Secangkir teh hangat yang kita nikmati sehari-hari sering kali terasa sederhana. Namun, di balik aromanya yang menenangkan, ada kisah panjang tentang kekuasaan, sejarah kolonial, ketekunan manusia, dan tantangan lingkungan. Sri Lanka, salah satu penghasil teh terbesar dunia, menjadi saksi hidup bagaimana daun kecil bisa membawa dampak besar bagi ekonomi dan budaya.
Perjalanan teh di Sri Lanka bermula pada abad ke-19, ketika penjajah Inggris menggantikan perkebunan kopi yang gagal akibat hama dengan tanaman teh. Dataran tinggi berhawa sejuk di wilayah Central Highlands terbukti ideal untuk menghasilkan teh berkualitas tinggi. Sejak saat itu, teh Ceylon — nama lama Sri Lanka — mendunia dan menjadi komoditas kebanggaan negeri ini.
Namun, setiap helai daun teh juga menyimpan jejak perjuangan buruh perkebunan, mayoritas keturunan pekerja Tamil dari India Selatan yang dibawa oleh kolonial Inggris. Hingga kini, mereka tetap memetik daun dengan tangan, pekerjaan yang penuh kesabaran dan presisi. Bagi para buruh, teh bukan hanya komoditas, melainkan jalan hidup yang diwariskan lintas generasi.
Kini, tantangan baru datang dari alam. Perubahan iklim menyebabkan curah hujan tak menentu, suhu meningkat, dan hama lebih mudah menyebar. Semua ini berpengaruh langsung pada kualitas daun teh dan produktivitas kebun. Petani harus beradaptasi dengan teknik budidaya yang lebih berkelanjutan, seperti diversifikasi tanaman, konservasi tanah, serta penggunaan varietas teh yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
Di sisi lain, merek teh seperti Dilmah menunjukkan bagaimana tradisi bisa berjalan seiring dengan inovasi. Dengan mengedepankan praktik ramah lingkungan dan keberlanjutan, mereka berusaha menjaga agar teh Sri Lanka tetap harum di pasar global.
Dilmah didirikan tahun 1988 oleh Merrill J. Fernando, seorang pengusaha teh asal Sri Lanka. Ia punya misi yang berbeda dengan perusahaan besar: ingin agar teh Sri Lanka diekspor langsung dari kebunnya sendiri dengan tetap mempertahankan kualitas “Single Origin” (satu sumber).
Pada masa itu, industri teh dikuasai oleh perusahaan multinasional yang membeli daun teh mentah dari Sri Lanka dengan harga murah, lalu mencampurnya dengan teh dari negara lain sebelum dijual dengan label global. Fernando melihat hal ini merugikan petani lokal dan merusak citra teh Ceylon.
Merrill Fernando kemudian meluncurkan merek Dilmah, diambil dari nama kedua putranya, Dilhan dan Malik. Visi utamanya adalah “tea picked, packed, and shipped direct from Sri Lanka” — tanpa dicampur, tanpa perantara. Strategi ini berhasil membedakan Dilmah dari kompetitor. Dengan menekankan kualitas, keaslian, dan etika bisnis, Dilmah perlahan masuk ke pasar internasional.
Kini, Dilmah telah hadir di lebih dari 100 negara. Brand ini sering berkolaborasi dengan hotel-hotel mewah, restoran fine dining, bahkan event internasional seperti afternoon tea bertema “Bridgerton” di Singapura. Dilmah bisa mendunia karena mempertahankan identitas teh Sri Lanka sebagai produk premium sambil membangun citra etis dan berkelanjutan — sesuatu yang sangat dihargai oleh konsumen global modern.
Pelajaran terbesar dari Sri Lanka adalah tentang ketekunan menghadapi tantangan — baik kolonialisme di masa lalu, krisis ekonomi di masa kini, maupun ancaman iklim di masa depan.
Bagi kita sebagai penikmat, secangkir teh Sri Lanka adalah refleksi perjalanan panjang: dari kebun berkabut di dataran tinggi, melalui tangan-tangan pekerja yang sabar, hingga ke meja kita. Ia adalah simbol bahwa ketahanan, inovasi, dan kepedulian lingkungan bisa membuat warisan tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah.

