Tren Ozempic: Obat Diabetes Jadi Solusi Diet?

(Business Lounge Journal – Medicine)

Pernah mendengar tentang obat diabetes penurun berat badan? Namanya Ozempic, obat berbasis GLP-1 (glucagon-like peptide-1), yang kini tak lagi hanya identik dengan pengobatan diabetes tipe 2. Dalam beberapa tahun terakhir, obat ini menjelma menjadi simbol tren penurunan berat badan modern. Data terbaru menunjukkan 62% orang dewasa menggunakan obat GLP-1 untuk mengobati kondisi kronis seperti diabetes atau penyakit jantung, sementara 43% lainnya mengonsumsinya terutama untuk tujuan menurunkan berat badan. Angka ini menegaskan pergeseran fungsi Ozempic: dari terapi medis menjadi alat pengelolaan tubuh dan gaya hidup.

Dari Obat Resep ke Fenomena Diet

Secara mekanisme, Ozempic bekerja dengan meniru hormon GLP-1 yang membantu mengontrol kadar gula darah, memperlambat pengosongan lambung, dan memberi sinyal kenyang ke otak. Efek inilah yang membuat banyak pengguna makan lebih sedikit dan mengalami penurunan berat badan.

Menurut sejumlah dokter, manfaat ini sah bagi pasien tertentu. “Obat GLP-1 sangat efektif untuk pasien diabetes dan obesitas dengan risiko metabolik tinggi,” kata banyak pakar endokrinologi dalam berbagai forum medis. “Masalah muncul ketika obat ini digunakan semata-mata untuk estetika, tanpa indikasi medis yang jelas.”

Efek Samping yang Perlu Dipertimbangkan

Untuk tujuan menurunkan berat badan, Ozempic tetap membawa risiko. Efek samping yang paling sering dilaporkan meliputi mual, muntah, diare, sembelit, perut kembung, serta hilangnya nafsu makan secara ekstrem. Pada sebagian pengguna, berat badan turun terlalu cepat hingga memicu lemas, pusing, dan kehilangan massa otot.

Efek yang lebih serius—meski jarang—termasuk dehidrasi, gangguan kantong empedu, pankreatitis, hingga perubahan denyut jantung. Fenomena yang dikenal sebagai “Ozempic face” juga menjadi sorotan, ketika wajah tampak lebih cekung akibat hilangnya lemak wajah dalam waktu singkat.

Pro: Mengapa Ozempic Dianggap Terobosan

Pendukung penggunaan Ozempic menilai obat ini sebagai terobosan besar dalam mengatasi obesitas. Bagi banyak orang yang gagal dengan diet dan olahraga konvensional, GLP-1 menawarkan harapan baru. Penurunan berat badan yang signifikan terbukti dapat menurunkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung.

Seorang ahli kesehatan metabolik menyebutkan, “Jika digunakan dengan tepat dan di bawah pengawasan dokter, obat ini bisa menjadi alat yang sangat membantu, bukan sekadar tren.”

Kontra: Risiko Medis dan Etika

Namun kritik juga menguat. Lonjakan penggunaan Ozempic untuk penurunan berat badan memicu kekhawatiran soal akses obat bagi pasien diabetes, serta normalisasi penggunaan obat resep sebagai solusi cepat. Ada pula risiko ketergantungan psikologis, di mana pengguna merasa sulit mempertahankan berat badan tanpa suntikan rutin.

Selain itu, efek jangka panjang penggunaan GLP-1 pada orang tanpa diabetes masih terus diteliti.

Di Persimpangan Terapi dan Tren

Perbandingan data 62% versus 43% menunjukkan Ozempic kini berada di wilayah abu-abu antara kebutuhan medis dan tren gaya hidup. Para pakar sepakat pada satu hal: Ozempic bukan jalan pintas tanpa konsekuensi.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar “apakah Ozempic bisa menurunkan berat badan,” melainkan siapa yang seharusnya menggunakannya, untuk tujuan apa, dan dengan pengawasan seperti apa.