(Business Lounge – Technology) Di tengah ledakan kebutuhan energi akibat lonjakan pemrosesan kecerdasan buatan, Meta Platforms Inc. mengambil langkah strategis yang jarang ditempuh raksasa teknologi, menandatangani perjanjian pasokan tenaga nuklir jangka panjang. Dalam kesepakatan yang diumumkan awal pekan ini, Meta akan membeli daya dari sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir di Illinois yang dioperasikan oleh Constellation Energy Corp., penyedia energi nuklir terbesar di Amerika Serikat.
Menurut laporan The Wall Street Journal, kesepakatan ini menggarisbawahi kenyataan baru di sektor teknologi: pusat data yang digunakan untuk mendukung sistem kecerdasan buatan generatif memerlukan energi dalam jumlah besar dan stabil—sesuatu yang semakin sulit diperoleh dari sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten seperti matahari dan angin.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh Bloomberg, Constellation Energy menyebut bahwa mereka akan menyediakan daya dari Dresden Generating Station, sebuah reaktor nuklir yang beroperasi sejak era 1970-an dan mampu menyuplai listrik dalam jumlah besar secara konsisten selama 24 jam penuh. Meta tidak mengungkapkan berapa besar volume daya yang akan dibeli, namun sumber yang mengetahui kesepakatan tersebut menyebut bahwa pasokan listrik itu akan membantu menggerakkan pusat data Meta di Midwest dan mendukung ekspansi layanan berbasis AI, seperti sistem rekomendasi cerdas dan pemrosesan gambar skala besar.
Sejak Meta mengalihkan fokus strategisnya ke arah kecerdasan buatan dan metaverse, kebutuhan energinya melonjak tajam. Menurut laporan tahunan perusahaan yang dikutip oleh CNBC, konsumsi listrik untuk pusat data Meta naik lebih dari 40% dalam dua tahun terakhir, dan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pengembangan model bahasa besar (LLM) dan algoritma machine learning canggih.
CEO Meta Mark Zuckerberg, dalam berbagai pernyataan publik sepanjang 2024, telah menekankan bahwa kecerdasan buatan merupakan tulang punggung masa depan produk dan pengalaman pengguna Meta. Dari optimalisasi feed di Facebook dan Instagram, hingga pengembangan asisten virtual untuk perangkat seperti Ray-Ban Meta Glasses, seluruhnya mengandalkan inferensi model AI yang memakan banyak daya komputasi—dan secara langsung, daya listrik.
Langkah Meta memilih energi nuklir mencerminkan pergeseran strategi energi di kalangan perusahaan teknologi besar. Meski sebelumnya mereka fokus pada solar dan wind power untuk mencapai target netral karbon, kini mereka menghadapi kenyataan bahwa teknologi AI tidak bisa sepenuhnya bergantung pada sumber intermiten. Energi nuklir, meski kontroversial di mata publik, menawarkan satu hal yang tak tergantikan: stabilitas daya tanpa emisi karbon langsung.
Menurut BloombergNEF, sebuah firma riset energi, kapasitas pembangkit nuklir dunia diperkirakan akan meningkat hingga 30% pada 2030, seiring dengan meningkatnya minat korporasi terhadap sumber daya yang andal dan ramah iklim. Meta bukan satu-satunya. Sebelumnya, Microsoft juga mengindikasikan ketertarikan pada sumber energi alternatif untuk menyuplai pusat datanya, bahkan merekrut spesialis nuklir untuk eksplorasi teknologi reaktor modular kecil (SMR).
Namun, tidak semua pihak menyambut antusias langkah Meta ini. Beberapa kelompok lingkungan yang pro-transisi energi bersih menyuarakan kekhawatiran atas ketergantungan pada teknologi nuklir lama. Dresden Generating Station, meskipun telah diperbarui secara teknis, merupakan fasilitas berusia lebih dari lima dekade. Dalam pernyataan yang dikutip oleh The Guardian, kelompok Earthjustice menyebut bahwa solusi energi masa depan seharusnya fokus pada sistem terbarukan dan penyimpanan baterai, bukan memperpanjang usia fasilitas nuklir warisan.
Di sisi lain, Constellation menegaskan bahwa pabrik mereka telah melalui audit dan modernisasi sistem secara berkala. CEO Constellation, Joe Dominguez, menyatakan kepada WSJ bahwa perjanjian dengan Meta ini menunjukkan bagaimana sektor swasta dapat menjadi penggerak utama dalam menjaga pembangkit nuklir tetap operasional secara ekonomis, khususnya di tengah tantangan harga pasar listrik yang fluktuatif.
Secara finansial, detail nilai kontrak belum diungkapkan, namun analis energi menyebut bahwa perjanjian seperti ini akan membantu Dresden tetap layak secara komersial di tengah persaingan harga listrik yang dipicu oleh naik-turunnya tarif energi terbarukan dan gas alam. Dalam skenario tertentu, pasokan daya eksklusif semacam ini juga memberi Meta keunggulan dalam kestabilan harga listrik jangka panjang, mengurangi ketergantungan pada pasar listrik yang sangat volatil.
Dari perspektif strategis, langkah ini juga bisa dibaca sebagai sinyal bahwa perusahaan teknologi tidak hanya akan menjadi pengguna energi besar, tetapi juga akan berperan aktif dalam membentuk struktur pasar energi masa depan. Meta, misalnya, telah berinvestasi dalam proyek solar farm di Texas, menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) dengan berbagai penyedia energi bersih, dan kini merambah ke sektor nuklir sebagai bentuk diversifikasi pasokan.
Perlu dicatat, energi merupakan isu yang semakin menjadi perhatian investor dan regulator. Dalam laporan keberlanjutan Meta yang terbaru, perusahaan menyebutkan bahwa mereka berkomitmen untuk sepenuhnya bergantung pada energi terbarukan secara global, tetapi tidak menutup opsi sumber lain yang “nol emisi langsung.” Dengan definisi tersebut, energi nuklir masuk ke dalam kategori yang bisa diterima untuk mendukung target netral karbon, setidaknya dari perspektif perusahaan.
Para analis memperkirakan bahwa langkah Meta ini akan diikuti oleh perusahaan teknologi lain, terutama jika adopsi AI semakin meluas dan infrastruktur komputasi tumbuh eksponensial. Mengingat pelatihan model AI seperti Llama 3 dan inferensinya membutuhkan ribuan GPU yang bekerja serentak selama berminggu-minggu, ketersediaan energi menjadi faktor kritikal, sejajar dengan inovasi perangkat keras dan algoritma.

