Alaska Airlines

Alaska Air Tertekan Biaya Bahan Bakar Tinggi

(Business Lounge – Global News) Alaska Air Group melaporkan bahwa laba kuartalannya kemungkinan akan berada di kisaran bawah dari panduan yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut laporan Wall Street Journal, perusahaan penerbangan asal Seattle ini menghadapi kombinasi tekanan dari kenaikan harga bahan bakar, gangguan operasional, serta biaya tenaga kerja yang terus meningkat. Meski begitu, manajemen tetap menegaskan bahwa pendapatan masih akan kuat, mencerminkan permintaan perjalanan udara yang bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.

Bloomberg mencatat bahwa harga bahan bakar jet melonjak signifikan selama musim panas akibat tingginya harga minyak global dan terbatasnya kapasitas kilang. Bagi Alaska Air, yang merupakan maskapai dengan jaringan luas di Amerika Utara dan Pasifik, biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar dalam struktur pengeluaran. Setiap kenaikan harga minyak mentah dapat menggerus margin keuntungan secara drastis, terutama ketika persaingan harga tiket dengan maskapai lain tetap ketat.

Selain biaya bahan bakar, Reuters melaporkan bahwa Alaska Air juga berhadapan dengan tantangan operasional, termasuk kekurangan staf dan keterlambatan pengiriman pesawat baru dari Boeing. Masalah rantai pasokan di sektor penerbangan global membuat maskapai kesulitan menambah kapasitas tepat waktu untuk memenuhi permintaan musim puncak perjalanan. Kondisi ini mendorong biaya perawatan dan operasional meningkat, sementara fleksibilitas perusahaan dalam mengatur jadwal penerbangan menjadi terbatas.

Meski menghadapi tekanan biaya, sisi pendapatan Alaska Air masih menunjukkan ketahanan. CNBC menyoroti bahwa permintaan perjalanan domestik di Amerika Serikat tetap kuat, terutama untuk rute-rute leisure dan bisnis jarak menengah. Tiket pesawat dengan harga premium, termasuk kelas bisnis dan layanan tambahan, terus memberikan kontribusi besar pada pendapatan. Hal ini membantu perusahaan menahan dampak negatif dari biaya bahan bakar yang tinggi.

Namun, investor bereaksi hati-hati terhadap proyeksi terbaru perusahaan. Saham Alaska Air sempat mengalami penurunan tipis setelah pengumuman, mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa margin keuntungan akan lebih sempit dari perkiraan awal. Financial Times menulis bahwa analis kini menunggu laporan laba resmi kuartal ketiga untuk melihat sejauh mana perusahaan mampu mengimbangi tekanan biaya dengan strategi harga tiket dan efisiensi operasional.

Dari perspektif strategi jangka panjang, Alaska Air mencoba menjaga keseimbangan antara ekspansi jaringan dan pengendalian biaya. Perusahaan telah memperluas rute ke sejumlah destinasi internasional di Meksiko dan Kanada, serta meningkatkan koneksi domestik ke kota-kota sekunder yang kurang terlayani. MarketWatch melaporkan bahwa ekspansi ini bertujuan memanfaatkan permintaan pasca-pandemi yang bergeser, di mana penumpang lebih banyak mencari penerbangan ke destinasi leisure dibanding perjalanan bisnis jarak jauh.

Sementara itu, manajemen juga menegaskan komitmen pada upaya dekarbonisasi. Seattle Times menyoroti bahwa Alaska Air terus berinvestasi dalam penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (SAF, sustainable aviation fuel) dan program efisiensi pesawat. Meski investasi ini menambah beban biaya jangka pendek, perusahaan melihatnya sebagai strategi penting untuk menjaga daya saing di masa depan ketika regulasi lingkungan semakin ketat.

Namun, penggunaan SAF masih menghadapi tantangan besar, termasuk keterbatasan pasokan dan harga yang jauh lebih mahal dibanding bahan bakar jet konvensional. Oleh karena itu, kontribusi nyata terhadap penghematan biaya atau pengurangan emisi baru akan terasa dalam jangka panjang. Untuk saat ini, volatilitas harga minyak global tetap menjadi risiko utama bagi laba Alaska Air.

Persaingan di industri penerbangan Amerika juga semakin ketat. Maskapai besar seperti Delta, American Airlines, dan United memiliki kapasitas lebih besar untuk menghadapi lonjakan biaya bahan bakar karena skala ekonomi yang lebih luas. Barron’s menekankan bahwa maskapai menengah seperti Alaska Air harus bekerja ekstra keras untuk menjaga margin, baik melalui efisiensi biaya maupun inovasi layanan pelanggan.

Salah satu keunggulan Alaska Air adalah reputasinya dalam pelayanan pelanggan. Survei J.D. Power beberapa tahun terakhir menempatkan Alaska Air di antara maskapai dengan tingkat kepuasan pelanggan tertinggi di Amerika Utara. Reputasi ini membantu perusahaan mempertahankan basis pelanggan loyal, terutama di pasar utama seperti Seattle dan Los Angeles. Meski begitu, dalam kondisi biaya tinggi, loyalitas pelanggan seringkali tidak cukup untuk melindungi profitabilitas.

Di tengah tekanan saat ini, analis memperkirakan Alaska Air akan semakin fokus pada strategi mitigasi biaya. Bloomberg Intelligence menilai perusahaan bisa mempertimbangkan lebih banyak praktik lindung nilai (hedging) untuk melindungi diri dari fluktuasi harga bahan bakar. Selain itu, perusahaan kemungkinan akan menunda sebagian ekspansi kapasitas hingga kondisi pasokan pesawat membaik.

Bagi investor, pertanyaan besar adalah sejauh mana Alaska Air bisa menavigasi periode penuh ketidakpastian ini. Meski pendapatan tetap solid, biaya bahan bakar yang tinggi dapat dengan cepat menghapus keuntungan. Jika harga minyak bertahan di level tinggi hingga akhir tahun, proyeksi laba 2025 bisa berada di bawah ekspektasi.

Namun, beberapa analis melihat peluang jangka panjang. Forbes menulis bahwa Alaska Air memiliki rekam jejak adaptasi yang cukup kuat, termasuk selama pandemi ketika perusahaan mampu memangkas biaya lebih cepat dibanding banyak pesaing. Jika perusahaan kembali menunjukkan ketangguhan serupa, investor bisa melihat fase penurunan laba ini hanya sebagai siklus sementara dalam industri yang memang sangat sensitif terhadap harga energi.

Dari sisi konsumen, kondisi saat ini kemungkinan tidak akan menurunkan minat terbang secara signifikan, meski harga tiket bisa tetap tinggi. Permintaan perjalanan leisure yang bertahan kuat menandakan bahwa konsumen masih rela membayar lebih untuk pengalaman terbang setelah dua tahun pembatasan pandemi. Namun, tekanan biaya bahan bakar berarti maskapai seperti Alaska Air memiliki ruang terbatas untuk memberikan diskon besar.