A d-Matrix sign is displayed at the company's office in Santa Clara, Calif., Wednesday, Oct. 16, 2024. (AP Photo/Jeff Chiu)

d-Matrix Percepat Ekspansi Global, Chip Inference Jadi Kunci Pertumbuhan Investasi AI

(Business Lounge Journal – Tech)

Industri kecerdasan buatan (AI) memasuki fase baru di mana fokus tidak lagi hanya pada pengembangan model, tetapi juga pada implementasi nyata di dunia bisnis. Di tengah dinamika ini, perusahaan chip asal Amerika Serikat, d-Matrix, menegaskan bahwa peningkatan adopsi AI menjadi kunci untuk membuka investasi lanjutan, khususnya di sektor perangkat keras.

Didukung oleh raksasa teknologi Microsoft, d-Matrix memusatkan inovasinya pada pengembangan chip inference—sebuah komponen penting dalam ekosistem AI modern.

Apa Itu Chip Inference?

Bagi awam, istilah ini mungkin asing di telinga kita. Perlu kita ketahui di dalam pengembangan AI, terdapat dua tahap utama: training dan inference. Tahap training adalah proses melatih model menggunakan data dalam jumlah besar agar mampu mengenali pola dan membuat keputusan. Proses ini membutuhkan daya komputasi sangat tinggi dan biasanya dilakukan di pusat data besar dengan GPU kelas atas.

Sebaliknya, inference adalah tahap ketika model yang sudah dilatih digunakan untuk menjalankan tugas nyata. Contohnya termasuk chatbot yang menjawab pertanyaan pelanggan, sistem rekomendasi di e-commerce, analisis risiko keuangan, hingga deteksi medis berbasis AI.

Chip inference dirancang untuk menjalankan model AI secara efisien, cepat, dan hemat energi. Berbeda dari chip training yang fokus pada pembelajaran, chip inference dioptimalkan untuk performa operasional sehari-hari. Keunggulannya terletak pada efisiensi daya, biaya yang lebih rendah, serta kemampuan menangani beban kerja spesifik di data center. Inilah segmen yang diyakini akan tumbuh pesat seiring semakin luasnya implementasi AI di berbagai sektor industri.

Strategi Ekspansi Global

Melihat potensi tersebut, d-Matrix memperluas ekspansi ke beberapa kawasan strategis, termasuk Amerika Utara, Eropa, dan India. Di Amerika Utara, perusahaan membangun kemitraan dengan penyedia layanan cloud dan operator pusat data besar untuk memperkuat penetrasi pasar inference.

Di Eropa, fokus diarahkan pada sektor manufaktur dan otomasi industri yang mulai mengadopsi AI untuk efisiensi produksi. Sementara itu, India menjadi target pertumbuhan jangka panjang karena ekosistem startup teknologi dan talenta digitalnya berkembang sangat pesat.

Menurut pimpinan perusahaan, investor kini lebih selektif dalam menanamkan modal di sektor AI. Mereka mencari bukti adopsi nyata dan model bisnis yang menghasilkan arus kas jelas, bukan sekadar valuasi berbasis tren. Karena itu, peningkatan penggunaan AI di sektor riil—mulai dari keuangan, kesehatan, hingga logistik—akan menjadi penentu utama keberlanjutan investasi hardware AI.

Dengan fokus pada efisiensi dan ekspansi pasar global, d-Matrix berupaya menempatkan diri sebagai pemain kunci dalam rantai pasok AI dunia. Jika adopsi AI terus meluas, permintaan terhadap chip inference diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan investasi teknologi dalam beberapa tahun ke depan. d-Matrix mengambil peluang ini dan mempersiapkan dari sekarang.