(Business Lounge Journal – Human Resources)
Di dunia bisnis yang serba cepat, pemimpin sering dituntut untuk selalu sigap, cepat mengambil keputusan, dan segera bertindak. Berhenti sejenak kerap dianggap sebagai tanda ragu atau kurang tegas. Padahal, dalam banyak situasi, menahan diri justru menjadi kekuatan utama seorang pemimpin.
Kecepatan memang penting, tetapi tanpa waktu untuk berpikir, keputusan mudah dipengaruhi emosi dan tekanan. Laporan LHH – Views from the C-Suite 2025 mencatat bahwa lebih dari separuh pemimpin global mengalami kelelahan kerja, dan 43% organisasi mengalami pergantian pimpinan besar dalam setahun terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa budaya “selalu bergerak” tidak selalu menghasilkan kepemimpinan yang sehat.
Naluri untuk langsung bertindak—membalas pesan, menyelesaikan masalah, atau membuat keputusan cepat—sering dipuji sebagai ciri pemimpin kuat. Namun pemimpin yang berpengalaman memahami bahwa waktu dan ketenangan sering kali membuat keputusan menjadi lebih tepat. Berhenti sejenak membantu pemimpin bertindak dengan tujuan, bukan sekadar bereaksi.
Berhenti Sejenak Bisa Membuat Keputusan Lebih Tepat
Dalam lingkungan kerja yang menghargai kecepatan, berhenti sering terasa tidak nyaman. Namun pemimpin yang meluangkan waktu untuk mengamati dan menilai ulang situasi biasanya mengambil keputusan yang lebih baik dan bertahan lama.
Berhenti secara strategis bukan berarti pasif. Ini adalah proses aktif: melihat apa yang terjadi, mendengar masukan dari berbagai pihak, lalu menentukan apakah perlu mengubah arah atau tetap melanjutkan rencana.
John Conway, CEO Sparkling Bins, pernah menghadapi pesaing baru yang datang dengan janji besar dan langsung menarik perhatian pasar. Alih-alih bereaksi cepat, ia memilih menunggu, mempelajari situasi, dan tetap fokus pada strategi jangka panjang. Seiring waktu, perbedaan antara janji cepat dan kualitas yang konsisten menjadi jelas.
Kadang, tidak langsung bereaksi justru memberi keuntungan.
Mengapa Keputusan Lebih Baik Setelah Istirahat
Istirahat membantu pikiran bekerja lebih jernih. Saat tidur, otak menata ulang informasi dan emosi, sehingga kita bisa melihat masalah dengan sudut pandang yang lebih tenang.
Banyak pemimpin hampir mengambil keputusan besar karena emosi setelah rapat yang melelahkan. Namun setelah tidur dan berpikir ulang keesokan harinya, mereka menyadari bahwa dorongan tersebut muncul karena stres, bukan karena data. Dengan memberi waktu, keputusan yang diambil menjadi lebih rasional dan terukur.
Berhenti sejenak dan beristirahat bukan tanda ragu, melainkan cara menjaga kualitas keputusan.
Diam Sejenak Bisa Memberi Ruang bagi Tim
Dalam kepemimpinan, diam sering disalahartikan sebagai tidak peduli. Padahal, diam pada saat yang tepat justru bisa membuat tim lebih berani berbicara dan mengambil peran.
Sebagai contoh: seorang CEO sengaja tidak langsung berbicara di awal sesi diskusi. Ia membiarkan tim menyampaikan ide dan pendapat terlebih dahulu. Hasilnya, diskusi menjadi lebih hidup, dan tim merasa dipercaya.
Gaya kepemimpinan Satya Nadella di Microsoft juga menunjukkan hal serupa. Ia memberi ruang bagi tim untuk memimpin inisiatif, bukan mengatur setiap detail. Pendekatan ini membangun rasa tanggung jawab dan mendorong inovasi.
Menahan Diri Membutuhkan Disiplin
Di dunia kerja yang cepat, menahan diri bukan hal mudah. Dibutuhkan disiplin untuk tidak langsung membalas pesan, menunda keputusan, atau tetap tenang saat emosi muncul. Namun dari sikap inilah kejernihan muncul.
Riset Harvard menunjukkan bahwa pemimpin yang lebih fokus pada arah besar dan strategi, bukan pada detail harian, cenderung membawa organisasi ke kinerja yang lebih baik. Mereka tahu kapan harus bergerak cepat dan kapan harus mengamati lebih dulu.
Ketenangan, dalam hal ini, bukan kebalikan dari kecepatan. Ketenangan adalah cara agar kecepatan menjadi tepat sasaran.
Keunggulan Pemimpin yang Tenang
Saat dorongan untuk segera bertindak muncul, berhentilah sejenak dan pastikan bahwa langkah tersebut benar-benar diperlukan. Pemimpin yang mampu menahan diri biasanya bertindak dengan lebih tepat dan berdampak.
Menunggu membantu melihat situasi dengan lebih jelas, istirahat menjaga pikiran tetap jernih, dan keheningan membangun kepercayaan dalam tim. Di tengah budaya kerja yang serba cepat, kemampuan untuk tahu kapan bergerak dan kapan berhenti adalah tanda pemimpin yang matang dan efektif.

