(Business Lounge – Marketing) Data dan refleksi dalam kolom ini berangkat dari sesi talkshow di Indonesia PE-VC Summit yang berlangsung di The St. Regis Jakarta pada 29 Januari 2026. Dalam keynote address bertajuk How Danantara Plans to Catalyse Private Capital for Indonesia’s Next Growth Cycle, Pandu Sjahrir sebagai Chief Investment Officer Danantara Indonesia menyampaikan gagasan yang terasa relevan dengan situasi pasar saat ini: bagaimana menarik modal swasta bukan hanya melalui janji pertumbuhan, tetapi melalui desain ekosistem yang mampu memberi rasa aman dan arah jangka panjang.
Suasana diskusi saat itu menggambarkan realitas yang sedang dihadapi banyak pelaku investasi. Dua tahun terakhir bukan periode yang mudah. Volatilitas global, perubahan persepsi terhadap pasar berkembang, hingga dinamika indeks internasional membuat banyak investor bergerak lebih berhati-hati. Bahkan akumulasi kinerja yang dibangun selama berminggu-minggu bisa menghilang hanya dalam hitungan hari ketika sentimen berubah. Dalam konteks itu, keynote tersebut tidak terdengar seperti presentasi optimisme kosong, melainkan refleksi tentang bagaimana membangun daya tahan pasar.
Pandu menggambarkan Indonesia berada di titik infleksi. Di satu sisi, negara ini memiliki bonus demografi yang besar, populasi produktif yang menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang, serta kebutuhan pembangunan yang membuka peluang investasi lintas sektor. Namun di sisi lain, potensi saja tidak cukup untuk menarik private capital dalam skala besar. Investor global membutuhkan sinyal yang konsisten: struktur investasi yang jelas, tata kelola yang transparan, serta mekanisme mitigasi risiko yang dapat dipahami.
Ia menekankan bahwa peran Danantara tidak dirancang untuk mendominasi struktur pembiayaan. Sebaliknya, institusi ini ingin menjadi mitra bagi investor lain, membuka jalan agar proyek-proyek strategis bisa berkembang lebih cepat. Pendekatan yang disampaikan berfokus pada tiga kata kunci: de-risking, signaling, dan structuring. De-risking berarti membantu mengurangi risiko awal proyek sehingga investor lain lebih percaya diri untuk masuk. Signaling berarti memberikan sinyal kepada pasar bahwa proyek memiliki dukungan institusional yang kuat. Sementara structuring berkaitan dengan penyusunan kendaraan investasi yang lebih rapi dan dapat diulang.
Gagasan tentang anchor capital menjadi salah satu poin yang paling banyak menarik perhatian peserta forum. Dalam banyak proyek, tahap awal sering kali menjadi bagian paling sulit karena risiko masih tinggi dan kepastian belum terbentuk. Dengan hadir sebagai anchor capital, Danantara ingin memberikan fondasi awal yang dapat menarik investor berikutnya. Bahkan konsep menjadi pihak yang menanggung risiko pertama atau first loss menunjukkan perubahan cara pandang dalam pembiayaan pembangunan. Negara tidak hanya berdiri sebagai regulator, tetapi juga sebagai katalis yang menciptakan ruang bagi modal swasta untuk tumbuh.
Dalam keynote tersebut juga muncul kritik halus terhadap pola investasi lama yang cenderung episodik. Banyak proyek besar di masa lalu bergantung pada momentum sesaat atau arus modal jangka pendek. Pandu menekankan bahwa ekosistem yang sehat membutuhkan platform bisnis yang berkelanjutan, bukan transaksi tunggal yang berdiri sendiri. Sektor energi, infrastruktur, industri, dan aset digital disebut sebagai fondasi untuk membangun platform investasi yang dapat direplikasi. Ketika proyek dapat digabungkan dalam struktur yang lebih besar, maka skala investasi meningkat dan biaya modal berpotensi menurun secara struktural.
Diskusi di Indonesia PE-VC Summit juga tidak menghindari topik sensitif seperti perkembangan MSCI yang sempat memengaruhi sentimen pasar. Pandu menyebut peristiwa tersebut sebagai “cold plunge”, sebuah wake-up call yang mengingatkan bahwa pasar tidak boleh berada dalam zona nyaman. Ia menegaskan bahwa komentar eksternal terhadap pasar seharusnya dilihat sebagai kesempatan untuk memperbaiki sistem, bukan sebagai ancaman. Dalam salah satu pernyataan yang paling diingat peserta, ia mengatakan bahwa investor tidak bisa “memukul pemain”, tetapi harus memperbaiki “permainan” itu sendiri.
Pernyataan itu memiliki makna yang lebih luas. Dalam dunia investasi global, reputasi sebuah pasar tidak hanya dibangun dari kinerja ekonomi, tetapi juga dari kualitas aturan, kedalaman likuiditas, dan konsistensi kebijakan. Jika permainan dirancang dengan baik, volatilitas jangka pendek tidak akan mudah menggoyahkan kepercayaan jangka panjang. Sebaliknya, jika struktur pasar rapuh, bahkan kabar kecil bisa memicu reaksi berlebihan.
Strategi alokasi yang disampaikan dalam keynote tersebut mencerminkan pendekatan yang seimbang antara pasar publik dan privat. Sekitar setengah portofolio akan tetap berada di aset publik, mulai dari ekuitas hingga fixed income dan instrumen likuid lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa likuiditas tetap menjadi fondasi utama dalam pengelolaan dana. Di sisi lain, investasi privat akan mencakup berbagai segmen seperti infrastruktur, real estate, growth capital, venture capital, private equity, hingga private credit dan investasi langsung. Pendekatan ini bertujuan membangun ekosistem modal yang lengkap dan saling mendukung.
Pandu juga menyinggung pentingnya menciptakan kendaraan investasi yang dapat diulang. Private capital tidak boleh hanya hadir ketika kondisi pasar sedang euforia. Ia harus menjadi bagian dari arus investasi yang konsisten. Untuk mencapai itu, biaya modal harus menurun secara struktural dan pasar harus menjadi lebih dalam. Jika Indonesia mampu menciptakan lingkungan yang stabil, maka investor global tidak lagi melihat negara ini sebagai peluang taktis, melainkan sebagai core allocation dalam portofolio mereka.
Dalam suasana diskusi di The St. Regis Jakarta, terlihat jelas bahwa banyak peserta forum mencari jawaban atas pertanyaan yang sama: bagaimana membuat modal swasta kembali bergerak agresif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Keynote tersebut tidak memberikan solusi instan, tetapi menawarkan kerangka berpikir yang berbeda. Fokusnya bukan pada transaksi tunggal, melainkan pada pembangunan ekosistem yang memungkinkan investasi berkembang secara berkelanjutan.
Ada juga pesan implisit tentang perubahan peran institusi negara dalam ekonomi modern. Jika sebelumnya negara lebih sering dipandang sebagai pengatur atau pemberi izin, kini peran tersebut berkembang menjadi katalis yang aktif membangun kepercayaan pasar. Dengan hadir lebih awal dalam proyek, membantu menyusun struktur investasi, dan menciptakan platform yang dapat direplikasi, negara berupaya mempercepat pertumbuhan tanpa harus mendominasi.
Namun, keynote tersebut juga mengingatkan bahwa perjalanan menuju pasar yang lebih matang tidak akan terjadi dalam semalam. Perubahan persepsi investor membutuhkan waktu, konsistensi kebijakan, serta transparansi yang terus ditingkatkan. Pandu menekankan bahwa kritik eksternal harus diterima sebagai dorongan untuk memperbaiki diri. Jika pasar ingin bersaing di tingkat global, maka standar yang digunakan pun harus setara dengan pasar-pasar besar lainnya.
Bagi banyak peserta Indonesia PE-VC Summit, pesan yang paling terasa mungkin adalah ajakan untuk melihat investasi sebagai proses jangka panjang. Dalam dunia yang semakin cepat berubah, mudah bagi investor untuk terjebak dalam siklus berita harian. Namun, pembangunan ekosistem membutuhkan perspektif yang lebih luas. Platform bisnis yang kuat, tata kelola yang konsisten, dan kemitraan antara institusi publik dan swasta menjadi kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Di luar strategi teknis, keynote tersebut juga menghadirkan narasi tentang optimisme yang realistis. Indonesia memiliki peluang besar, tetapi peluang itu harus diiringi dengan kerja keras untuk memperkuat struktur pasar. Tidak ada ruang untuk berpuas diri hanya karena pertumbuhan ekonomi terlihat positif. Justru di tengah momentum itulah reformasi harus dilakukan agar pasar semakin dalam dan kompetitif.
Seiring berakhirnya sesi talkshow, suasana ruangan terasa seperti refleksi kolektif tentang masa depan investasi nasional. Banyak peserta mungkin datang dengan harapan mendengar strategi investasi yang konkret, tetapi pulang dengan pemahaman bahwa tantangan terbesar justru berada pada pembangunan sistem. Dalam dunia private capital yang semakin kompleks, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memilih proyek, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan lingkungan yang membuat proyek tersebut layak didanai.
Kolom ini mencoba menangkap esensi dari diskusi tersebut: bahwa pertumbuhan berikutnya tidak akan datang hanya dari angka atau headline besar. Ia akan lahir dari keberanian untuk merancang permainan yang lebih baik, membangun kepercayaan yang lebih dalam, dan menciptakan struktur investasi yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Jika Indonesia mampu mengubah cara pandang terhadap modal swasta dari sekadar peluang sesaat menjadi kemitraan jangka panjang, maka visi menjadikan negara ini sebagai tujuan utama investasi global bukanlah hal yang mustahil.
Keynote address di Indonesia PE-VC Summit bukan hanya tentang rencana Danantara, tetapi tentang bagaimana Indonesia ingin menulis bab berikutnya dalam perjalanan ekonominya. Di tengah dunia yang semakin kompetitif, kemampuan untuk menarik dan mempertahankan kepercayaan investor mungkin menjadi aset paling berharga. Dan seperti yang disampaikan dalam forum tersebut, membangun permainan yang kuat sering kali jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan satu putaran.

