Amerika Serikat sedang serius ingin menghidupkan kembali kejayaannya di industri semikonduktor. Di tengah persaingan global yang makin ketat, negara bagian Arizona muncul sebagai salah satu pusat penting dalam upaya ini. Kehadiran raksasa chip dunia seperti TSMC dan Intel memang membawa investasi miliaran dolar, tetapi ada satu tantangan besar yang tidak kalah krusial: kekurangan tenaga kerja terampil.
Pada suatu sore di musim gugur di Mesa Community College, suasana kelas terasa berbeda. Ruangan “Quick Start” dipenuhi oleh peserta dari berbagai latar belakang. Ada remaja yang masih mencari arah karier, ada pula pekerja berpengalaman yang ingin memulai babak baru dalam hidupnya. Mereka datang dengan satu tujuan: mengenal industri chip dari dasar.
Di depan kelas, Jody Sampley, seorang manajer pabrik Intel, memperkenalkan istilah-istilah kunci dunia semikonduktor. Tidak hanya teori, para peserta juga diajak memahami praktik dasar manufaktur chip. Program Quick Start ini memang dirancang sebagai pintu masuk cepat bagi siapa pun yang ingin terjun ke industri yang selama ini dianggap rumit dan eksklusif.
Arizona sadar bahwa membangun pabrik canggih saja tidak cukup. Mesin-mesin tercanggih di dunia tetap membutuhkan manusia yang mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya. Karena itu, pemerintah negara bagian, perguruan tinggi komunitas, dan perusahaan teknologi bekerja sama menciptakan program pelatihan yang lebih praktis dan langsung siap kerja.
TSMC, perusahaan asal Taiwan yang sedang membangun pabrik besar di Arizona, dan Intel yang sudah lama beroperasi di wilayah ini, sama-sama membutuhkan ribuan teknisi, operator, dan insinyur. Tidak semuanya harus bergelar doktor. Banyak posisi membutuhkan keterampilan teknis spesifik yang justru bisa dipelajari melalui pendidikan vokasi dan pelatihan intensif seperti Quick Start.
Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah keterbatasan visa kerja H-1B yang selama ini menjadi jalur utama bagi tenaga ahli asing untuk bekerja di Amerika Serikat. Industri semikonduktor sangat bergantung pada talenta global, terutama untuk posisi-posisi sangat spesialis. Ketika kuota visa terbatas dan prosesnya berbelit, perusahaan kesulitan mengisi kebutuhan mendesak mereka.
Kondisi ini mendorong Arizona untuk semakin fokus mengembangkan talenta lokal. Anak muda didorong melihat industri chip sebagai pilihan karier menjanjikan, bukan sekadar pekerjaan pabrik. Sementara itu, para pekerja yang terdampak perubahan industri lain diberi kesempatan untuk “reskilling” dan masuk ke sektor teknologi tinggi.
Upaya Arizona menunjukkan bahwa kebangkitan industri chip AS bukan hanya soal geopolitik atau keamanan rantai pasok, tetapi juga soal manusia. Dari ruang kelas sederhana di Mesa hingga pabrik berteknologi tinggi, masa depan semikonduktor Amerika sedang dibangun—satu talenta pada satu waktu.

