(Business Lounge – Global News) Ryanair kembali menjadi sorotan setelah maskapai berbiaya rendah terbesar di Eropa itu menaikkan proyeksi kinerja keuangannya untuk tahun fiskal 2026. Keputusan ini datang di tengah permintaan perjalanan udara yang terus menguat dan kabar positif dari sisi pasokan pesawat, menyusul percepatan pengiriman armada Boeing yang sebelumnya sempat tertahan. Kombinasi dua faktor ini memberi napas lega bagi Ryanair, yang dalam beberapa tahun terakhir harus menavigasi tantangan mulai dari gangguan rantai pasok hingga ketidakpastian ekonomi global.
Manajemen Ryanair menyampaikan bahwa permintaan tiket untuk musim panas dan paruh awal tahun fiskal berikutnya berada di atas ekspektasi awal. Lonjakan pemesanan terlihat tidak hanya pada rute-rute liburan populer di Eropa Selatan, tetapi juga pada jalur bisnis jarak pendek yang sempat melemah pascapandemi. Menurut laporan Reuters, tingkat pemesanan yang kuat ini membuat perusahaan lebih percaya diri untuk menaikkan proyeksi jumlah penumpang dan pendapatan, meski kondisi ekonomi Eropa masih dibayangi inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
Salah satu faktor kunci di balik optimisme tersebut adalah membaiknya jadwal pengiriman pesawat Boeing 737-8200 “Gamechanger”. Selama dua tahun terakhir, Ryanair menjadi salah satu maskapai yang paling terdampak oleh krisis kualitas dan produksi Boeing. Keterlambatan pengiriman memaksa perusahaan menahan ekspansi rute dan membatasi pertumbuhan kapasitas. Namun kini, situasi mulai berubah. Menurut Bloomberg, Boeing berhasil mempercepat laju produksi dan pengiriman, sehingga Ryanair menerima lebih banyak pesawat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Pesawat baru ini memainkan peran penting dalam strategi jangka panjang Ryanair. Dengan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien dan kapasitas kursi yang lebih besar, armada 737-8200 memungkinkan maskapai menekan biaya per kursi sekaligus meningkatkan margin keuntungan. Dalam iklim persaingan ketat di industri penerbangan Eropa, efisiensi biaya tetap menjadi senjata utama Ryanair untuk mempertahankan tarif murah tanpa mengorbankan profitabilitas.
Kondisi pasar juga mendukung langkah optimistis tersebut. Permintaan perjalanan udara di Eropa terus pulih, bahkan melampaui level sebelum pandemi di sejumlah negara. Wisatawan semakin agresif merencanakan liburan, sementara perjalanan bisnis perlahan kembali meski dengan pola yang lebih selektif. Financial Times mencatat bahwa maskapai berbiaya rendah seperti Ryanair dan easyJet menjadi pihak yang paling diuntungkan dari tren ini, karena konsumen semakin sensitif terhadap harga di tengah tekanan biaya hidup.
Di sisi lain, Ryanair tetap berhati-hati dalam menyusun proyeksi ke depan. Manajemen menyadari bahwa sejumlah risiko masih membayangi, mulai dari fluktuasi harga bahan bakar, ketegangan geopolitik di beberapa kawasan, hingga potensi perlambatan ekonomi Eropa. Meski demikian, perusahaan menilai permintaan saat ini cukup kuat untuk menyerap kenaikan kapasitas yang direncanakan sepanjang 2025 hingga 2026.
Peningkatan panduan kinerja ini juga mencerminkan kepercayaan diri Ryanair terhadap posisinya di pasar. Dengan neraca yang relatif sehat dan biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan maskapai pesaing, Ryanair berada dalam posisi yang menguntungkan untuk merebut pangsa pasar ketika maskapai lain masih berhati-hati melakukan ekspansi. The Wall Street Journal mencatat bahwa strategi agresif Ryanair dalam menambah rute dan frekuensi penerbangan sering kali berhasil menekan kompetitor, terutama di bandara sekunder Eropa.
Dari sisi Boeing, percepatan pengiriman ke Ryanair menjadi sinyal penting bahwa produsen pesawat asal Amerika Serikat itu mulai keluar dari periode sulitnya. Setelah dihantam berbagai masalah keselamatan dan pengawasan regulator, kemampuan Boeing untuk kembali menepati jadwal pengiriman menjadi faktor krusial bagi pemulihan kepercayaan maskapai global. Bagi Ryanair, kepastian pasokan pesawat berarti kepastian ekspansi dan stabilitas operasional dalam beberapa tahun ke depan.
Ryanair diperkirakan akan terus memanfaatkan momentum permintaan tinggi ini dengan menambah kapasitas secara bertahap, sambil tetap menjaga disiplin biaya yang selama ini menjadi ciri khasnya. Kombinasi antara harga tiket kompetitif, armada yang semakin efisien, dan permintaan perjalanan yang solid membuat prospek maskapai ini terlihat lebih cerah dibandingkan sebagian besar pesaingnya di Eropa.
Kenaikan proyeksi kinerja Ryanair bukan sekadar respons jangka pendek, melainkan cerminan dari perubahan fundamental di pasar penerbangan Eropa. Selama permintaan tetap kuat dan pasokan pesawat berjalan lancar, Ryanair tampaknya berada di jalur yang tepat untuk melanjutkan pertumbuhan agresifnya dalam beberapa tahun ke depan, sebagaimana disorot oleh Reuters, Bloomberg, dan Financial Times.

