahwa Huang menilai struktur kesepakatan awal terlalu kompleks dan sarat risiko di tengah perubahan cepat lanskap industri chip dan AI.
Nvidia sedang berada di puncak dominasinya. GPU perusahaan ini menjadi tulang punggung pelatihan model AI generatif, dari ChatGPT hingga sistem kecerdasan buatan milik raksasa teknologi lain. Permintaan yang melonjak membuat Nvidia berada dalam posisi tawar yang sangat kuat. Dalam situasi seperti itu, keterikatan eksklusif dengan satu pemain besar justru dipandang berpotensi membatasi ruang manuver. Bloomberg mencatat bahwa Nvidia semakin berhati-hati menjaga jarak yang seimbang dengan seluruh ekosistem AI.
Di sisi OpenAI, cerita yang berkembang tak kalah rumit. Perusahaan ini menghadapi kebutuhan komputasi yang terus membengkak seiring skala model yang kian besar dan kompleks. Nvidia adalah mitra alami, baik dari sisi teknologi maupun reputasi. Namun ketergantungan terlalu dalam pada satu pemasok chip juga memunculkan kerentanan. Financial Times melaporkan bahwa OpenAI mulai memperluas opsi, termasuk menjajaki chip alternatif dan memperdalam kerja sama dengan berbagai penyedia cloud.
Aspek regulator ikut membentuk suasana. Pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa sedang menajamkan pengawasan terhadap konsolidasi di sektor teknologi tinggi. Kesepakatan senilai ratusan miliar dolar antara pemain AI terdepan dan produsen chip dominan mudah memicu pertanyaan soal persaingan usaha dan akses pasar. Reuters menyebut diskusi internal Nvidia turut mempertimbangkan potensi reaksi regulator jika megadeal itu dilanjutkan tanpa penyesuaian signifikan.
Walau kesepakatan besar ditunda, hubungan kerja OpenAI dan Nvidia tetap dekat. GPU Nvidia masih menjadi fondasi utama pelatihan model OpenAI, sementara OpenAI berfungsi sebagai etalase paling bergengsi bagi performa chip Nvidia. Jensen Huang sendiri beberapa kali menekankan bahwa kemitraan teknologi tidak selalu harus diwujudkan lewat kesepakatan akuisisi atau investasi raksasa. CNBC mengutip pandangan Huang bahwa kolaborasi fleksibel sering kali lebih efektif dibanding struktur deal yang kaku.
Pasar membaca sinyal ini sebagai penyesuaian ekspektasi, bukan pertanda keretakan. Saham Nvidia tetap mencerminkan keyakinan investor bahwa permintaan AI global belum kehilangan tenaga. OpenAI pun masih berada dalam orbit strategis Microsoft, yang telah menanamkan investasi besar dan menyediakan infrastruktur komputasi melalui Azure. The New York Times menilai pembekuan megadeal justru memberi OpenAI ruang untuk menata ulang prioritas bisnisnya.
Kisah ini juga memperlihatkan fase baru industri AI. Gelombang awal ditandai euforia, valuasi fantastis, dan rencana kolaborasi kolosal. Kini, pertimbangan biaya energi, ketersediaan chip, geopolitik, dan regulasi semakin mendominasi ruang rapat. The Economist menggambarkan situasi ini sebagai momen penyeimbangan, ketika ambisi besar bertemu realitas operasional.
Mega deal OpenAI dan Nvidia mungkin tidak akan muncul dalam bentuk yang sempat ramai dibicarakan. Namun absennya kesepakatan raksasa tidak otomatis mengurangi kekuatan relasi keduanya. Pola kerja sama yang lebih cair dan pragmatis justru mencerminkan arah baru industri AI, di mana kecepatan beradaptasi dan kebebasan bermanuver sering kali lebih berharga dibanding angka seratus miliar dolar di atas kertas.

