Hanya Startup dengan Kecanggihan Teknologi yang Akan Bertahan di Dunia Ekspedisi

(Business Lounge – Global News) Berkembangnya era internet membuat para investor di Silicon Valley sedang berkordinasi untuk membuat sebuah bisnis jasa pengiriman kargo senilai USD 160 milyar per tahun atau sekitar IDR 2.080 triliun.

Perusahan-perusahaan yang merupakan perusahaan ekspedisi tersebut akan mengkoordinasikan pengiriman baik untuk para peritel dan pabrik, baik menggunakan kereta api, pesawat, dan truk hingga pengiriman cepat untuk mendorong pengiriman melalui bea cukai. Namun mengingat era ini adalah era komputerisasi, maka perusahaan dengan teknologi yang semakin majulah yang banyak menyedot pelanggan. Sedangkan perusahaan yang masih menggunakan teknik pemesanan melalui telepon, atau bahkan fax, dan melakukan pencarian dengan menggunakan spreadsheet yang dikirim lewat email dianggap ketinggalan zaman, walaupun sebelumnya perusahaan tersebut telah bermain secara global.

Puluhan perusahaan menempatkan diri mereka sebagai perusahaan ekspedisi seperti Expedia Inc. atau Priceline Group Inc., bertaruh bahwa platform online yang apik dan penawaran harga otomatis akan meyakinkan pengirim untuk memutuskan menggunakan jasa si perusahaan ekspedisi tersebut. Namun banyak yang berpendapat sebaliknya bahwa bisnis dalam jasa ekspedisi sangat kompleks dan bergantung pada terjalinnya hubungan jangka panjang terutama untuk para pendatang baru dengan layanan online-nya.

Tetapi beberapa perusahaan pemberi modal usaha terbesar di Silicon Valley bertaruh pada teknologi baru. Sejak awal 2014, perusahaan pemberi modal telah mendanai lebih dari USD 1 milyar untuk perusahaan startup untuk jasa ekspedisi, dua kali jumlah yang diinvestasikan dalam lima tahun sebelum itu, seperti dilansir oleh WSJ.

Sejauh ini, startups belum terlihat memiliki pertumbuhan yang sama seperti konsumen situs travel dalam satu dekade lalu. Beberapa pemakai jasa memiliki tuntutan yang unik tergantung pada rantai pasokan mereka dan jaringan distribusi yang tidak mudah ditangani oleh platform harga otomatis. Perusahaan ekspedisi menyediakan layanan tambahan, seperti menggunakan hubungan dengan jalur pelayaran dan perusahaan truk untuk menjamin barang klien tetap sesuai dengan jadwalnya. Beberapa platform penghitung harga yang baru tidak dilengkapi untuk membantu bea cukai dan ini sebenarnya suatu layanan penting bagi jasa pengiriman internasional.

Para startups, tidak bisa hanya memikirkan pengirim dan bagaimana mengirimkannya, padahal sangat penting untuk  memberikan nilai tambah. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Penn State Professor C. John Langley Jr, disimpulkan bahwa 75% responden mengatakan bahwa industri logistik akan mendapatkan keuntungan dari teknologi yang lebih baik, dan 40% responden juga mengatakan bahwa perusahaan logistik telah menggunakan teknologi dalam proses penawaran.

Perusahaan Flexport mengatakan bahwa ia menyediakan percetakan pada tingkat yang lebih cepat daripada perusahaan ekspedisi tradisional dengan mengotomatisasi sebagian besar prosesnya. Perusahaan juga melengkapi dokumen bea cukai secara elektronik dan menyediakan pelacakan pengiriman udara dan laut yang bersifat real-time.

Brian Hahn, co-founder Nomad Goods, mengatakan dibutuhkan hanya beberapa menit untuk ia memulai pengiriman telepon perusahaannya dari Tiongkok ke Amerika Serikat menggunakan Flexport. Hahn mengatakan Nomad tumbuh dengan cepat dan prospek pengiriman gadget-nya melalui ekspedisi tradisional bersifat “rumit dan menakutkan.” “Saya tidak mencoba untuk menjadi seorang ahli logistik di sini,” katanya. “Kami sedang berusaha untuk menjadi perusahaan produk yang memberikan barang-barang tepat pada waktunya.”

Startups juga melihat kesempatan untuk masuk ke pasar yang para pemain ekspedisi terbesar sedang berjuang untuk mengintegrasikan teknologi baru. Memang sangat dibutuhkan teknologi yang tepat. Jika para pengusaha jasa ekspedisi global tidak dapat bekerja dengan teknologi baru, mereka akan kehilangan pangsa pasar.

“Pada akhirnya teknologi akan maju, seperti yang selalu terjadi,” demikian dikatakan kata Alex Le Roy, seorang analis perusahaan riset Transport Intelligence. “Dan orang-orang yang tidak beradaptasi akan tertiggal di belakang.”

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : flexport

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x