Remodeling

Remodeling yang Menghormati

(Business Lounge – Art) Istilah adaptive reuse—perombakan sebuah bangunan untuk tujuan baru—sebenarnya terasa kurang memadai untuk menggambarkan apa yang dimaksud. Istilah itu terdengar kaku dan teknis, seolah tidak mampu menangkap keajaiban transformasi yang sesungguhnya terjadi. Padahal, dalam banyak kasus, proses itu menyerupai metamorfosis—seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu—ketika sebuah bangunan memperoleh kehidupan baru. Tahun lalu menghadirkan tiga transformasi yang sangat menantang: sebuah kedutaan menjadi hotel, sebuah hotel menjadi museum, dan sebuah museum menjadi rumah lelang. Tantangan ini muncul karena masing-masing bangunan tersebut sudah merupakan karya arsitektur yang menonjol, seperti spesies kupu-kupu yang unik, yang kemudian harus diubah menjadi sesuatu yang lain.

Gedung Chancery karya arsitek Eero Saarinen, bekas Kedutaan Besar Amerika Serikat di London, merupakan peninggalan yang menyentuh dari masa ketika Departemen Luar Negeri AS menugaskan para arsitek modern ternama untuk merancang kedutaan dengan dinding kaca besar—sebuah simbol keterbukaan yang secara visual menjadi semacam kritik terhadap Tirai Besi. Bangunan yang selesai pada 1960 itu berbentuk palazzo persegi panjang enam lantai dengan lapisan batu Portland, menyesuaikan karakter elegan Grosvenor Square tempat bangunan itu berdiri. Setelah kedutaan dipindahkan ke gedung baru di seberang Sungai Thames pada 2017, bangunan ini dibeli oleh dana investasi pemerintah Qatar. Firma arsitektur internasional berbasis di London, David Chipperfield Architects, kemudian ditugaskan untuk mengubahnya menjadi hotel mewah bernama Chancery Rosewood.

Merehabilitasi bangunan bersejarah yang menua berarti membuat keputusan penting tentang apa yang harus dipertahankan dan apa yang boleh diubah. Proses ini membutuhkan imajinasi dan kepekaan. Kualitas tersebut pernah diperlihatkan oleh David Chipperfield ketika ia merekonstruksi Neues Museum di Berlin. Dalam proyek London ini, ia berusaha mempertahankan karakter pahatan dari bangunan Saarinen. Dengan menghilangkan sekat-sekat di lantai pertama, struktur beton langit-langit berbentuk “diagrid” atau kisi diagonal dapat terlihat jelas, membentang ke segala arah dan menegaskan gagasan kebebasan ruang. Ketika penambahan baru tidak dapat dihindari—seperti kanopi pintu masuk—geometri diagonal yang sama digunakan agar tetap selaras dengan desain asli.

Tantangan terbesar muncul pada bagian garis atap. Para pemilik menginginkan apartemen mewah yang menghadap ke alun-alun, sementara Chipperfield berharap atap bangunan tetap bersih dari tambahan yang merusak bentuk dan dapat diakses publik. Secara kebetulan, timnya menemukan rancangan fasad alternatif dari Saarinen yang menunjukkan tambahan satu lantai paling atas yang lebih megah. Temuan ini memungkinkan pembangunan ruang premium yang diinginkan klien sekaligus menghadirkan restoran publik di puncak bangunan. Dari sana, pengunjung dapat memandang kota dari balik patung elang Amerika karya Theodore Roszak, melihat deretan atap dan cerobong rumah di kawasan Mayfair. Bahkan tersedia bir seharga £9 bagi mereka yang tidak ingin membayar tarif menginap sekitar £1.500 per malam.

Kisah kedua sangat berbeda. Gedung Cartier Foundation for Contemporary Art karya arsitek Jean Nouvel yang kini memiliki ruang galeri seluas 70.000 kaki persegi ternyata pada awalnya adalah sebuah hotel mewah. Hotel tersebut bernama Grand Hôtel du Louvre dan dibuka pada 1855. Bangunan batu empat lantai dengan atap mansard dua lantai itu merupakan contoh klasik gaya arsitektur yang dipopulerkan oleh Georges-Eugène Haussmann ketika ia menata boulevard-boulevard baru di Paris. Namun bangunan itu tidak lama menjadi hotel. Lokasinya di Rue de Rivoli—tepat di seberang Louvre Museum—membuatnya segera berubah menjadi Grands Magasins du Louvre, salah satu department store terbesar pada masanya. Bangunan itu kemudian diubah lagi menjadi kompleks toko barang antik bernama Louvre des Antiquaires sebelum akhirnya ditutup pada 2019.

Ketika proses renovasi dimulai pada 2020, hampir tidak ada lagi interior bersejarah yang tersisa. Berbagai perubahan fungsi sebelumnya telah mengubah bangunan itu secara mendalam—seperti menjalani “perawatan saluran akar” dalam dunia arsitektur. Berbeda dengan museum-museum Paris sebelumnya yang dirancang Nouvel dengan konsep “dematerialisasi”—menggunakan transparansi untuk membuat bangunan tampak tidak padat—di proyek ini ia menghadapi kerangka bangunan yang tidak dapat diubah. Solusinya adalah mengubah lantai. Lima platform bergerak dipasang dan dapat diangkat secara hidrolik untuk menciptakan berbagai konfigurasi ruang pamer.

Bagi banyak orang, seni kontemporer sering dianggap sulit dipahami—terlalu muram atau membingungkan. Namun dalam ruang yang fleksibel dan improvisasional ini, suasananya justru terasa ringan dan kreatif, seperti bengkel kerja tempat gagasan baru lahir. Jendela di tingkat jalan memungkinkan pejalan kaki melihat sekilas pameran di dalam, dan dari sudut tertentu bahkan dapat melihat Louvre di kejauhan. Bangunan ini menjadi salah satu karya Nouvel yang paling ramah bagi publik.

Transformasi ketiga terjadi di New York. Banyak orang khawatir bahwa rumah lelang Sotheby’s akan merusak bangunan asli Whitney Museum of American Art (1966 Breuer Building) karya arsitek Marcel Breuer ketika mengubahnya menjadi ruang pamer lelang. Namun ketika rancangan renovasi dari firma arsitektur Herzog & de Meuron diperlihatkan, hasilnya justru mengejutkan, tampilan sebelum dan sesudah renovasi hampir tidak berbeda.

Memang itulah tujuannya. Breuer merancang museum tersebut sebagai ruang loteng fleksibel—lapis demi lapis ruang horizontal yang menjorok ke depan seperti laci-laci yang ditarik keluar dari sebuah lemari. Ruang pamer lelang memiliki kebutuhan yang hampir sama: ruang luas yang dapat berubah dengan cepat mengikuti pameran yang berbeda. Karena itu, perubahan yang dilakukan sangat minimal. Hanya sebuah lift baru berkinerja tinggi yang ditambahkan di sudut timur laut bangunan, dan lift itu hampir tidak bersuara. Selebihnya, struktur asli bangunan tetap dipertahankan. Lantai keempat, yang memiliki bentang ruang terlebar di gedung tersebut, kini berfungsi sebagai ruang penjualan utama yang dapat menampung hingga 220 calon pembeli.

Ketiga renovasi ini—di London, Paris, dan New York—dikerjakan oleh arsitek kelas dunia yang berusaha mempertahankan bangunan asli sebanyak mungkin, alih-alih menonjolkan orisinalitas mereka sendiri. Jika ini belum dapat disebut sebagai sebuah gerakan dalam arsitektur, setidaknya hal itu menunjukkan adanya sebuah tren.

Di kantor Chipperfield pernah muncul pandangan bahwa “era starchitect telah berakhir.” Yang kini menjadi perhatian utama adalah penggunaan kembali bangunan yang sudah ada secara cerdas dan imajinatif. Pandangan yang hampir sama juga terdengar dari anggota tim Nouvel.

Jika hal itu benar, maka ketiga proyek ini patut dipelajari dengan cermat. Dunia sedang memasuki masa ketika nasib banyak bangunan modern pertengahan abad ke-20 menjadi tidak pasti. Di Amerika Serikat, U.S. General Services Administration berupaya mengurangi setengah dari ruang kantor yang ditempati pemerintah. U.S. Department of Housing and Urban Development bahkan telah meninggalkan gedung besar karya Breuer, sementara masa depan bandara elegan tetapi menua karya Saarinen, Dulles International Airport, masih belum diputuskan.

Bangunan-bangunan ini dan banyak lainnya kemungkinan akan menghadapi pilihan yang sama: digunakan kembali untuk fungsi baru—adaptive reuse—atau menghadapi kata yang jauh lebih menyedihkan dalam dunia arsitektur, yaitu pembongkaran.