(Business Lounge – Manage Your Business) Tantangan dalam bisnis merupakan dinamika yang dinamis karena kondisi yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Kisah sukses maupun kisah keterpurukan sebuah perusahaan silih berganti terdengar sepanjang zaman.
Pada kesempatan ini saya mencoba membahas suatu kondisi yang memerlukan penanganan yang tepat karena adanya transisi dari sebuah kondisi yang berubah, seperti perampingan, restrukturisasi bahkan ada pula yang menghadapi kondisi kebangkrutan.
Seberapa pun perubahan yang akan terjadi, baik skala kecil sampai skala besar, dibutuhkan satu penanganan yang penting untuk memasuki suatu masa peralihan. Dampak dari kondisi ini pastinya sudah dipikirkan dan dipertimbangkan dengan matang, namun ada satu hal yang perlu perhatian khusus, karena transisi ini akan mempengaruhi manusia atau tenaga kerja di dalamnya.
Ya benar, transisi akan mempengaruhi sisi “kemanusiaan”, karena karyawan di dalamnya akan berhadapan dengan situasi yang baru dan menjalankan perubahan tersebut.
Perubahan Vs Transisi
Perubahan bukan transisi dan perubahan berbeda dengan transisi. Perubahan bersifat situasional, sementara transisi bersifat psikologis. Contoh sederhana dari sebuah perubahan seperti perpindahan lokasi kantor dari lokasi lama ke lokasi yang baru. Contoh lainnya adanya pergantian susunan pejabat karena salah seorang pejabat resign atau pensiun. Sedangkan transisi adalah suatu proses yang harus dilalui untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang baru karena adanya perubahan, yaitu bagaimana beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
Tanpa pemahaman yang jelas terhadap dampak dari sebuah transisi maka menghadapi sebuah perubahan pada sebuah perusahaan atau tempat kerja akan menjadi sulit.
Pengelolaan yang kurang tepat akan berdampak kepada moral dan mental karyawan. Perencanaan transisi harus dilakukan sematang mungkin sehingga karyawan dapat menerima dengan baik dan merasakan adanya kepedulian dari perusahaan.
Transisi yang berhasil akan mengedepankan apa yang menjadi hak karyawannya sehingga kendala atau persoalan akibat sebuah transisi akan sangat minimalis.
Tiga fase yang terjadi dalam sebuah Transisi sebagai berikut:
1. Fase meninggalkan cara dan identitas lama.
Fase ini adalah ujung atau akhir dari kondisi lama dan masuk dalam sebuah kondisi yang baru. Fase ini akan membantu untuk menangani rasa kehilangan terhadap hal yang lama.
2. Fase ketika yang lama sudah tidak dipakai lagi, tetapi yang baru belum berfungsi secara efektif.
Fase ini disebut juga sebagai Zona Netral. Zona Netral adalah waktu penyatuan kembali (realignment) dan pembuatan pola kembali (repatterning)
3. Keluar dari transisi dan memulai sesuatu yang baru.
Pada fase ini mulai memakai identitas baru, mengalami hal yang baru, dan menentukan tujuan baru untuk memulai jalannya perubahan (sense of purpose)
Jadi kita bisa melihat bahwa transisi adalah sebuah proses. Proses ketika seseorang keluar dari situasi lama kepada situasi baru, memulai dengan mengakhiri yang lama, dan mengakhiri dengan memulai yang baru.
Tugas perusahaan atau tim transisi adalah membantu karyawan dan memastikan karyawan dapat melewati ketiga fase tersebut di atas. Hal ini sangat penting karena program yang dirancang khusus untuk menjembatani kondisi ini sekalipun tidak akan berdampak kalau tidak ditangani dengan bijaksana.
Saya coba bagikan sebuah contoh mengenai sebuah perubahan yang memerlukan penanganan pada masa transisi.
Perusahaan tersebut adalah Benetton, perusahaan pakaian besar dan terkemuka dari negara Pizza, Italia. Pada tahun 1991 Benetton ingin memperluas jangkauannya dengan menambah jenis produk yang mereka pasarkan. Benetton melakukan langkah diversifikasi dengan menggandeng beberapa perusahaan seperti sepatu ski Nordica, sepatu Rollerblade, raket tenis Prince, dan papan luncur Killer loop. Maka dilakukanlah akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan tersebut. Ide ini tentu bukan ide mendadak yang tiba-tiba tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang. Ide ini cukup menarik dan pastinya sangat menjanjikan dengan tujuan segmented untuk kebutuhan olahraga mulai dari pakaian, sepatu sampai kepada alat olahraga.
Benetton melebur perusahaan tersebut di bawah satu induk (satu atap), mencoba mencari sinergi yang baru dengan skala yang besar, menggabungkan tenaga penjualan dan tim pemasaran untuk dapat menawarkan produk-produk yang dihasilkan. Tentu saja dengan memindahkan unit-unit kerja ke lokasi atau markas Benetton tentunya.
Namun demikian ketika akuisisi dilakukan dan pada waktu proses peleburan mulai berjalan, ternyata terdapat kendala yaitu mengenai karyawan atau tenaga kerja. Persoalan yang terjadi adalah tidak disiapkannya masa transisi dengan baik sehingga menimbulkan keresahan dan ketidaksiapan karyawan dari perusahaan yang diakuisisi.
Singkat cerita sebagian karyawan Nordica, Rollerblade, dan Prince mengambil keputusan untuk keluar dari perusahaan. Faktor manusia yang mengalami langsung dampak dari perubahan itu ternyata sangat berpengaruh terhadap lancar dan suksesnya akuisisi. Seberapa matangnya rencana dibuat secara matematis, perhitungan ekonomi dan tekhnologi yang akurat, namun unsur yang sangat penting yang tidak bisa dianggap sepele adalah masalah tenaga kerja alias SDM (Sumber Daya Manusia).
Benetton berusaha membuat pendekatan dan strategi untuk supaya bagaimana semua dapat berjalan seperti biasa (as usual) namun pada tahun tersebut Benetton mengalami kerugian.
Memang tidak semua transisi yang salah berakhir dengan kondisi buruk, namun mengelola sebuah transisi bukan hanya melibatkan urusan finansial tetapi juga proses sederhana untuk bagaimana membantu karyawan atau orang melewati tiga fase pada transisi.
Apakah karyawan menanggalkan cara lama dalam melakukan pekerjaan, melewati masa sulit antara cara lama dan cara baru dan bagaimana melakukan cara baru. Untuk memulai sesuatu yang baru, yang lama tentu harus ditinggalkan.
Berikut langkah praktis yang dapat dilakukan untuk pengelolaan transisi
- Menilai kesiapan transisi
- Merencanakan transisi
- Membentuk Tim Pemantau Transisi
- Memberikan bimbingan karir bagi karyawan
- Memastikan peranan pemimpin pada masa transisi
Kita akan membahas lebih lanjut mengenai langkah praktis dan bagaimana menghadapi perubahan yang terjadi tersebut.
Ria Felisha/VMN/BL/Contributor
Editor: Ruth Berliana

