Nippon Steel

Nippon Steel Segera Rampungkan Akuisisi U.S. Steel Setelah Kesepakatan Keamanan Nasional

(Business Lounge – Global News) Akuisisi besar yang telah menimbulkan perdebatan politik dan ekonomi selama hampir dua tahun akhirnya berada di titik penyelesaian. Nippon Steel, raksasa baja asal Jepang, kini bersiap untuk menuntaskan pembelian U.S. Steel senilai 14,1 miliar dolar AS setelah mencapai kesepakatan keamanan nasional dengan mantan Presiden Donald Trump. Kesepakatan ini membuka jalan bagi transaksi lintas negara yang sempat diblokir oleh pemerintahan sebelumnya dengan alasan keamanan nasional dan kepentingan industri domestik.

Kesepakatan ini menjadi titik balik penting dalam hubungan investasi antara Jepang dan Amerika Serikat, yang selama ini dirundung ketegangan akibat kekhawatiran terhadap pengaruh asing atas sektor strategis seperti baja. Pada awalnya, pemerintahan Biden menolak transaksi ini pada Januari 2025 setelah penyelidikan yang dilakukan oleh Komite Investasi Asing di Amerika Serikat (CFIUS), mengutip risiko terhadap rantai pasok pertahanan dan infrastruktur penting. Namun, setelah kemenangan Trump dalam pemilu dan pergantian kepemimpinan, keputusan tersebut dibalik. Trump secara eksplisit mendukung akuisisi ini dengan syarat adanya pengaturan mitigasi risiko yang disepakati secara resmi.

Menurut laporan Wall Street Journal dan Financial Times, kesepakatan keamanan nasional yang dimaksud mencakup sejumlah klausul penting. Di antaranya adalah pemberian saham emas (golden share) kepada pemerintah AS yang memungkinkan negara untuk memveto keputusan strategis perusahaan terkait produksi, teknologi, dan ekspor yang menyangkut keamanan nasional. Selain itu, Nippon Steel juga setuju untuk mempertahankan kantor pusat U.S. Steel di Pittsburgh, memastikan mayoritas posisi kepemimpinan tetap dipegang oleh warga negara Amerika, dan menjanjikan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran.

Nippon Steel juga berkomitmen untuk berinvestasi lebih dari 11 miliar dolar dalam tiga tahun ke depan untuk memperkuat dan memperbarui kapasitas produksi U.S. Steel di Amerika. Tambahan 3 miliar dolar akan dialokasikan untuk pembangunan pabrik baja berteknologi rendah karbon di tahun-tahun mendatang. Dengan total investasi yang direncanakan sebesar 14 miliar dolar, akuisisi ini tidak hanya diharapkan menguntungkan pemegang saham, tetapi juga menjadi stimulus besar bagi perekonomian lokal, terutama di negara bagian Pennsylvania dan wilayah industri Midwest lainnya.

Di pasar saham, respons investor langsung terasa. Saham U.S. Steel naik lebih dari 5 persen dalam perdagangan setelah pengumuman ini, mendekati harga yang ditawarkan oleh Nippon Steel, yakni 55 dolar per saham. Ini menandakan bahwa investor menilai kesepakatan ini semakin mungkin terjadi dan melihat potensi nilai jangka panjang yang besar bagi perusahaan gabungan.

Di sisi lain, akuisisi ini menimbulkan reaksi beragam dari kalangan buruh dan politisi domestik. Serikat pekerja United Steelworkers pada awalnya menolak akuisisi ini karena khawatir terhadap hilangnya kedaulatan industri dan potensi outsourcing pekerjaan ke luar negeri. Namun, setelah perjanjian mitigasi disusun dan menjamin keberlangsungan operasional serta keterlibatan lokal dalam manajemen, beberapa cabang serikat mulai melunakkan sikap mereka. Ada anggapan bahwa akuisisi ini dapat memberikan keamanan jangka panjang bagi tenaga kerja dan membuka peluang modernisasi yang selama ini terhambat oleh keterbatasan dana.

Trump, dalam pidatonya saat mengumumkan persetujuan transaksi, menyebut bahwa akuisisi ini adalah contoh bagaimana investasi asing dapat dikontrol untuk melindungi kepentingan nasional tanpa harus menutup pintu bagi modal luar. Ia juga mengumumkan peningkatan tarif impor baja dan aluminium menjadi 50 persen sebagai bagian dari strategi menjaga daya saing industri dalam negeri. Kebijakan ini dianggap sebagai pelengkap untuk memastikan bahwa meskipun U.S. Steel dimiliki oleh perusahaan asing, produksi dan pasarnya tetap berpijak kuat di Amerika Serikat.

Langkah Trump ini juga dianggap sebagai pendekatan baru dalam pengelolaan investasi asing di sektor strategis. Dengan mengkombinasikan kebijakan protektif dan negosiasi mitigasi, pemerintah dapat mengizinkan akuisisi besar tanpa mengorbankan kontrol nasional. Model golden share yang digunakan di sini bahkan disebut-sebut sebagai preseden untuk transaksi lain yang melibatkan sektor semikonduktor, energi, atau pertahanan di masa depan.

Proses hukum yang sempat tertunda karena penolakan pemerintahan sebelumnya juga mengalami perkembangan. Pengadilan banding di Washington D.C. telah menunda sidang atas gugatan terkait akuisisi ini hingga tanggal 20 Juni 2025. Penundaan ini dilakukan untuk memberi waktu kepada semua pihak menyelesaikan perjanjian akhir dan mempresentasikan hasil negosiasi keamanan nasional di hadapan otoritas hukum dan publik. Jika tidak ada hambatan tambahan, kesepakatan final antara Nippon dan U.S. Steel akan ditandatangani dan dieksekusi sebelum akhir Juni.

Dengan rampungnya akuisisi ini, Nippon Steel akan menjadi produsen baja terbesar kedua di dunia, mengukuhkan posisi globalnya di tengah kompetisi yang semakin ketat dengan perusahaan-perusahaan besar dari China dan India. Perusahaan gabungan ini akan memiliki kapasitas produksi yang besar, teknologi maju, dan pangsa pasar yang signifikan di Amerika Utara serta Asia.

Dari sudut pandang strategis, penggabungan ini tidak hanya soal pertumbuhan bisnis, tapi juga memperlihatkan bagaimana dua negara sekutu utama, Jepang dan Amerika Serikat, dapat berkolaborasi dalam pengelolaan aset industri yang selama ini dianggap sangat sensitif. Jepang, sebagai mitra keamanan utama Amerika di kawasan Indo-Pasifik, dianggap lebih dapat dipercaya dibandingkan investor asing dari negara lain yang tidak memiliki hubungan diplomatik seerat ini.

Secara keseluruhan, penyelesaian akuisisi Nippon Steel atas U.S. Steel menjadi simbol bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik dan proteksionisme global, kesepakatan internasional tetap bisa tercapai asalkan ada transparansi, perlindungan kepentingan nasional, dan kemauan politik dari kedua pihak. Dengan model kesepakatan yang melibatkan mitigasi keamanan dan investasi langsung yang besar, transaksi ini membuka jalan bagi pendekatan baru terhadap investasi lintas batas di sektor-sektor kritis bagi ekonomi dan keamanan negara.