Victoria’s Secret

Penjualan Victoria’s Secret Pulih, Kekhawatiran Biaya Membayangi

(Business Lounge – Global News) Perusahaan ritel pakaian dalam asal Amerika, Victoria’s Secret, melaporkan pemulihan penjualan dalam periode terbaru. Namun kabar tersebut tidak sepenuhnya menenangkan investor. Saham perusahaan justru melemah setelah muncul kekhawatiran mengenai kenaikan biaya operasional, termasuk dampak tarif impor yang diperkirakan akan menambah beban keuangan perusahaan pada tahun-tahun mendatang.

Manajemen Victoria’s Secret mengatakan bahwa mereka memperkirakan tambahan biaya tarif bersih sekitar 40 juta dolar pada 2026. Proyeksi ini muncul ketika perusahaan masih berusaha menata kembali bisnisnya setelah beberapa tahun menghadapi perubahan besar dalam industri ritel pakaian dalam.

Menurut laporan Reuters, meskipun penjualan mulai menunjukkan pemulihan, pasar tetap menaruh perhatian besar pada potensi kenaikan biaya yang dapat menekan profitabilitas perusahaan. Tarif impor terhadap berbagai produk yang diproduksi di luar Amerika Serikat dapat memengaruhi biaya rantai pasokan, terutama bagi perusahaan ritel yang bergantung pada jaringan produksi global.

Situasi ini membuat investor memandang prospek perusahaan dengan lebih hati-hati.

Dalam beberapa tahun terakhir, Victoria’s Secret memang sedang menjalani proses transformasi besar. Perusahaan berusaha memperbarui citra merek yang selama puluhan tahun identik dengan konsep glamor yang sangat spesifik.

Perubahan tersebut muncul setelah perusahaan menghadapi kritik publik dan penurunan relevansi di mata sebagian konsumen.

Kini Victoria’s Secret mencoba membangun identitas yang lebih inklusif dan modern, sekaligus memperluas lini produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.

Menurut analisis yang dikutip oleh Bloomberg, strategi tersebut mulai menunjukkan hasil tertentu. Penjualan yang kembali tumbuh memberikan sinyal bahwa merek ini masih memiliki basis pelanggan yang cukup kuat.

Namun perjalanan transformasi perusahaan tidak selalu berjalan mulus.

Industri pakaian dalam dan pakaian wanita kini jauh lebih kompetitif dibandingkan satu dekade lalu. Banyak merek baru bermunculan dengan pendekatan pemasaran yang lebih segar dan lebih dekat dengan konsumen muda.

Perusahaan seperti Aerie, merek milik American Eagle Outfitters, berhasil menarik perhatian konsumen dengan kampanye yang menekankan keberagaman tubuh dan citra yang lebih realistis.

Di sisi lain, sejumlah merek digital juga mulai menguasai sebagian pasar melalui strategi penjualan online dan pemasaran berbasis media sosial.

Dalam situasi seperti ini, Victoria’s Secret harus berusaha keras mempertahankan relevansinya.

Menurut laporan The Wall Street Journal, perusahaan tidak hanya fokus pada perubahan citra merek, tetapi juga mencoba meningkatkan pengalaman belanja baik di toko fisik maupun di platform digital.

Perusahaan memperbarui desain toko, menyesuaikan koleksi produk, serta memperkuat strategi pemasaran digital untuk menjangkau konsumen yang lebih muda.

Namun tantangan operasional tetap menjadi perhatian.

Rantai pasokan global yang kompleks membuat perusahaan ritel sangat sensitif terhadap perubahan biaya produksi dan tarif perdagangan. Banyak produk pakaian diproduksi di negara-negara dengan biaya tenaga kerja lebih rendah, kemudian dikirim ke pasar Amerika atau Eropa.

Ketika kebijakan tarif berubah, biaya tersebut dapat langsung memengaruhi harga barang atau margin keuntungan perusahaan.

Menurut laporan CNBC, proyeksi tambahan biaya tarif sebesar 40 juta dolar untuk 2026 menjadi salah satu faktor yang membuat investor lebih berhati-hati dalam menilai prospek perusahaan.

Walau jumlah tersebut tidak selalu mengubah arah bisnis secara drastis, angka itu cukup besar untuk memengaruhi profitabilitas jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan penjualan atau efisiensi operasional.

Karena itu, manajemen Victoria’s Secret juga menekankan pentingnya pengendalian biaya.

Perusahaan berusaha menata inventaris dengan lebih efisien, menyesuaikan strategi harga, serta memperkuat pengelolaan rantai pasokan agar dampak tarif dapat ditekan semaksimal mungkin.

Dalam industri ritel pakaian, pengelolaan biaya sering menjadi faktor yang menentukan keberhasilan jangka panjang.

Tren fashion dapat berubah cepat, sementara margin keuntungan sering kali tidak terlalu besar. Perusahaan harus mampu menyeimbangkan kreativitas desain, strategi pemasaran, serta efisiensi operasional agar bisnis tetap sehat.

Bagi Victoria’s Secret, pemulihan penjualan memberikan secercah optimisme bahwa merek tersebut masih memiliki daya tarik di pasar global.

Namun reaksi pasar terhadap proyeksi biaya tambahan menunjukkan bahwa investor kini menilai perusahaan dengan standar yang lebih ketat dibandingkan masa lalu.

Di tengah industri fashion yang semakin kompetitif, setiap perubahan biaya atau strategi bisnis dapat langsung memengaruhi kepercayaan pasar.

Victoria’s Secret kini berada dalam fase di mana perusahaan harus membuktikan bahwa transformasi mereknya benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan—bukan sekadar pemulihan sementara.

Dengan penjualan yang mulai membaik namun tekanan biaya yang masih mengintai, perjalanan perusahaan menuju stabilitas jangka panjang tampaknya masih akan dipenuhi berbagai tantangan.