(Business Lounge – Human Resources) Sejak berdirinya Amerika, ide-ide dan inovasi baru telah mengubah wajah dunia kerja di negara ini, serta bagaimana tenaga kerja kita diberi upah dan dilindungi saat menjalankan pekerjaan mereka.
Berikut ini adalah tujuh dari sekian banyak tokoh yang telah mendorong perubahan tersebut selama 250 tahun terakhir.
Eli Whitney
Dua kontribusi Eli Whitney memberi dampak besar pada dunia kerja modern. Ia dikenal luas sebagai pencipta cotton gin, mesin pemisah biji kapas yang merevolusi industri kapas—namun juga memperkuat sistem perbudakan di Amerika Serikat. Selain itu, Whitney adalah pelopor produksi senjata dengan suku cadang baku yang dapat diproduksi mesin, sebuah dasar dari sistem manufaktur modern di seluruh dunia.
Cotton gin yang diciptakannya pada tahun 1793 memungkinkan satu pekerja menggantikan puluhan orang dalam memisahkan biji dari serat kapas. Produksi kapas melonjak drastis, namun di sisi lain pemanenan kapas masih bergantung pada tenaga kerja manusia. Permintaan tenaga kerja yang meningkat itu dipenuhi dengan memperluas perbudakan. Setelah mesin ini diperkenalkan, jumlah budak di AS melonjak dari sekitar 700.000 menjadi lebih dari 1,5 juta pada tahun 1820, menurut Ryan Paxton, Direktur Eksekutif Eli Whitney Museum and Workshop.
Whitney kemudian memasuki industri pembuatan senjata untuk pemerintah federal. Saat itu, senapan dirakit oleh pengrajin ahli secara manual sehingga produksinya lambat dan setiap bagian sering berbeda sehingga sulit diganti bila rusak. Whitney bersama para pembuat senjata lain mendorong penggunaan suku cadang seragam yang diproduksi dengan mesin, sehingga perakitan dapat dilakukan oleh pekerja kurang terampil dan semakin banyak senjata dapat diproduksi.
Upaya itu memicu lahirnya mesin-mesin baru dan sistem pabrik yang lebih efisien. Paxton menyebut Whitney sebagai salah satu pionir dalam mendorong standar presisi manufaktur di Amerika—sebuah terobosan yang kemudian memengaruhi berbagai industri di seluruh dunia.
Frederick Winslow Taylor
Frederick Winslow Taylor adalah sosok yang mengubah cara perusahaan mengelola tenaga kerja. Ia terobsesi pada efisiensi pabrik, dan gagasannya pada akhir 1880-an—dikenal sebagai scientific management atau Taylorisme—kini terasa di hampir seluruh aspek dunia usaha.
Dunia kita sudah begitu dipengaruhi Taylorisme sampai-sampai kita tidak menyadarinya lagi, kata Robert Kanigel, penulis The One Best Way: Frederick Winslow Taylor and the Enigma of Efficiency.
Taylor mengamati pekerja di Midvale Steel, Philadelphia. Ia percaya sebagian pekerja sengaja memperlambat kerja. Maka ia memecah tugas menjadi serangkaian gerakan kecil, mengukur setiap detik, lalu menghilangkan langkah yang dianggap tidak perlu. Hasilnya adalah standar waktu kerja yang wajib diikuti pekerja.
Prinsip-prinsip Taylor kemudian berkembang menjadi sebuah sistem: keputusan harus berbasis data, kinerja terbaik diberi insentif, dan pekerja dilatih dengan metode terbaik alih-alih belajar sendiri. Inti gagasan Taylor adalah kontrol atas cara bekerja beralih dari pekerja kepada manajemen.
Di abad ke-21, gagasan ini hadir dalam bentuk baru—Digital Taylorism—di perusahaan yang memantau komputer, telepon, hingga perangkat pekerja untuk memastikan produktivitas maksimum.
John Henry Patterson
Pendiri National Cash Register (NCR), John Henry Patterson, mengubah citra profesi penjualan dan meyakinkan dunia bisnis bahwa pemasaran sama pentingnya dengan kualitas produk. Ia menerapkan standardisasi dan efisiensi ala pabrik ke dalam kegiatan penjualan—warisan yang masih hidup sampai sekarang.
Walter Friedman, sejarawan Harvard dan penulis Birth of a Salesman menyampaikan bahwa Patterson mengangkat posisi tenaga penjualan menjadi layaknya konsultan bisnis. Ia menuntut stafnya berpenampilan rapi, menginap di hotel terbaik, dan membangun hubungan baik—bukan sekadar menjual lalu pergi.
Saat ia mengambil alih penemuan mesin kasir milik James Ritty pada 1879, produk itu bagus tapi tidak ada yang menginginkannya. Patterson lalu membangun pasukan penjualan terlatih dengan skrip dan jawaban siap pakai untuk setiap keberatan konsumen.
Pada 1887, ia membuat panduan penjualan tertulis pertama yang berisi skenario lengkap hingga gestur tubuh yang harus dilakukan. Pada 1893, ia mendirikan sekolah penjualan pertama di dunia, menerapkan pembagian wilayah kerja, kuota, dan kompetisi antar-tenaga penjualan.
Walter Reuther
Walter Reuther memimpin serikat pekerja otomotif terbesar di AS, United Auto Workers (UAW), sejak 1946 hingga 1970. Ia menjadi motor peningkatan besar dalam pendapatan dan kesejahteraan jutaan buruh Amerika.
Dengan tekanan terhadap Ford, GM, dan Chrysler, Reuther menuntut agar buruh menerima bagian adil dari kejayaan ekonomi pascaperang. Nelson Lichtenstein, sejarawan UC Santa Barbara mengungkapkan bahwa Reuther menggeser fondasi kapitalisme Amerika ke arah kepentingan buruh.
Kesepakatannya dengan GM pada 1950—Treaty of Detroit—menjadi model kontrak buruh-pengusaha selama puluhan tahun. Buruh memperoleh tunjangan pengangguran, asuransi kesehatan perusahaan, libur panjang, pensiun penuh, dan penyesuaian gaji mengikuti biaya hidup—sebuah inovasi besar dalam industri manufaktur masal.
Reuther memperjuangkan keadilan sosial lebih luas: ia berbaris bersama Martin Luther King Jr., ikut mengorganisir March on Washington 1963, dan mendukung pengesahan Undang-Undang Hak Sipil serta program besar seperti Medicare dan Medicaid.
A. Philip Randolph
A. Philip Randolph adalah salah satu suara paling berpengaruh dalam perjuangan kesetaraan sosial dan ekonomi pada abad ke-20. Pemimpin Brotherhood of Sleeping Car Porters ini menggunakan kekuatan mogok dan aksi massa untuk memaksa perubahan kebijakan diskriminatif di dunia kerja.
Pada 1941, ancaman mobilisasi massa ke Washington memaksa Presiden Franklin D. Roosevelt menerbitkan perintah eksekutif yang melarang diskriminasi ras dalam industri pertahanan dan membentuk komite praktik kerja adil—tindakan federal pertama yang melindungi kesempatan kerja setara.
Usai perang, Randolph ikut mendorong Presiden Harry Truman menghapus segregasi dalam militer dan melarang diskriminasi di pekerjaan federal—kebijakan paling progresif sejak era Rekonstruksi. Ia kemudian membantu mendorong lahirnya Civil Rights Act 1964 dan memperluas peluang kerja bagi minoritas.
Esther Peterson
Esther Peterson menjadi pendorong utama lahirnya Equal Pay Act tahun 1963—undang-undang yang memastikan perempuan dibayar sama untuk pekerjaan yang sama. Setahun kemudian, Civil Rights Act menegaskan larangan diskriminasi berbasis gender dalam perekrutan dan promosi.
Pada masa itu, banyak negara bagian menerapkan upah minimum berbeda antara laki-laki dan perempuan, dan serikat pekerja sendiri sering memiliki struktur upah terpisah untuk pekerjaan yang identik. Peterson menantang ketidakadilan itu.
Sebagai Kepala Women’s Bureau di Departemen Ketenagakerjaan era Kennedy, ia membentuk Komisi Status Perempuan untuk meneliti hambatan struktural bagi pekerja perempuan. Laporannya mengungkap dominasi perempuan di pekerjaan berupah rendah, beban ganda pekerjaan domestik, serta diskriminasi berlapis bagi perempuan minoritas. Rekomendasinya—termasuk layanan penitipan anak universal dan cuti berbayar—masih relevan hingga kini.
Peterson juga mendirikan pusat penitipan anak pertama di kantor pemerintah federal untuk mendukung pekerja perempuan.
Ted Benna
Pada tahun 1980, Ted Benna membawa ide baru kepada perusahaannya, Johnson Cos.: sebuah rencana tabungan pensiun yang memungkinkan pekerja menunda pajak atas sebagian gaji mereka. Inilah cikal bakal 401(k) yang mulai diterapkan 1981.
Kini, lebih dari 70 juta pekerja menyimpan lebih dari US$ 9 triliun melalui program pensiun ini.
Ide Benna lahir dari celah dalam perubahan kecil kode pajak tahun 1978. Ia menemukan bahwa aturan yang memungkinkan penangguhan pajak untuk bonus juga dapat diterapkan pada gaji pokok—dan perusahaan bisa ikut memberi kontribusi tambahan agar karyawan lebih tertarik menabung.

