(Business Lounge – Global News) Telenor kembali mengambil langkah besar dalam merombak portofolio bisnisnya di Asia. Perusahaan telekomunikasi asal Norwegia itu sepakat menjual sebagian sahamnya di True Corporation, operator telekomunikasi terbesar di Thailand, dengan nilai transaksi sekitar 3,9 miliar dolar AS. Langkah ini menandai fase lanjutan dari strategi Telenor untuk merampingkan operasi regional dan memusatkan perhatian pada pasar-pasar yang dinilai paling menguntungkan secara jangka panjang.
Dalam kesepakatan tersebut, Telenor akan melepas sebagian kepemilikannya kepada Gulf Energy Development, konglomerat energi Thailand yang juga menjadi mitra strategis dalam penggabungan True dan DTAC sebelumnya. Selain penjualan saham, Telenor dan Arise Digital Technology Company turut menyepakati skema put-and-call option, yang memberi kedua pihak fleksibilitas untuk menambah atau melepas saham di masa depan, tergantung kondisi pasar dan arah strategi masing-masing, seperti dilaporkan Bloomberg.
Nilai transaksi yang mencapai 3,9 miliar dolar AS menjadikan langkah ini salah satu divestasi terbesar Telenor dalam beberapa tahun terakhir. Langkah tersebut sekaligus menegaskan komitmen perusahaan untuk mengurangi eksposur di Asia, setelah sebelumnya keluar dari pasar Myanmar dan mengurangi kepemilikan di sejumlah negara lain. Bagi Telenor, fokus kini diarahkan pada pasar inti seperti Nordik, serta penguatan neraca keuangan di tengah tekanan industri telekomunikasi global.
True sendiri merupakan hasil merger antara True Corporation dan DTAC yang rampung pada 2023, menciptakan operator telekomunikasi terbesar di Thailand dengan basis pelanggan puluhan juta pengguna. Telenor sebelumnya menjadi pemegang saham utama di DTAC, sehingga tetap memiliki kepentingan strategis pascamerger. Namun, konsolidasi industri yang semakin ketat dan kebutuhan investasi besar untuk jaringan 5G membuat kepemilikan mayoritas tidak lagi sejalan dengan arah bisnis Telenor, menurut analisis Reuters.
Melalui penjualan ini, Telenor akan memperoleh tambahan likuiditas yang signifikan. Dana tersebut diperkirakan akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, membayar utang, serta mendanai investasi teknologi di pasar utama Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi tekanan margin akibat persaingan tarif, kebutuhan belanja modal yang tinggi, serta perubahan pola konsumsi digital pelanggan.
Kesepakatan put-and-call option dengan Arise Digital juga mencerminkan pendekatan hati-hati Telenor. Skema ini memungkinkan perusahaan untuk tetap memiliki jalur keluar atau masuk kembali di masa depan, tergantung dinamika bisnis dan valuasi True. Dengan kata lain, Telenor tidak sepenuhnya menutup pintu terhadap pasar Thailand, tetapi memilih pendekatan yang lebih fleksibel dan minim risiko, sebagaimana disoroti Financial Times.
Bagi Gulf Energy dan mitranya, transaksi ini memperkuat posisi mereka sebagai pemain dominan di sektor telekomunikasi Thailand. Dengan kendali yang lebih besar atas True, mereka memiliki ruang lebih luas untuk melakukan efisiensi, mempercepat ekspansi layanan digital, serta memaksimalkan sinergi dengan bisnis energi dan infrastruktur yang mereka miliki. Pasar Thailand sendiri dinilai masih menjanjikan, terutama untuk layanan data, cloud, dan solusi digital korporasi.
Langkah Telenor ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri telekomunikasi global. Banyak operator besar mulai meninjau ulang eksposur internasional mereka, memilih fokus pada pasar inti yang menawarkan stabilitas regulasi dan potensi keuntungan jangka panjang. Tekanan dari kebutuhan investasi jaringan generasi terbaru, seperti 5G dan kelak 6G, membuat perusahaan harus lebih selektif dalam mengalokasikan modal.
Di sisi lain, keputusan ini juga menunjukkan perubahan pendekatan Telenor terhadap pertumbuhan. Alih-alih mengejar ekspansi geografis agresif, perusahaan kini lebih menekankan profitabilitas, efisiensi operasional, dan pengembalian kepada pemegang saham. Strategi ini sejalan dengan tuntutan investor global yang semakin menuntut disiplin modal dan transparansi kinerja.
Meski demikian, pasar tetap akan mencermati langkah lanjutan Telenor setelah transaksi ini rampung. Pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah perusahaan akan melanjutkan divestasi di Asia atau justru menahan sisa kepemilikan sebagai opsi strategis jangka panjang. Dengan dinamika industri yang cepat berubah, fleksibilitas menjadi kunci.
Secara keseluruhan, penjualan saham di True senilai 3,9 miliar dolar AS bukan sekadar transaksi finansial, melainkan bagian dari transformasi besar Telenor dalam menghadapi realitas baru industri telekomunikasi global. Langkah ini menegaskan bahwa di tengah persaingan ketat dan kebutuhan investasi besar, fokus dan disiplin strategi menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis, seperti banyak dicatat oleh Bloomberg dan Reuters.

