Kebangkrutan Nikola dan Jatuhnya Bintang Investasi Hijau

(Business Lounge Journal – Global News)

Nikola Corporation, produsen truk listrik yang pernah dianggap sebagai bintang investasi hijau, telah mengajukan kebangkrutan dan berencana untuk menghentikan operasinya. Perusahaan ini mengalami penurunan tajam setelah pendirinya, Trevor Milton, didakwa dengan penipuan, dan menghadapi biaya tinggi serta rendahnya permintaan di industri truk yang enggan beralih dari mesin diesel.

Nikola didirikan pada 2014 oleh Trevor Milton dan berfokus pada pengembangan kendaraan komersial berat bertenaga listrik dan hidrogen. Perusahaan ini menarik perhatian besar pada tahun 2020 ketika nilai pasarnya melampaui Ford Motor Company, sebagian besar karena janji inovasi dalam teknologi kendaraan ramah lingkungan. Nikola berjanji untuk merevolusi industri truk dengan menawarkan kendaraan berbasis baterai dan hidrogen yang lebih bersih dan hemat energi dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar diesel.

Nikola menjadi salah satu perusahaan kendaraan listrik yang menikmati lonjakan minat dari investor selama booming kendaraan listrik di pasar saham. Dengan rencana ambisiusnya, Nikola menarik banyak investor yang tertarik pada gagasan mengurangi emisi karbon dalam industri transportasi berat. Perusahaan bahkan mengklaim bahwa truk hidrogen mereka akan mampu menempuh jarak hingga 1.200 km dengan sekali pengisian bahan bakar.

Namun, klaim ambisius Milton tentang kemampuan teknologi perusahaan mulai dipertanyakan, terutama setelah laporan dari Hindenburg Research yang menuduh adanya penipuan dalam presentasi produk perusahaan. Laporan ini mengklaim bahwa video truk Nikola yang tampak beroperasi sebenarnya hanya menggelinding menuruni bukit tanpa tenaga penggerak. Tuduhan ini memicu penyelidikan oleh Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) dan Departemen Kehakiman AS. Pada September 2020, Milton mengundurkan diri dari posisinya sebagai ketua eksekutif perusahaan.

Pada Juli 2021, dewan juri federal mendakwa Milton dengan tiga tuduhan penipuan sekuritas dan penipuan kawat. Dia kemudian dinyatakan bersalah pada Oktober 2022 atas satu tuduhan penipuan sekuritas dan dua tuduhan penipuan kawat, dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara serta diperintahkan membayar restitusi sebesar $168 juta. Kasus hukum ini memberikan dampak negatif signifikan terhadap reputasi Nikola dan menurunkan kepercayaan investor.

Setelah kepergian Milton, Nikola berusaha untuk memulihkan reputasinya dan melanjutkan operasinya di bawah kepemimpinan baru. Perusahaan mulai memproduksi truk listrik baterai, Nikola Tre, pada tahun 2022, dan hingga kuartal ketiga 2024, telah memproduksi sekitar 600 unit. Namun, produksi ini jauh di bawah ekspektasi, dan perusahaan menghadapi berbagai tantangan, termasuk penarikan lebih dari 200 kendaraan pada tahun 2023 setelah penyelidikan menemukan kebocoran baterai yang kemungkinan menyebabkan kebakaran pada truk yang diparkir.

Selain itu, permintaan yang lemah, pembakaran kas yang cepat, dan tantangan pendanaan semakin memperburuk situasi keuangan perusahaan. Pada Oktober 2024, CEO Steve Girsky mengindikasikan bahwa perusahaan hanya memiliki cukup dana untuk beroperasi hingga kuartal pertama 2025 dan sedang mencari mitra potensial untuk mengatasi hambatan finansial. Namun, upaya ini tidak membuahkan hasil, dan pada Februari 2025, Nikola mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11, dengan rencana untuk menjual asetnya dan menghentikan operasinya.

Selain faktor internal seperti skandal dan manajemen yang buruk, Nikola juga menghadapi tantangan yang lebih luas dalam industri kendaraan listrik berat. Sementara kendaraan listrik ringan seperti mobil penumpang mengalami adopsi yang lebih cepat, industri kendaraan berat masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Beberapa tantangan utama meliputi biaya produksi yang tinggi, infrastruktur pengisian daya yang terbatas, kendala jarak tempuh, serta persaingan dari produsen konvensional seperti Tesla, Daimler, dan Volvo.

Kebangkrutan Nikola menandai salah satu kegagalan besar di sektor kendaraan listrik. Ini memberikan sinyal kepada investor dan regulator bahwa transisi ke kendaraan listrik di sektor transportasi berat akan membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Beberapa dampak yang diperkirakan terjadi antara lain penurunan kepercayaan investor, perubahan strategi di industri, serta peluang bagi kompetitor seperti Tesla dengan Semi Truck dan Daimler dengan truk listrik eCascadia.

Nikola bukan satu-satunya perusahaan yang mencoba memasuki pasar truk listrik. Beberapa pesaing utama termasuk Tesla Semi, Daimler eCascadia, dan Hyundai XCIENT Fuel Cell. Meskipun para pesaing ini juga menghadapi tantangan serupa, mereka memiliki sumber daya dan pengalaman yang lebih besar dalam pengembangan kendaraan listrik, yang memberi mereka keunggulan dibandingkan Nikola.

Kasus Nikola menyoroti tantangan yang dihadapi oleh produsen kendaraan listrik dalam memenuhi ekspektasi pasar dan realitas operasional. Meskipun ada antusiasme awal terhadap kendaraan ramah lingkungan, transisi dari mesin diesel ke listrik dalam industri truk terbukti lebih lambat dari yang diharapkan. Selain itu, biaya produksi yang tinggi, infrastruktur pengisian daya yang belum memadai, dan persaingan ketat menambah kompleksitas bagi perusahaan seperti Nikola.

Pelajaran dari kebangkrutan Nikola menekankan pentingnya transparansi, manajemen ekspektasi, dan integritas dalam komunikasi perusahaan dengan investor dan publik. Selain itu, ini juga menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi harus didukung oleh perencanaan operasional yang solid dan pemahaman mendalam tentang dinamika pasar untuk mencapai keberhasilan jangka panjang.

Dengan kebangkrutan Nikola, masa depan truk listrik dan hidrogen tetap menjadi tanda tanya. Namun, meskipun Nikola gagal, inovasi dalam industri kendaraan listrik berat akan terus berkembang, didorong oleh meningkatnya tekanan untuk mengurangi emisi karbon dan peraturan lingkungan yang semakin ketat.