Apa yang Sebenarnya Disampaikan Para CEO dan Pemimpin Dunia di Davos

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) kembali digelar di Davos. Tema resminya tahun ini adalah a spirit of dialogue—semangat dialog. Namun, di balik bahasa diplomatis dan pernyataan yang terukur, tersirat pesan-pesan yang jauh lebih keras tentang kondisi ekonomi global saat ini.

Lebih dari 60 kepala negara hadir, bersama ratusan pemimpin bisnis global. Salah satunya adalah Andy Jassy, CEO Amazon, perusahaan dengan kapitalisasi pasar sekitar US$2,5 triliun—lebih besar dari perekonomian banyak negara.

Konsumen Masih Belanja, Tapi Lebih Berhati-hati

Berbicara kepada CNBC dari Davos, Jassy menggambarkan kondisi konsumen global dengan kalimat yang sangat terukur. Konsumen, menurutnya, masih berbelanja, tetapi dengan pola yang berubah:

  • Lebih sensitif harga
  • Aktif mencari diskon
  • Lebih ragu membeli barang non-esensial dengan harga tinggi

Amazon, bersama para penjual pihak ketiga, mencoba mengantisipasi dampak kebijakan tarif Presiden Donald Trump dengan membeli stok lebih awal di awal 2025. Strategi ini bertujuan meredam kenaikan harga akibat tarif impor.

Namun, Jassy mengakui bahwa upaya tersebut tidak sepenuhnya bisa menahan efek lanjutan. Tarif mulai merembes ke harga,” ujarnya singkat—sebuah pengakuan bahwa tekanan biaya kini mulai terasa langsung oleh konsumen.

Tarif Bukan Isu Teoritis bagi Dunia Usaha

Bagi sektor ritel yang marginnya tipis, tarif bukan sekadar wacana kebijakan. Jassy menyebutnya sebagai tantangan struktural, bukan tekanan sementara.

Dalam praktiknya, tarif berpotensi:

  • Menaikkan harga jutaan produk
  • Menekan jutaan penjual dalam ekosistem marketplace
  • Mengurangi ruang gerak bisnis untuk menyerap biaya tambahan

Jassy pun menjelaskan, “Tidak ada pilihan yang tak terbatas.” Ia menegaskan bahwa pada titik tertentu, biaya akan sampai ke konsumen.

AI dan Masa Depan Tenaga Kerja

Selain tarif, Jassy juga menyinggung perubahan yang lebih sunyi namun berdampak jangka panjang: kecerdasan buatan generatif (GenAI).

Menurutnya, AI memang belum menggantikan tenaga kerja secara masif. Namun kemampuannya dalam:

  • Coding
  • Analitik
  • Layanan pelanggan

akan membuat perusahaan membutuhkan lebih sedikit orang untuk peran-peran tertentu di masa depan. Dampaknya bukan hanya pada pekerjaan rutin, tetapi juga pada “thinking work”—pekerjaan berbasis analisis dan pengambilan keputusan. “Dalam beberapa tahun ke depan, saya bisa membayangkan jumlah karyawan lebih sedikit dibanding sebelumnya,” ujar Jassy.

Eropa Bicara dengan Bahasa Sejarah

Jika para CEO berbicara soal mekanisme ekonomi sehari-hari, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memilih pendekatan yang lebih historis.

Dalam pidatonya, ia menyinggung “Nixon Shock” tahun 1971—saat Amerika Serikat mengakhiri sistem Bretton Woods dan mengguncang tatanan ekonomi global pasca-Perang Dunia II. Pesannya jelas, meski tidak diucapkan secara eksplisit: ketergantungan berlebihan adalah risiko strategis.

Von der Leyen menyiratkan bahwa perubahan sikap Amerika Serikat dalam perdagangan dan diplomasi global saat ini kembali mengingatkan Eropa pada pentingnya:

  • Kemandirian ekonomi
  • Penguatan rantai pasok regional
  • Pengurangan ketergantungan strategis

Jika tahun lalu peringatan ini dianggap berlebihan, tahun ini ia mengklaim sudah ada konsensus nyata di Eropa.

Davos dan Bahasa yang Dipilih dengan Hati-hati

Davos sering diberitakan seolah-olah menjadi sumber gagasan baru. Padahal, lebih sering ia berfungsi sebagai ruang di mana status quo diucapkan dengan sedikit lebih jujur—namun tetap sopan.

Tahun ini, kesopanannya terasa lebih tegang:

  • Eksekutif menyebut dampak tanpa menyebut penyebab
  • Pemimpin Eropa berbicara lewat analogi sejarah
  • Ketidakstabilan ekonomi dibahas seperti cuaca, bukan hasil keputusan politik

Ada pengakuan diam-diam bahwa disrupsi saat ini bukan jenis disrupsi yang lahir dari inovasi atau kebutuhan mendesak, melainkan dari ketidakpastian kebijakan dan arah global yang berubah-ubah.

Dan disrupsi semacam ini, seperti yang tersirat di Davos, cenderung:

  • Menaikkan harga
  • Memperumit persoalan politik
  • Mempersempit pilihan bagi pelaku pasar

Tak ada yang secara terbuka menyebutnya, tetapi nyaris semua sepakat: ini bukan disrupsi yang terasa produktif atau membangun.

Pict:WEF