Meningkatkan Sinergi, Strategi Yang Terlupakan

(Business Lounge – Manage Your Business) Apakah Anda bagian dari sebuah tim kerja? Apakah Anda dapat bekerja tanpa bergantung kepada orang lain? Apakah Anda dapat bekerja tanpa terkait dengan orang atau bagian lain? Ya tentu pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang sama bagi setiap Anda yang bekerja dalam sebuah perusahaan. Jika Anda ada dalam sebuah struktur pekerjaan, maka Anda adalah bagian dari divisi atau departemen Anda, dan departemen Anda adalah bagian dari struktur organisasi perusahaan, baik perusahaan besar, sedang, maupun kecil. Jadi setiap karyawan adalah bagian dari suatu sistem organisasi perusahan yang tentu saja memiliki suatu visi dan misi bisnis yang sama.

Namun pada kenyataannya, tidak semua organisasi perusahaan memiliki keselarasan dalam tujuan. Masing-masing karyawan atau suatu bagian perusahaan bisa jadi tidak dalam satu kesepahaman atas tujuan perusahaan tersebut. Coba tanyakan pada rekan kerja Anda dalam satu tim, atau kepada karyawan dari tim lain, apa yang menjadi target bersama? Lalu, apa saja yang menjadi tantangan utama bagi tim Anda atau team lainnya, serta bagi perusahaan?

Sangat mungkin jawaban yang Anda dapatkan berbeda-beda antara satu tim dengan tim lain. Bisa jadi pula, jawaban antara satu karyawan dengan karyawan lainnya yang berada dalam satu tim pun akan berbeda.

Nah sampai disni kita mungkin mulai menyadari bagaimana mungkin satu organisasi perusahaan memiliki berbagai arah yang berbeda. Padahal, idealnya sebagai karyawan yang berada dalam satu perusahaan yang sama, sangatlah penting untuk memiliki satu tujuan bersama yang terdefinisikan dengan jelas dan dipahami oleh semua. Jika dianalogikan sebagai orang-orang yang berada di dalam satu perahu yang sedang bergerak menuju satu arah yang sama, tentu akan mustahil mencapai tujuan apabila setiap orang mendayung perahu ke arah yang berbeda-beda sesuai dengan keinginannya. Tanpa koordinasi dan kerja sama, akan berat sekali rasanya untuk mencapai sasaran kita.

Ya, hampir semua perusahaan menyadari pentingnya penyusunan visi, misi dan strategi yang jelas. Hal ini suatu yang sangat dibutuhkan oleh suatu perusahaan untuk dapat bergerak. Persoalannya adalah adanya pemahaman yang seringkali memiliki persepsi yang beragam diantara para karyawan. Acapkali tidak semua karyawan hingga ke jajaran yang paling bawah dapat memahami strategi tersebut dengan tingkat pemahaman yang sama. Dibutuhkan penyelarasan dari level paling atas (top management) hingga ke level paling bawah agar dapat mengeksekusi strategi atau istilah organisasi bisnis yang biasa digunakan adalah tahap atau proses alignment. Namun apakah akan selesai persoalannya hanya pada saat langkah penyelarasan? Tidak, langkah tersebut harus didukung pula oleh langkah sinergi di antara setiap anggota tim serta antar tim di dalam perusahaan.

Pada kenyataannya, bukanlah sesuatu hal yang baru jika seorang karyawan menganggap kecil fungsi sinergi ini. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa peran kerja sama dan koordinasi antar tim bukanlah suatu hal penting. Kita terbiasa mengabaikan harmonisasi dalam setiap unsur dan elemen di dalam organisasi. Sering kali pula, yang terjadi adalah kita lebih berkonsentrasi pada pencapaian target pribadi, mengurus tanggung jawab sesuai KPI, dan pada saat yang sama malah menutup mata terhadap apa yang dihadapi oleh tim-tim maupun divisi-divisi lainnya.

Mungkin benar bahwa ketiadaan sinergi dalam suatu organisasi atau perusahaan terjadi bukan karena timbulnya konflik. Bisa jadi, akar permasalahannya justru lebih kepada kondisi di tempat kerja yang terasa datar dan tidak atau kurang memberikan ide atau inspirasi. Ditambah lagi dengan tidak adanya rasa empati kepada karyawan maupun team lainnya. Ada satu hal lagi kenapat tidak terjasi sinergi yaitu disebabkan oleh tidak adanya shared ownership dari masing-masing individu ataupun tim terhadap tujuan-tujuan bersama dari organisasi ataupun perusahaan.

Namun setia kita pasti setuju dan tahu bahwa bahwa sinergi merupakan hal yang baik dan positif. Semua pasti akan menjawab bahwa hal itu bagus dan tentu akan membawa manfaat bagi semua karyawan maupun team kerja. Nah persoalannnya kemudian adalah tidak jarang, bahwa masing-masing karyawan tidak mengetahui bagaimana meningkatkannya agar dapat memberi manfaat demi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Sesungguhnya, inilah yang menjadi tugas kita bersama. Tugas tiap individu di bagian manapun dan di level manapun.

Mari kita lihat 2 cara untuk untuk meningkatkan sinergi.

1. Berkonsentrasilah Pada Perilaku

Banyak eksekutif ataupun manager senior yang “hemat” dalam mengkomunikasikan strategi. Misalnya, dengan menggunakan istilah-istilah asing yang singkat, seperti “Cost Reduction” dan “Change Management”. Dalam kenyataannya, banyak karyawan yang tidak bisa langsung memahami apa yang dimaksudkan dengan pesan sesingkat istilah itu.

Dengan kata lain, penggunaan kata-kata saja tidaklah cukup. Strategi perlu memanfaatkan seni berkomunikasi secara efektif dan komprehensif. Dengan demikian, pendengar tidak hanya bisa memahami, melainkan juga berkomitmen dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap aksi yang sudah disepakati. Amat disayangkan apabila perusahaan merekrut orang-orang pintar yang berinisiatif, tapi tingkat kontribusinya rendah dan kemampuannya tidak dimanfaatkan dengan baik akibat tiadanya sinergi.

Namun tidak cukup hanya di situ, komitmen pun perlu dicek secara berkala. Untuk menjaga sinergi, kita harus selalu berpikir bukan untuk sekadar mencari solusi, tetapi menemukan celah untuk mendapatkan buy in dari setiap jajaran. Dengan keyakinan yang kuat dari setiap individu dalam organisasi, kita baru bisa menumbuhkan alignment, dan ujung-ujungnya bisa mewujudkan sinergi.

2. Menemukan Musuh Bersama

Kesibukan dengan pekerjaan seringkali seolah memutus hubungan dengan dunia luar. Padahal, dunia luar juga mencakup pelanggan atau nasabah kita. Lakukanlah benchmarking dan dengarkan suara pelanggan agar dapat menjadi stimulus dalam mengkomunikasikan strategi. Jadikan hal ini peluang untuk merapatkan barisan.

Biasanya yang terjadi di banyak perusahaan, para karyawan mengatakan bahwa mereka tidak dapat men-deliver pekerjaan on time karena merasakan adanya bagian-bagian yang menjadi seperti bottle neck. Padahal, bisa jadi sebenarnya mereka belum melakukan analisis mendalam. Musuh bersama itu sesungguhnya ada di lingkungan kita, dengan mengambil bermacam bentuk: perubahan tren sosial, industri, karakteristik pelanggan, keadaan ekonomi dan masih banyak lagi. Apabila Anda hanya berkutat pada hal-hal yang bersifat internal, bisa jadi Anda akan kehilangan kesempatan untuk menemukan “musuh bersama” yang sesungguhnya dapat dipergunakan sebagai alasan kuat untuk merapatkan barisan.

Bukalah mata Anda dan cobalah melihat perubahan situasi yang sebenarnya terjadi setiap saat. Kita perlu aktif berpikir, memahami perubahan, dan yakin bahwa kesiapan berubah itu perlu. Siapkanlah diri kita untuk berkontribusi setiap saat. Situasi merger, akuisisi dan aliansi, dan segala macam bentuk kolaborasi masa kini menuntut cairnya hubungan antara satu divisi atau perusahaan dengan entitas lain. Kita perlu ingat bahwa tidak adanya alignment dan sinergi tidak sama artinya dengan ketiadaan kehendak untuk bekerjasama. Justru inilah yang perlu kita praktekan dalam keseharian kita. Tidak sekadar membantu mengeluarkan energi positif, bersinergi juga membuat kita dapat menentukan prioritas dengan lebih mudah. Ujung-ujungnya, tujuan bersama pun dapat dicapai dengan lebih mudah.

P. Adi/Contributor/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x