(Business Lounge – Global News) Rantai department store Kohl’s menutup 2025 dengan hasil yang tidak sepenuhnya sesuai harapan setelah kinerja kuartal keempat menunjukkan perlambatan. Upaya perusahaan untuk membalikkan kondisi bisnis yang sempat tertekan dalam beberapa tahun terakhir masih menghadapi tantangan, walau manajemen tetap menyampaikan nada optimistis mengenai arah transformasi yang sedang dijalankan.
Kohl’s selama beberapa waktu terakhir mencoba membangun kembali daya tariknya di tengah perubahan besar dalam industri ritel Amerika Serikat. Persaingan dari e-commerce, perubahan kebiasaan belanja konsumen, serta tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga membuat banyak jaringan department store berjuang menjaga relevansi mereka.
Dalam laporan terbaru, perusahaan mengakui bahwa kinerja pada kuartal terakhir 2025 lebih lemah dari perkiraan. Namun Chief Executive Officer Michael Bender mengatakan bahwa posisi perusahaan secara keseluruhan lebih kuat dibandingkan saat memasuki awal tahun.
Menurut laporan Reuters, manajemen Kohl’s menilai berbagai langkah restrukturisasi yang dilakukan sepanjang tahun mulai menunjukkan hasil, meskipun dampaknya belum sepenuhnya terlihat dalam angka kuartalan terbaru.Pernyataan tersebut mencerminkan dilema yang dihadapi banyak perusahaan ritel tradisional. Transformasi bisnis membutuhkan waktu, sementara pasar sering menilai perusahaan berdasarkan hasil jangka pendek.
Dalam beberapa tahun terakhir, department store seperti Kohl’s harus menghadapi perubahan besar dalam perilaku konsumen. Banyak pelanggan kini lebih sering berbelanja secara daring dibandingkan mengunjungi toko fisik. Fenomena ini telah mengubah lanskap ritel Amerika secara drastis.
Dalam analisis yang dikutip Bloomberg, sejumlah jaringan department store besar mengalami tekanan penjualan karena konsumen semakin beralih ke platform e-commerce atau memilih merek yang menjual langsung kepada pelanggan melalui internet. Perubahan tersebut membuat perusahaan seperti Kohl’s harus memikirkan ulang strategi bisnis mereka.
Salah satu langkah yang diambil adalah memperkuat pengalaman belanja di toko fisik sekaligus meningkatkan integrasi dengan penjualan online. Model ritel modern semakin menggabungkan kedua kanal tersebut agar konsumen dapat berpindah dengan mudah antara belanja digital dan kunjungan ke toko.
Kohl’s juga mencoba memperluas kemitraan dengan berbagai merek populer untuk menarik lebih banyak pelanggan.Dalam laporan yang dirangkum Financial Times, kolaborasi dengan merek kosmetik, pakaian olahraga, serta produk gaya hidup menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan lalu lintas pengunjung ke toko.Pendekatan ini bertujuan membuat toko Kohl’s terasa lebih relevan bagi konsumen yang semakin selektif dalam memilih tempat berbelanja.Namun tantangan ekonomi tetap membayangi industri ritel.
Inflasi yang masih terasa di berbagai sektor membuat banyak rumah tangga Amerika lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk pakaian atau produk gaya hidup. Pengeluaran konsumen cenderung lebih fokus pada kebutuhan dasar dibandingkan barang diskresioner.
Kondisi ini membuat banyak retailer menghadapi permintaan yang tidak stabil.Dalam laporan yang dikutip CNBC, perusahaan ritel Amerika harus beradaptasi dengan pola belanja yang semakin sensitif terhadap harga. Diskon, promosi, serta program loyalitas pelanggan menjadi alat penting untuk mempertahankan minat konsumen.Namun strategi promosi yang agresif sering kali menekan margin keuntungan.
Bagi Kohl’s, tantangan tersebut muncul pada saat perusahaan sedang menjalankan proses transformasi yang cukup luas. Restrukturisasi operasional, penyesuaian portofolio produk, serta pembaruan pengalaman ritel membutuhkan investasi yang tidak kecil. Karena itu, hasil yang terlihat dalam jangka pendek belum tentu mencerminkan seluruh perubahan yang sedang berlangsung.
CEO Michael Bender menekankan bahwa perusahaan mengakhiri 2025 dengan posisi yang lebih baik dibandingkan saat memulai tahun tersebut. Menurutnya, berbagai inisiatif yang diluncurkan sepanjang tahun mulai membangun fondasi baru bagi bisnis perusahaan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa manajemen melihat proses transformasi ini sebagai perjalanan yang masih berlangsung.Industri department store sendiri sedang mengalami fase penyesuaian besar. Model bisnis yang pernah sangat dominan di pusat perbelanjaan Amerika kini harus beradaptasi dengan era digital dan perubahan selera konsumen.
Beberapa perusahaan berhasil bertransformasi dengan memperkuat identitas merek serta meningkatkan pengalaman belanja yang unik. Namun banyak juga yang kesulitan mengikuti perubahan tersebut. Kohl’s berada di tengah persimpangan tersebut.Perusahaan masih memiliki jaringan toko luas di seluruh Amerika Serikat serta basis pelanggan yang cukup besar. Namun mempertahankan relevansi di pasar ritel yang sangat kompetitif memerlukan inovasi yang terus menerus.
Hasil kuartal keempat yang lebih lembut dari perkiraan menunjukkan bahwa perjalanan transformasi tidak selalu berjalan mulus. Namun sikap optimistis manajemen memperlihatkan keyakinan bahwa strategi yang sedang dijalankan dapat membawa perusahaan ke posisi yang lebih stabil.
Di dunia ritel modern, perubahan sering datang lebih cepat daripada yang diperkirakan. Perusahaan yang mampu menyesuaikan diri dengan pola belanja baru biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Bagi Kohl’s, tahun 2025 tampaknya menjadi tahap penting dalam proses tersebut—sebuah periode di mana perusahaan mencoba membangun kembali pijakan bisnisnya di tengah lanskap ritel yang terus berubah.

