PHK

Taktik PHK Terus Berubah, Kesalahan Terus Terulang

(Business Lounge – Human Resources)

Ketika Amazon.com mulai memangkas 14.000 karyawan bulan lalu, sebagian staf mengetahui nasib mereka melalui pesan singkat di rumah yang meminta mereka membuka email. Di sana, sebuah pesan dengan judul “Update Regarding Your Role at Amazon” menunggu mereka. “Sayangnya, peran Anda sedang dieliminasi,” tulis perusahaan. Para karyawan dipersilakan mengikuti pertemuan sukarela dengan pimpinan atau perwakilan HR jika ingin bertanya. Beberapa memilih untuk tidak hadir—untuk apa lagi?

Kombinasi pesan singkat dan email itu menjadi contoh terbaru dari evolusi cara perusahaan memberhentikan karyawan. Pandemi sebelumnya melahirkan praktik panggilan Zoom individual dan undangan kalender mendadak ke pertemuan HR. Kini, tujuannya adalah membuat proses PHK semakin efisien—minim drama, minim emosi bersama, dan minim peluang munculnya adegan viral.

Menurut George Penn, wakil presiden manajemen di Gartner yang kerap memberi nasihat kepada perusahaan dalam restrukturisasi, perusahaan ingin menyampaikan kabar buruk “secepat mungkin kepada banyak orang” untuk mengendalikan pesan dan mengurangi stres karyawan. “Tidak ada cara yang benar-benar baik,” katanya. “Yang dicari hanyalah opsi yang paling tidak buruk.”

Namun bagi banyak karyawan, hal itu tidak ada. Di media sosial, langkah Amazon menuai kritik. “Siapa yang mengira ini boleh-boleh saja?” tulis seorang pengguna LinkedIn. “Kalau Anda memberhentikan orang dengan bermartabat, Anda membuktikan nilai Anda nyata. Tapi kalau lewat teks? Nilai itu hanya kata-kata.”

Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah PHK lain juga kacau akibat gangguan teknis seperti audio Zoom yang tidak terdengar. Ada pula manajer yang bahkan tidak diberi informasi terlebih dahulu, sehingga tidak dapat menjelaskan keputusan kepada tim mereka.

Salah satu alasan perusahaan terus mengubah metode adalah untuk menghindari gangguan. Southwest Airlines menutup kantor korporat bagi sebagian besar staf saat melakukan PHK; sejumlah karyawan menerima kabar melalui panggilan video dengan mode dengar-saja. Target meminta karyawan korporatnya bekerja dari rumah pada minggu PHK di Oktober lalu.

Menyampaikan keputusan PHK secara jarak jauh dianggap mampu mencegah adegan emosional di kantor, seperti pelukan sambil menangis setelah keluar dari ruang rapat. Selain itu, ketika perusahaan memangkas ribuan orang sekaligus, sering kali tidak cukup staf HR atau pimpinan yang bisa melakukan pertemuan individual. Karena itu, pemberitahuan massal menjadi pilihan.

Namun metode massal pun tetap rentan bermasalah. Dalam PHK Target, beberapa karyawan yang bergabung ke panggilan Zoom tidak bisa mendengar bagian awal percakapan akibat gangguan audio. Perusahaan kemudian mengirim email permintaan maaf sekaligus menegaskan kembali bahwa mereka terkena PHK, menurut salinan email yang ditinjau The Wall Street Journal. Juru bicara Target mengakui masalah audio tersebut namun mengatakan bahwa email lanjutan memang sudah dijadwalkan sejak awal, dan gangguan itu tidak menghalangi penyampaian informasi sebelum panggilan berakhir.

Di perusahaan lain, kekacauan bahkan melahirkan drama. Setelah Condé Nast mengumumkan bahwa Teen Vogue akan digabungkan dengan Vogue.com dan sebagian pegawai akan diberhentikan, sejumlah pekerja mendatangi eksekutif HR, Stan Duncan, di depan kantornya. Video konfrontasi itu cepat menyebar luas. Condé Nast kemudian memecat empat karyawan yang terlibat protes dan menskors lainnya. Pemecatan itu memicu demonstrasi di luar kantor pusat Condé Nast di Manhattan, yang dihadiri Jaksa Agung New York Letitia James. Para demonstran membawa poster bertuliskan “Reinstate the Fired Four,” sementara James mengancam akan membawa Condé Nast ke pengadilan.

Perusahaan menyatakan bahwa pemecatan tersebut sah dan didasarkan pada pelanggaran kebijakan internal. “Kami wajib melindungi tempat kerja dari pelecehan dan intimidasi,” kata seorang juru bicara. “Jika Jaksa Agung memiliki kekhawatiran, kami siap merespons.”

Sebagian perusahaan memilih menyampaikan sinyal sejak awal bahwa PHK akan terjadi, meski strategi itu juga bisa memicu kecemasan. CEO Verizon Communications, Daniel Schulman, mengisyaratkan dalam rapat seluruh karyawan bahwa pemutusan hubungan kerja akan dilakukan. Perusahaan itu berencana memangkas sekitar 15.000 posisi—PHK terbesar dalam sejarahnya.

Apakah cara penyampaian benar-benar penting? Para spesialis HR berpengalaman mengatakan iya. Nada dan gaya percakapan berpengaruh besar terhadap bagaimana seorang karyawan memproses pemecatannya.

“Bagi banyak orang, cara penyampaiannya dapat mengurangi kemungkinan hubungan yang berakhir buruk,” kata Vanessa Matsis-McCready, wakil presiden layanan HR di Engage PEO, yang mengelola fungsi sumber daya manusia untuk bisnis kecil dan menengah.

Untuk mempersiapkan perusahaan, ia sering menyarankan latihan peran bagi HR sebelum melakukan PHK. Dalam simulasi itu, ia kerap berperan sebagai karyawan yang menangis, marah, atau frustasi saat menerima kabar. “Saya pernah menangis, pernah marah,” ujarnya. “Penting sekali untuk siap menghadapi berbagai reaksi.”

Tujuannya adalah memahami cara menenangkan situasi dan merespons dengan empati. Menurutnya, percakapan personal yang berlangsung dengan baik dapat mencegah karyawan yang diberhentikan meluapkan amarah di media sosial atau tempat lain.

“Ketika Anda memberhentikan seseorang,” katanya, “Anda harus tetap menjadi manusia.”