(Business Lounge – Global News) Kinerja keuangan terbaru Netflix kembali menegaskan satu hal penting meski masih menjadi raja streaming global, laju pertumbuhannya tidak lagi secepat dulu, dan biaya untuk mempertahankan dominasi itu semakin mahal. Laporan keuangan terbaru menunjukkan pendapatan yang masih naik, jumlah pelanggan yang tetap bertambah, tetapi dengan kecepatan yang melambat dan tekanan biaya konten yang kian terasa. Di sinilah mulai terlihat alasan mengapa kerja sama, bahkan konsolidasi dengan pemain besar seperti Warner Bros. Discovery, menjadi semakin relevan.
Netflix memang masih berada di puncak industri. Basis pelanggannya melampaui para pesaing, kontennya mendominasi percakapan global, dan algoritmanya tetap menjadi standar emas industri. Namun di balik angka-angka yang terlihat solid, ada perubahan struktural yang mulai mengkhawatirkan. Pertumbuhan pelanggan di pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa semakin jenuh, sementara ekspansi di pasar berkembang membutuhkan investasi besar dengan margin yang lebih tipis.
Menurut Bloomberg, biaya produksi konten Netflix terus meningkat seiring tuntutan kualitas dan persaingan ketat. Untuk mempertahankan minat pelanggan, Netflix harus terus menghadirkan serial dan film beranggaran besar, dari drama prestisius hingga tontonan global yang bisa menjadi fenomena lintas negara. Model ini efektif, tetapi mahal. Di sisi lain, kenaikan harga langganan tidak bisa dilakukan terus-menerus tanpa risiko kehilangan pelanggan.
Di titik inilah posisi Warner Bros. Discovery menjadi menarik. Perusahaan ini memiliki katalog konten yang sangat kuat, mulai dari film blockbuster Warner Bros., serial HBO, hingga pustaka IP legendaris seperti DC. Bagi Netflix, akses terhadap portofolio konten sebesar itu akan menjadi jalan pintas untuk memperkuat daya tarik tanpa harus menanggung seluruh biaya produksi dari nol. Menurut The Wall Street Journal, industri streaming kini mulai bergerak dari fase ekspansi agresif ke fase konsolidasi dan efisiensi, di mana skala dan kepemilikan konten menjadi kunci.
Dari sisi Warner, kerja sama atau integrasi dengan Netflix juga masuk akal. Meski memiliki konten kuat, Warner Bros. Discovery masih bergulat dengan beban utang besar dan profitabilitas yang belum stabil. Platform streaming mereka, Max, memang berkembang, tetapi belum mampu menyaingi jangkauan global Netflix. Kolaborasi dengan pemain dominan bisa membuka akses ke audiens yang lebih luas sekaligus membantu monetisasi konten secara lebih optimal.
Analis dari Financial Times menilai bahwa industri streaming kini memasuki fase dewasa. Era “bakar uang” demi mengejar pelanggan sudah berakhir. Investor kini menuntut profitabilitas, arus kas positif, dan efisiensi operasional. Dalam konteks ini, Netflix membutuhkan cara untuk mempertahankan pertumbuhan tanpa terus menaikkan belanja konten secara agresif. Menggandeng atau bahkan mengakuisisi pemain dengan pustaka konten besar menjadi salah satu opsi strategis yang masuk akal.
Tekanan juga datang dari perubahan perilaku konsumen. Banyak pelanggan kini lebih selektif, sering berpindah platform sesuai tayangan favorit, dan tidak segan menghentikan langganan jika merasa tidak ada konten menarik. Fenomena “churn” ini membuat perang konten semakin mahal. Netflix, yang dulu diuntungkan oleh minimnya pesaing, kini harus bersaing langsung dengan Disney, Amazon, Apple, hingga platform regional yang semakin kuat.
Dalam laporan terbarunya, manajemen Netflix mengakui bahwa pertumbuhan ke depan tidak akan semudah satu dekade lalu. Fokus perusahaan kini bergeser dari sekadar menambah pelanggan menjadi meningkatkan nilai per pelanggan, termasuk lewat iklan, paket berbiaya lebih rendah, dan optimalisasi katalog lama. Namun, strategi ini tetap membutuhkan konten yang kuat dan konsisten, sesuatu yang bisa diperkuat melalui kerja sama dengan studio besar seperti Warner.
Meski belum ada sinyal resmi soal merger atau akuisisi, pasar membaca arah angin dengan jelas. Konsolidasi tampaknya bukan lagi pertanyaan “jika”, melainkan “kapan”. Industri hiburan bergerak menuju struktur yang lebih terkonsentrasi, di mana hanya pemain dengan skala besar, konten kuat, dan neraca sehat yang mampu bertahan.
Bagi Netflix, dominasi saat ini bukan jaminan masa depan. Pertumbuhan yang melambat dan biaya yang terus naik membuat perusahaan harus lebih strategis dalam memilih langkah berikutnya. Dalam konteks inilah Warner terlihat bukan sekadar mitra potensial, tetapi bagian dari solusi untuk menjaga relevansi dan daya saing di era streaming yang semakin mahal dan kompetitif.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin lanskap hiburan global beberapa tahun ke depan akan jauh lebih terkonsolidasi daripada hari ini. Dan ketika itu terjadi, keputusan Netflix dalam membaca arah industri—termasuk kedekatannya dengan Warner—akan menjadi penentu apakah ia tetap menjadi raja, atau sekadar salah satu pemain besar di tengah arena yang semakin padat.

