(Business Lounge Journal – News and Insight)
Di awal 2020–2022, Mark Zuckerberg bertaruh pada sebuah mimpi besar: metaverse — dunia virtual tempat orang bekerja, bermain, dan bersosialisasi tanpa batas ruang. Meta sampai mengganti nama perusahaan, mengubah narasi, dan menggelontorkan dana seakan-akan sedang membangun kota masa depan. Hasilnya? Sebuah “ghost town” senilai USD 70 miliar, dengan pengguna yang minim dan biaya operasional yang terus menggunung.
Kini, diam-diam Meta mulai meredupkan lampu di sebagian wilayah metaverse. Bloomberg News melaporkan bahwa perusahaan mempertimbangkan memangkas belanja metaverse hingga 30% pada 2026, termasuk pemotongan pada Horizon Worlds, divisi Quest VR, dan unit Reality Labs yang selama ini menjadi penyedot dana terbesar. Bahkan PHK diperkirakan terjadi sedini Januari.
Investor?
Mereka menyambut kabar ini dengan gembira. Harga saham Meta naik sekitar 4%, seolah pasar akhirnya melihat Zuckerberg kembali menjejak bumi.
Tiga Tahun, USD 60+ Miliar Kerugian: Metaverse Tidak Berhasil Jadi Kenyataan
Reality Labs, divisi yang menaungi headset Quest, Horizon Worlds, dan Ray-Ban Meta glasses, telah membukukan kerugian operasional lebih dari USD 60 miliar sejak 2021:
- 2021: rugi USD 10,2 miliar
- 2022: rugi USD 13,7 miliar
- 2023: rugi USD 16,1 miliar
- 2024: rugi USD 17,7 miliar
- Q terakhir: rugi USD 4,4 miliar dari pendapatan hanya USD 470 juta
Metaverse menelan uang.
Sementara itu, Facebook, Instagram, dan WhatsApp terus mencetak keuntungan melalui iklan — bisnis lama yang masih sangat sehat.
Pada 2021, ketika Meta rebranding besar-besaran, narasi perusahaan jelas: metaverse adalah “north star”—kompas masa depan. Tetapi kenyataan berkata lain. Sebagian besar pengguna tidak ingin:
- bekerja sebagai avatar tanpa kaki,
- rapat dalam ruang virtual “uncanny”,
- atau tinggal lebih lama di headset VR yang berat dan kontennya terbatas.
Selain itu, industri teknologi tidak menciptakan kompetisi yang cukup untuk memvalidasi taruhan besar Meta. Hardware mahal, konten minim, dan kebutuhan perangkat yang mengganggu kenyamanan membuat adopsi berjalan lambat.
Meta Tidak Menyerah pada Hardware — Hanya Mengubah Cerita
Meskipun metaverse diperkecil, Meta tidak meninggalkan produk-produk fisiknya:
- Headset Quest tetap diproduksi,
- Horizon Worlds masih hidup (walau sepi),
- Ray-Ban Meta glasses terus terjual — kini dipasarkan sebagai perangkat AI, bukan AR.
Meta bahkan merekrut Alan Dye, mantan desainer senior Apple, untuk memperkuat tim kreatif Reality Labs. Namun, semua ini tidak lagi dijual sebagai bagian dari “Metaverse” besar yang menyatukan segalanya.
Narasi barunya lebih sederhana — dan jauh lebih cocok dengan pasar 2025:
AI. AI. Dan AI.
Zuckerberg kini mem-branding Meta sebagai perusahaan AI-first, dengan rencana belanja modal USD 70–72 miliar di 2025 untuk:
- data center,
- chip kustom,
- dan keluarga model Llama.
Meta bahkan mendirikan Superintelligence Lab dan menginvestasikan USD 14,3 miliar untuk mengambil 49% saham Scale AI.
AI adalah bisnis yang:
- punya mitra industri jelas,
- punya pelanggan,
- punya revenue model yang dapat dihitung,
- dan tidak bergantung pada keinginan pengguna memakai headset 3 jam sehari.
Tidak heran AI mengambil alih panggung.
Metaverse Tidak Dibunuh AI — Ia Kalah Karena Dirinya Sendiri
Pada akhirnya, metaverse bukan gagal karena AI muncul. Metaverse gagal karena:
- per-unit economics-nya buruk,
- perangkatnya berat,
- kontennya kurang,
- pengalaman pengguna tidak menyenangkan,
- dan adopsinya terlalu dipaksa ke arah gaya hidup yang tidak dibutuhkan orang.
AI hanya masuk ke ruangan rapat dengan cerita yang:
- lebih sederhana,
- lebih realistis,
- lebih menguntungkan.
Sementara industri lain menghindari istilah “metaverse” dan mengganti dengan istilah yang lebih aman:
- spatial computing (Apple),
- digital twins (industri manufaktur),
- 3D collaboration (solusi enterprise).
Beberapa teknologi dari era metaverse mungkin tetap bertahan—misalnya mixed reality untuk industri atau kacamata pintar untuk penggunaan sehari-hari. Tapi ide besar “dunia virtual baru” kini hanya tinggal catatan kaki.
Dari Mimpi Besar ke Pos Anggaran R&D
Metaverse kini berubah dari raison d’être menjadi sekadar proyek R&D.
Dari bintang utara menjadi eksperimen mahal yang diperkecil skala. Infrastruktur AI — yang mendukung feed Facebook, sistem iklan, dan chatbot — kini mendapat semua prioritas.
Metaverse masih ada di peta Meta.
Namun lampu kotanya meredup, digantikan gemerlap pusat data dan model AI yang menjadi tulang punggung pertumbuhan baru.
Dan mungkin ini pelajaran berharga:
Teknologi tidak bisa memaksa manusia berubah hanya karena perusahaan ingin masa depan tertentu. Pada akhirnya, pengguna memilih kenyamanan — bukan visi futuristik yang tidak mereka minta.

