Hebohnya Black Friday Menjadi Target Meraup Untung bagi Para Peritel

(Business Lounge Journal – News and Insight) Hari ini, Jumat (27/11) adalah hari yang dikenal sebagai Black Friday atau hari belanja pertama yang menandai masuknya musim belanja natal. Sejak awal tahun 2000-an, Black Friday yang jatuh satu hari setelah perayaan Thanksgiving telah dianggap sebagai awal musim belanja Natal di AS. Namun kemudian tidak hanya diadakan di Amerika, tetapi juga di Inggris, dan mulai menjalar ke negara-negara lain. Hal ini dikarenakan Black Friday menjadi satu moment yang luar biasa untuk meraup pemasukan bagi para peritel, yaitu ketika mereka yang merayakan natal mulai mempersiapkan perayaan besar itu. Sedangkan bagi mereka yang tidak merayakan natal, mereka pun akan menghadapi liburan pergantian tahun.

Black Friday sebenarnya bukanlah hari libur resmi, tapi di California dan beberapa negara lainnya memberlakukan “The Day After Thanksgiving” sebagai hari libur bagi karyawan pemerintah negara bagian, kadang-kadang sebagai pengganti libur lainnya. Sejak tahun 2005, Black Friday pun telah secara rutin menjadi hari belanja tersibuk. Bahkan pada tahun lalu, masyarakat telah mengantri dari pagi hari di depan pusat-pusat perbelanjaan agar tidak ketinggalan diskon yang menarik yang ditawarkan para peritel. Sambutan masayarakat yang luar biasa pada tahun lalu telah mengakibatkan habisnya stok.

Asal Nama Black Friday

Nama Black Friday berasal dari Philadelphia yang menggambarkan ramainya pejalan kaki dan lalu lintas kendaraan yang sangat mengganggu pada satu hari setelah Thanksgiving. Sebelum tahun 1961, istilah ini pun sudah mulai digunakan dan mulai menyebar luas ke luar Philadelphia sekitar tahun 1975. Beberapa penjelasan alternatif dibuat, bahwa pengecer tradisional sering kali mengalami kerugian sepanjang tahun sehingga performance mereka diakatakan merah. Namun pada Black Friday, mereka kemudian menuai keuntungan sehingga performance mereka tidak lagi merah melainkan berwarna hitam.

Hebohnya Black Friday

Animo masyarakat selalu bertambah untuk tidak ketinggalan pada penawaran-penawaran yang memang “miring” dari para peritel. Beberapa toko memutuskan akan buka lebih cepat bahkan pada tengah malam. Agar tidak ketinggalan banyak warga akan berkemah untuk mengamankan posisinya menjadi orang yang masuk pertama kali ke toko-toko tersebut. Hal ini tidak hanya terjadi di Amerika, tetapi juga di Inggris dan beberapa negara lainnya. Beberapa peritel sempat buka bahkan pada perayaan Thanksgiving sampai kemudian pemerintah mengeluarkan larangan.

Berbagai laporan kecelakaan pun bertambah pada hari itu mengingat persaingan keras pada pelanggan untuk mendapatkan barang-barang dengan harga miring yang ditawarkan.

Black Friday Beralih ke Online

Zaman semakin canggih, dan banyak pelanggan yang juga mulai enggan “bertarung fisik” untuk mendapatkan barang-barang murah. Karena itu Black Friday pun kini digelar secara online. Para peritel raksasa seperti Amazon, Walmart, Ebay, dan toko-toko offline yang juga memiliki toko online telah menggelar “dagangannya”

Tidak hanya di Amerika dan Inggris, bahkan juga di Indonesia seperti yang dilakukan oleh beberapa peritel. Bahkan tidak hanya dimulai tepat satu hari setelah Thanksgiving, bahkan telah dimulai satu minggu sebelumnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : wikipedia