(Business Lounge – Global News) Maskapai nasional Singapura, Singapore Airlines, mencatat pendapatan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, ditopang lonjakan permintaan perjalanan internasional yang belum surut. Namun di balik rekor tersebut, laba bersih justru turun tajam karena tidak lagi ditopang keuntungan satu kali yang pada periode sebelumnya mendongkrak hasil akhir.
Laporan keuangan terbaru yang dikutip Reuters dan Bloomberg menunjukkan bahwa pendapatan perusahaan melonjak seiring tingkat keterisian kursi yang tetap tinggi dan tarif penerbangan jarak jauh bertahan kuat. Permintaan dari pasar Asia, Eropa, dan Australia masih solid, mencerminkan mobilitas global yang terus pulih dan bahkan melampaui ekspektasi banyak pelaku industri.
Dalam kuartal yang sama tahun lalu, laba bersih Singapore Airlines terdongkrak oleh keuntungan non-berulang, termasuk transaksi korporasi yang memberi tambahan signifikan pada baris bawah laporan keuangan. Tanpa faktor tersebut, kinerja tahun ini terlihat lebih ramping. Secara operasional, bisnis inti maskapai tetap menunjukkan kekuatan, tetapi perbandingan tahunan membuat laba bersih tampak menyusut.
Menurut laporan yang diulas Financial Times, tingginya minat bepergian—baik untuk wisata maupun perjalanan bisnis—masih menjadi mesin utama pendapatan. Maskapai premium seperti Singapore Airlines diuntungkan oleh pelanggan kelas bisnis dan premium economy yang cenderung membayar tarif lebih tinggi. Segmen ini memberi bantalan terhadap fluktuasi di kelas ekonomi.
Tingkat keterisian kursi atau load factor tetap berada di level tinggi, menandakan kapasitas yang disediakan terserap dengan baik. Di saat banyak maskapai global berjuang menyeimbangkan kapasitas dan biaya operasional, Singapore Airlines relatif mampu menjaga disiplin penawaran kursi sehingga tidak terjadi kelebihan suplai yang menekan harga tiket.
Walau laba bersih turun, manajemen menegaskan bahwa fundamental bisnis tetap kukuh. Permintaan perjalanan jarak jauh masih stabil, dan rute-rute utama menunjukkan performa positif. Asia Tenggara dan Asia Timur menjadi kontributor penting, seiring arus wisatawan dan pebisnis yang kembali ramai.
Kinerja anak usaha berbiaya rendahnya, Scoot, juga ikut menopang volume penumpang. Strategi dual-brand memungkinkan grup menjangkau dua segmen pasar berbeda: premium melalui Singapore Airlines dan tarif hemat lewat Scoot. Model ini memberi fleksibilitas dalam merespons dinamika permintaan.
Dari sisi biaya, tekanan tetap ada. Harga bahan bakar avtur masih fluktuatif, sementara biaya tenaga kerja dan operasional meningkat seiring ekspansi kapasitas. Namun maskapai mampu mengimbangi lewat tarif yang relatif kuat dan manajemen biaya yang ketat. Dalam lingkungan industri penerbangan yang terkenal tipis marginnya, keseimbangan ini menjadi krusial.
Analis yang dikutip Reuters menilai penurunan laba bersih lebih bersifat teknis akibat tidak adanya keuntungan satu kali, ketimbang penurunan daya saing. Jika faktor non-berulang dikeluarkan dari perhitungan, profitabilitas inti tetap mencerminkan bisnis yang sehat.
Rekor pendapatan juga mencerminkan posisi Singapura sebagai hub penerbangan global. Bandara Changi kembali sibuk, menghubungkan arus penumpang antara Asia, Eropa, dan Oseania. Keunggulan geografis dan reputasi layanan premium memberi nilai tambah bagi maskapai nasional tersebut.
Namun, lanskap industri penerbangan tetap dinamis. Kapasitas global perlahan bertambah seiring maskapai lain mengembalikan armada ke layanan penuh. Jika suplai kursi meningkat terlalu cepat, tarif bisa tertekan. Untuk saat ini, permintaan masih cukup kuat untuk menyerap tambahan kapasitas.
Manajemen Singapore Airlines menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar, termasuk potensi perubahan perilaku konsumen. Tren perjalanan balas dendam pascapandemi mungkin mereda, tetapi perjalanan internasional telah kembali menjadi bagian rutin aktivitas masyarakat global.
Dari sisi neraca, perusahaan tetap berada dalam posisi yang relatif sehat dibanding banyak maskapai lain yang terlilit utang besar setelah pandemi. Disiplin keuangan dan dukungan pemegang saham utama memberi ruang gerak lebih fleksibel dalam menghadapi volatilitas.
Bagi investor, kombinasi rekor pendapatan dan penurunan laba bersih menghadirkan narasi campuran. Di satu sisi, pertumbuhan penjualan menunjukkan daya tarik merek dan kekuatan jaringan rute. Di sisi lain, absennya keuntungan non-berulang mengingatkan bahwa lonjakan laba tahun sebelumnya tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja operasional murni.
Tetap saja, pencapaian pendapatan tertinggi menjadi penanda penting. Dalam industri yang sangat sensitif terhadap siklus ekonomi, mempertahankan permintaan kuat bukan hal remeh. Singapore Airlines berhasil menempatkan diri sebagai pemain premium dengan reputasi layanan yang konsisten.
Fokus akan tertuju pada kemampuan maskapai menjaga margin saat kapasitas global meningkat dan biaya tetap bergejolak. Untuk saat ini, cerita besarnya jelas: permintaan terbang masih bergairah, pesawat terisi padat, dan pendapatan mencetak rekor. Laba memang tidak setinggi tahun lalu, tetapi fondasi bisnis terlihat stabil, memberi ruang bagi maskapai untuk terus terbang tinggi di tengah kompetisi global yang ketat.

