(Business Lounge Journal – News and Insight)
CEO OpenAI, Sam Altman, sedang mendorong wacana besar: percakapan dengan ChatGPT seharusnya mendapatkan perlindungan hukum yang sama dengan rahasia medis dokter atau kerahasiaan hukum pengacara. Dengan lebih dari 10% populasi dewasa dunia menggunakan ChatGPT setiap minggu, Altman menilai isu privasi pengguna menjadi sangat mendesak.
Altman berulang kali menekankan bahwa masyarakat kini berbicara dengan AI mengenai hal-hal pribadi yang sebelumnya hanya ditujukan kepada profesional tertentu. Dalam sebuah tulisan blog yang merilis ChatGPT untuk remaja, ia menyebut, “Orang berbicara dengan AI tentang hal-hal yang semakin personal; ini berbeda dari generasi teknologi sebelumnya, dan kami percaya bahwa akun-akun ini bisa menjadi salah satu yang paling sensitif secara pribadi.”
Ia menambahkan, jika percakapan dengan dokter atau pengacara dilindungi oleh hukum demi kepentingan masyarakat, maka hal serupa seharusnya berlaku pada interaksi dengan AI. Namun kenyataannya, hingga kini tidak ada perlindungan hukum khusus bagi pengguna chatbot. Bahkan, pada Juli lalu, Altman memperingatkan bahwa pengadilan bisa saja memaksa OpenAI menyerahkan catatan percakapan pengguna.
Faktanya, sebuah pengadilan federal di AS sudah memerintahkan OpenAI untuk menyimpan catatan percakapan ChatGPT — termasuk yang sudah dihapus — tanpa batas waktu. Hal ini menimbulkan risiko besar: baik dari sisi kepercayaan pengguna maupun potensi konflik hukum.
Jalan Panjang Menuju Privasi AI
Perjalanan menuju perlindungan hukum seperti yang diimpikan Altman jelas tidak mudah. Industri AI kini menghadapi gugatan hukum, regulasi ketat dari negara bagian, serta kritik akademis, termasuk studi dari Stanford yang menyoroti risiko chatbot terapi.
Peter Swire, profesor hukum di Georgia Tech, menjelaskan bahwa perlindungan rahasia profesi dokter atau pengacara ada karena pentingnya kejujuran penuh dari klien. Namun, untuk chatbot, ia menilai mungkin hanya bisa berlaku dalam “kondisi terbatas,” misalnya saat AI secara jelas bertindak sebagai dokter atau pengacara. Itu pun berbeda jauh dari menganggap semua interaksi dengan AI setara percakapan dengan psikiater.
Sementara itu, Mayu Tobin-Miyaji, pakar hukum di Electronic Privacy Information Center, berpendapat perlindungan mungkin bisa diberikan jika chatbot diawasi langsung oleh tenaga profesional berlisensi. Namun untuk chatbot umum seperti ChatGPT saat ini, kemungkinan besar perlindungan tersebut tidak akan diberikan.
Di sisi lain, kalangan psikolog justru mendorong arah berbeda. Mitch Prinstein dari American Psychological Association meminta Kongres melarang AI mengaku sebagai psikolog atau terapis, serta mewajibkan transparansi penuh bahwa pengguna sedang berinteraksi dengan bot.
Ketakutan Pengguna Nyata
Kekhawatiran bahwa percakapan dengan AI bisa “membocorkan rahasia” sudah mulai memengaruhi pengguna. Setelah perintah pengadilan soal penyimpanan data percakapan keluar, banyak diskusi bermunculan di Reddit. Beberapa pengguna menilai, meski data tidak pernah dipublikasikan, fakta bahwa seorang pengacara mungkin harus meninjau percakapan pribadi saja sudah merupakan pelanggaran privasi.
Sebagian lain lebih sinis, menyatakan, “Anggap saja semua yang Anda posting online suatu saat akan menjadi publik.” Ada pula yang menegaskan, “Jangan pernah percaya korporasi dengan data sensitif.”
Realitas dan Tantangan ke Depan
Riset OpenAI bersama Harvard menunjukkan 77% percakapan ChatGPT saat ini berfokus pada panduan praktis, penulisan, dan pencarian informasi. Hanya sekitar 1,9% yang terkait hubungan pribadi atau isu emosional. Namun tren percakapan sensitif terus meningkat.
Jika perlindungan hukum tidak segera dirumuskan, pengguna bisa semakin berhati-hati atau bahkan mundur dari berbagi informasi penting dengan AI. Hal ini berpotensi merusak narasi “privasi utama” yang selama ini coba dibangun Altman dan OpenAI.
Pada akhirnya, pertanyaan besar masih menggantung: apakah AI bisa benar-benar mendapat status kerahasiaan layaknya dokter, pengacara, atau terapis? Atau justru teknologi ini akan menghadapi regulasi ketat yang membatasi perannya dalam ranah paling pribadi manusia?
Yang jelas, perdebatan tentang privasi AI baru saja dimulai — dan hasil akhirnya akan menentukan bagaimana miliaran orang berinteraksi dengan teknologi paling berpengaruh di era ini.

