Raksasa semikonduktor asal Amerika Serikat, Intel, sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kinerja keuangan terbaru menunjukkan tekanan yang belum mereda. Namun di sisi lain, perusahaan melihat secercah harapan dari bisnis pembuatan chip untuk klien lain (foundry) yang diperkirakan mulai menggeliat pada paruh kedua 2026.
Dalam laporan keuangan kuartal Oktober–Desember 2025 yang diumumkan Kamis waktu setempat, Intel membukukan pendapatan sebesar US$13,7 miliar. Angka ini turun sekitar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hasil tersebut langsung memicu reaksi keras pasar: saham Intel anjlok lebih dari 10% dalam satu hari perdagangan. Bagi investor, penurunan ini menjadi sinyal bahwa jalan pemulihan Intel masih terjal.
Manajemen Intel secara terbuka mengakui bahwa kuartal-kuartal awal 2026 akan tetap menantang. Permintaan pasar yang belum stabil, persaingan ketat dari produsen chip lain, serta beban investasi besar untuk membangun fasilitas manufaktur canggih masih menekan kinerja perusahaan. Bisnis foundry Intel—yang digadang-gadang sebagai mesin pertumbuhan baru—bahkan masih mencatatkan kerugian.
Namun, Intel menekankan bahwa situasi ini bukan tanpa arah. Perusahaan menyebut akan ada “kepastian yang lebih besar” dari para klien kontrak pada paruh kedua 2026. Artinya, perusahaan-perusahaan teknologi yang memesan chip ke Intel mulai memberikan komitmen volume dan jadwal produksi yang lebih jelas. Hal ini sangat penting bagi bisnis foundry, karena kepastian pesanan memungkinkan pabrik beroperasi lebih efisien dan biaya produksi bisa ditekan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Intel berupaya keras mengejar ketertinggalan dari para pesaing seperti TSMC dan Samsung di bidang manufaktur chip. Strateginya adalah menjadi produsen chip tidak hanya untuk kebutuhan internal, tetapi juga untuk perusahaan lain, termasuk pemain besar di industri teknologi global. Ambisi ini membutuhkan investasi puluhan miliar dolar, mulai dari pembangunan pabrik baru hingga pengembangan teknologi proses yang lebih canggih.
Optimisme Intel terhadap paruh kedua 2026 mencerminkan keyakinan bahwa strategi jangka panjang ini mulai menunjukkan hasil, meski belum tercermin penuh dalam laporan keuangan saat ini. Dengan pesanan yang mulai “naik kelas” dari sekadar uji coba menjadi produksi yang lebih serius, Intel berharap bisnis foundry bisa perlahan keluar dari fase sulit.
Bagi pasar, pesan Intel terbilang campur aduk. Dalam jangka pendek, tekanan masih terasa dan risiko tetap tinggi, itulah sebabnya sahamnya langsung tertekan. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, sinyal meningkatnya pesanan chip memberi harapan bahwa Intel tidak hanya bertahan, tetapi juga sedang menyiapkan fondasi untuk bangkit kembali di industri semikonduktor yang sangat kompetitif.
Singkatnya, 2026 mungkin menjadi tahun yang berat di awal, tetapi bisa menentukan masa depan Intel jika optimisme di paruh kedua benar-benar terwujud. Jika benar-benar terwujug maka 2026 akan menjadi tahun kebangkitan Intel.

