(Business Lounge – Global News) Amazon kembali melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran dengan memangkas sekitar 16.000 karyawan korporat, menandai gelombang efisiensi terbaru di raksasa teknologi dan e-commerce tersebut. Langkah ini menyusul pemangkasan sekitar 14.000 pekerja kantoran yang telah dilakukan pada Oktober lalu, mempertegas bahwa tekanan untuk menekan biaya dan merampingkan organisasi masih jauh dari selesai.
Menurut laporan yang dikutip Reuters, gelombang PHK terbaru ini terutama menyasar karyawan non-teknis atau white-collar di berbagai divisi, termasuk sumber daya manusia, pemasaran, dan beberapa unit pendukung bisnis lainnya. Meski Amazon tidak merinci secara terbuka divisi mana saja yang terdampak paling besar, perusahaan mengonfirmasi bahwa keputusan ini merupakan bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap struktur organisasi dan prioritas investasi jangka panjang.
Langkah ini mencerminkan perubahan besar dalam strategi Amazon pascapandemi. Setelah sempat melakukan perekrutan besar-besaran untuk memenuhi lonjakan permintaan selama masa lockdown, perusahaan kini menghadapi realitas pasar yang jauh lebih ketat. Pertumbuhan e-commerce melambat, belanja konsumen lebih selektif, dan investor semakin menuntut efisiensi serta profitabilitas yang lebih konsisten.
Dalam pernyataan internal yang dikutip Wall Street Journal, manajemen Amazon menekankan bahwa keputusan ini bukan diambil dengan mudah. Namun, perusahaan menilai perlu melakukan penyesuaian agar struktur biaya sejalan dengan kondisi bisnis saat ini. Fokus utama Amazon kini adalah mengalokasikan sumber daya ke area yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang, seperti layanan cloud, kecerdasan buatan, dan infrastruktur logistik yang lebih efisien.
Pemangkasan ini menambah panjang daftar PHK yang telah dilakukan Amazon sejak 2023. Secara kumulatif, puluhan ribu pekerja telah terdampak dalam beberapa gelombang restrukturisasi. Meski demikian, Amazon masih menjadi salah satu pemberi kerja terbesar di dunia, dengan ratusan ribu karyawan yang tersebar di berbagai negara. Yang berubah adalah komposisi dan fokus tenaga kerjanya.
Menurut analisis Bloomberg, langkah Amazon sejalan dengan tren yang lebih luas di industri teknologi global. Banyak perusahaan teknologi besar kini mengoreksi strategi ekspansi agresif yang dilakukan selama pandemi. Ketika pertumbuhan melambat dan biaya operasional meningkat, efisiensi kembali menjadi kata kunci utama. Amazon, yang selama bertahun-tahun dikenal rela mengorbankan margin demi ekspansi, kini tampak lebih berhati-hati.
Di sisi lain, pasar menyambut langkah ini dengan relatif positif. Investor melihat pemangkasan biaya sebagai sinyal bahwa manajemen serius menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global. Saham Amazon cenderung stabil setelah kabar PHK tersebut, mencerminkan ekspektasi bahwa langkah ini akan membantu memperbaiki kinerja keuangan dalam jangka menengah.
Namun, dampak sosial dari kebijakan ini tetap signifikan. Ribuan pekerja profesional harus kembali memasuki pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif, khususnya di sektor teknologi. Banyak di antara mereka sebelumnya direkrut dengan agresif saat Amazon memperluas lini bisnisnya, termasuk proyek-proyek eksperimental yang kini dikurangi skalanya atau bahkan dihentikan.
Di dalam perusahaan sendiri, restrukturisasi ini juga membawa perubahan budaya. Amazon selama ini dikenal dengan budaya kerja yang sangat menuntut, tetapi juga menawarkan peluang karier besar. Dengan fokus yang kini lebih sempit dan selektif, peluang internal menjadi lebih kompetitif, sementara tekanan untuk menunjukkan kinerja tinggi semakin besar.
Meski melakukan pemangkasan, Amazon menegaskan bahwa mereka tetap berinvestasi di area strategis. Pengembangan kecerdasan buatan, otomatisasi logistik, serta layanan cloud melalui AWS masih menjadi prioritas utama. Perusahaan melihat AI sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang yang dapat meningkatkan efisiensi internal sekaligus membuka peluang pendapatan baru.
Langkah ini juga mencerminkan perubahan lanskap teknologi global, di mana skala besar tidak lagi menjadi satu-satunya keunggulan. Efisiensi, fokus, dan kemampuan beradaptasi kini menjadi faktor penentu keberhasilan. Amazon, yang selama dua dekade dikenal sebagai simbol ekspansi tanpa henti, kini berada dalam fase konsolidasi yang lebih realistis.
Sejumlah analis menilai bahwa keputusan ini, meskipun pahit, bisa menjadi fondasi bagi Amazon untuk kembali tumbuh lebih sehat. Dengan struktur biaya yang lebih ramping dan fokus bisnis yang lebih jelas, perusahaan berpotensi meningkatkan margin sekaligus mempertahankan daya saing di tengah tekanan dari rival seperti Microsoft, Google, dan pemain e-commerce global lainnya.
Gelombang PHK ini menegaskan satu hal penting: era pertumbuhan tanpa batas di sektor teknologi telah berakhir. Amazon, seperti banyak raksasa teknologi lainnya, kini memasuki fase baru yang menuntut disiplin finansial dan strategi yang lebih terukur. Bagi pasar, langkah ini mungkin dipandang rasional. Namun bagi ribuan karyawan yang terdampak, ini menjadi pengingat keras bahwa bahkan perusahaan terbesar sekalipun tidak kebal terhadap perubahan siklus bisnis, sebagaimana dicatat oleh Reuters, Bloomberg, dan Wall Street Journal.

