Hershey

Hershey Naikkan Harga Cokelat di Tengah Lonjakan Biaya Kakao

(Business Lounge – Global News) Perusahaan cokelat raksasa asal Amerika Serikat, Hershey, telah memberi tahu para pelanggan ritelnya bahwa mereka akan memberlakukan kenaikan harga yang cukup tajam untuk berbagai produk permen. Keputusan ini muncul di tengah lonjakan harga kakao global yang terus berlangsung, didorong oleh masalah pasokan serius di wilayah-wilayah penghasil utama seperti Pantai Gading dan Ghana. Langkah ini menjadi salah satu bentuk respons agresif industri makanan manis terhadap gejolak pasar komoditas yang memburuk sejak akhir 2023.

Dalam laporan yang dikutip oleh The Wall Street Journal, Hershey menyampaikan bahwa harga beberapa produk cokelat akan naik dua digit dalam persentase, tergantung pada jenis dan kategori produk. Pemberitahuan ini telah disampaikan kepada berbagai mitra ritel sejak awal Juli dan diperkirakan akan mulai berlaku penuh dalam beberapa bulan ke depan.

Kenaikan harga ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasokan kakao dunia yang mengalami gangguan parah selama dua musim panen terakhir. Seperti dilaporkan oleh Bloomberg, perubahan iklim ekstrem, hujan deras yang merusak bunga kakao, dan penyebaran penyakit tanaman telah mengganggu hasil panen di Pantai Gading dan Ghana, dua negara yang menyumbang lebih dari 60 persen pasokan kakao dunia. Kondisi ini telah membuat harga kakao melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut data dari Intercontinental Exchange, harga kontrak kakao sempat menyentuh lebih dari $11.000 per metrik ton pada pertengahan tahun 2024, sebuah rekor tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini memberi tekanan berat kepada para produsen makanan yang bergantung pada bahan baku tersebut. Hershey, yang selama bertahun-tahun menikmati margin kuat berkat biaya komoditas yang relatif stabil, kini menghadapi dilema besar antara menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen dan mempertahankan profitabilitas.

Seorang juru bicara Hershey mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan “tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga” untuk mencerminkan realitas biaya bahan baku yang kini sangat tinggi. Ia juga menambahkan bahwa langkah ini diambil setelah berbagai upaya internal untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban biaya operasional tidak mampu lagi menahan tekanan dari sisi pasokan.

Meskipun harga kakao terus melonjak, permintaan terhadap produk cokelat belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan signifikan, terutama di pasar Amerika Utara. Namun demikian, konsumen diperkirakan akan semakin selektif dan sensitif terhadap harga di tengah inflasi yang masih menjadi isu utama ekonomi rumah tangga. Beberapa pengecer besar seperti Walmart dan Target dikabarkan sedang meninjau strategi penempatan produk dan promosi untuk merespons dinamika ini.

Hershey bukan satu-satunya produsen cokelat yang menyesuaikan harga. Rival global seperti Mondelez, pemilik merek Cadbury dan Toblerone, serta Mars Inc. juga telah menyampaikan rencana serupa kepada mitra distribusi mereka, menurut laporan Financial Times. Namun Hershey, sebagai produsen dominan di pasar AS dengan pangsa pasar lebih dari 40 persen di kategori cokelat, menjadi barometer utama dalam tren penyesuaian harga.

Dalam laporan keuangan terakhirnya, Hershey mengakui adanya tekanan dari sisi margin yang berasal dari harga komoditas dan tenaga kerja. Namun perusahaan tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunan, sebagian besar karena penyesuaian harga yang telah dilakukan sejak awal 2023. Menurut catatan CNBC, sejak awal tahun 2024, Hershey telah menaikkan harga rata-rata sebesar 7–8 persen, dan gelombang baru penyesuaian ini diperkirakan akan membawa angka tersebut di atas 10 persen secara tahunan.

Kenaikan harga kakao global juga menjadi perhatian para analis pasar dan investor. Dalam catatan analisis yang diterbitkan oleh Morgan Stanley, disebutkan bahwa industri cokelat global sedang memasuki siklus biaya tinggi yang kemungkinan akan berlangsung hingga 2026 jika tidak ada perubahan signifikan dalam kondisi iklim dan pola tanam di Afrika Barat. Hal ini juga akan menguji daya tahan merek-merek besar dalam mempertahankan loyalitas konsumen di tengah tekanan harga.

Sebagai salah satu strategi mitigasi, Hershey dikabarkan tengah menjajaki diversifikasi bahan baku dan peningkatan penggunaan formulasi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap kakao murni. Perusahaan juga meningkatkan investasi dalam program berkelanjutan di kawasan penghasil kakao, termasuk program pemberdayaan petani dan sistem panen yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.

Namun demikian, para pengamat memperingatkan bahwa solusi jangka pendek seperti kenaikan harga akan memiliki batas efektivitas. “Harga yang lebih tinggi mungkin bisa melindungi margin dalam jangka pendek, tapi pada akhirnya semua kembali pada daya beli konsumen,” kata seorang analis dari Morningstar. Ia menambahkan bahwa strategi jangka panjang harus mencakup inovasi produk, efisiensi rantai pasok, dan diversifikasi geografis.

Di tengah tantangan ini, Hershey tetap percaya diri terhadap prospek jangka panjang industri permen dan camilan manis. CEO Hershey, Michele Buck, dalam wawancaranya dengan Yahoo Finance, menyatakan bahwa “meskipun ada tekanan biaya, permintaan konsumen terhadap produk indulgent tetap tinggi, dan kami akan terus berinovasi untuk memberikan nilai terbaik bagi pelanggan kami.”

Konsumen, pada akhirnya, akan menjadi pihak yang menentukan apakah strategi ini berhasil. Jika loyalitas terhadap merek mampu dipertahankan di tengah kenaikan harga, Hershey kemungkinan akan mampu melewati badai ini dengan kerugian minimal. Namun jika tidak, gelombang kenaikan harga ini bisa membuka peluang bagi merek-merek alternatif dan produk-produk generik yang lebih murah untuk merebut pangsa pasar.