(Business Lounge – Global News) Setelah sempat terpuruk sepanjang 2022, harga Bitcoin kini kembali melonjak, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini tak terjadi begitu saja. Berbagai faktor yang saling terkait—dari kebijakan politik yang mendukung aset kripto, akumulasi besar-besaran oleh perusahaan publik, hingga rebound pasar saham AS—telah menciptakan momentum baru bagi mata uang digital paling populer di dunia tersebut.
Menurut data dari CoinDesk, Reuters, dan The Wall Street Journal, Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran $67.000 hingga $69.000, hanya terpaut tipis dari level tertinggi sebelumnya yang dicapai pada akhir 2021, yakni sekitar $69.000. Kenaikan tajam ini sebagian besar terjadi dalam tiga bulan terakhir dan didorong oleh serangkaian perkembangan yang memperkuat sentimen investor terhadap kripto, khususnya Bitcoin.
Salah satu faktor kunci adalah meningkatnya dukungan politik terhadap industri kripto di Amerika Serikat, terutama dari kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump. Dalam beberapa pidato publiknya, Trump secara terbuka menyatakan bahwa ia mendukung pengembangan ekosistem kripto dan akan “mengakhiri tekanan berlebihan terhadap industri ini” jika kembali menjabat. Sikap tersebut kontras dengan pendekatan pemerintahan saat ini yang lebih hati-hati dan cenderung regulatif terhadap perdagangan aset digital.
Dalam wawancaranya dengan media keuangan seperti Fox Business dan Bloomberg, penasihat ekonomi Trump mengisyaratkan bahwa pemerintahan baru kemungkinan akan memperlonggar pembatasan pajak atas kripto dan mendorong inovasi berbasis blockchain di sektor publik. Komunitas investor melihat ini sebagai katalis positif yang dapat membuka jalan bagi lebih banyak adopsi institusional terhadap Bitcoin.
Sementara itu, dari sisi korporasi, akumulasi Bitcoin oleh perusahaan publik terus meningkat. MicroStrategy, yang dipimpin oleh Michael Saylor, baru-baru ini menambah lagi kepemilikan Bitcoin-nya menjadi lebih dari 226.000 BTC—menjadikannya perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia. Laporan keuangan kuartalan perusahaan menunjukkan bahwa mereka terus menambah posisi Bitcoin mereka meskipun volatilitas tetap tinggi. Langkah ini menginspirasi perusahaan lain, termasuk beberapa hedge fund dan manajer kekayaan digital, untuk mengikuti strategi serupa.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kembalinya kepercayaan pasar terhadap aset berisiko. Dengan membaiknya indeks saham utama seperti S&P 500 dan Nasdaq, para investor kembali berani mengambil posisi di aset digital. Rebound pasar saham juga mendorong arus masuk modal ke produk ETF Bitcoin spot yang baru-baru ini mendapat persetujuan dari otoritas pasar modal AS. Produk seperti iShares Bitcoin Trust dari BlackRock dan Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund kini mengelola miliaran dolar dalam waktu kurang dari satu tahun.
Menurut data dari Glassnode, arus masuk ke ETF Bitcoin mencapai rekor mingguan tertinggi pada bulan Juni, menunjukkan bahwa investor institusional kini memainkan peran lebih besar dalam pergerakan harga kripto. Selain itu, penurunan pasokan Bitcoin di bursa—yang mencapai titik terendah sejak 2018—mengindikasikan bahwa banyak investor memilih untuk menyimpan Bitcoin dalam jangka panjang daripada menjual.
Secara teknikal, analis pasar melihat pola bullish yang kuat dalam grafik harga Bitcoin. Indikator moving average 200 hari kini mendukung tren naik, dan volume perdagangan meningkat seiring dengan kenaikan harga. Beberapa analis bahkan menyebutkan bahwa jika Bitcoin berhasil menembus level psikologis $70.000, maka ruang untuk reli lanjutan menuju $80.000 atau bahkan $100.000 terbuka lebar, apalagi jika didukung sentimen makro yang kondusif.
Namun bukan berarti tanpa risiko. Volatilitas tetap tinggi, dan harga Bitcoin sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan bank sentral serta dinamika geopolitik global. Misalnya, jika Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan suku bunga lebih lama dari perkiraan pasar, hal ini bisa menekan aset berisiko seperti kripto. Selain itu, regulasi dari Securities and Exchange Commission (SEC) AS dan lembaga-lembaga internasional tetap menjadi faktor penghambat bagi ekspansi industri kripto.
Di sisi lain, adopsi retail dan institusional terhadap kripto terus tumbuh. Di Asia, khususnya Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, peningkatan volume transaksi ritel turut memperkuat momentum global. Perusahaan pembayaran seperti PayPal dan Stripe juga mulai menawarkan integrasi dompet kripto dan pembayaran berbasis stablecoin, mempercepat normalisasi penggunaan aset digital di kehidupan sehari-hari.
Analis dari JP Morgan dan Goldman Sachs juga mulai memasukkan skenario Bitcoin bullish dalam laporan prospek semester kedua 2025. Mereka memperkirakan bahwa jika stabilitas politik dan sentimen pasar terjaga, Bitcoin bisa mencatatkan rekor baru di atas $75.000 menjelang akhir tahun, seiring dengan masuknya lebih banyak modal dari institusi keuangan konvensional.
Peristiwa halving yang terjadi awal tahun ini juga berperan sebagai pendorong harga. Dengan berkurangnya pasokan blok Bitcoin baru menjadi 3,125 BTC per blok, tekanan inflasi dalam jaringan menurun, menciptakan ketidakseimbangan pasokan-permintaan yang berpotensi menaikkan harga dalam jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa periode pasca-halving seringkali diikuti oleh reli harga besar.
Secara keseluruhan, reli terbaru Bitcoin bukanlah hasil dari satu faktor tunggal, tetapi gabungan dari politik pro-kripto, akumulasi korporasi, reformasi regulasi, dan optimisme pasar yang meluas. Bagi para investor, kembalinya harga Bitcoin mendekati rekor sebelumnya menandakan bahwa kepercayaan terhadap aset ini tetap kuat, bahkan setelah melewati berbagai krisis reputasi seperti kebangkrutan FTX dan tekanan hukum terhadap Binance.
Kini, mata dunia tertuju pada apakah Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas rekor sebelumnya. Jika ya, era baru untuk kripto bisa segera dimulai—bukan sebagai spekulasi semata, tetapi sebagai bagian permanen dari sistem keuangan global.

