Kehadiran sosok Jokowi di kancah politik Indonesia juga sangat berpengaruh dalam perekonomian bangsa ini, selain berhasil mengangkat ekonomi kota Solo periode tahun 2005 hingga 2011 juga menimbulkan suatu sentimen yang positif dalam perdagangan pasar uang, obligasi dan juga pasar saham di negeri ini.
Seorang Jokowi memang bukan seorang investor atau trader, namun performance Presiden terpilih RI dari hasil pemilihan Presiden tahun 2014 – 2019 yang berlangsung tanggal 9 Juli lalu telah berhasil mengguncangkan ketiga pasar tersebut. Ketiga pasar itu bergejolak hingga berhasil memecahkan rekor sepanjang sejarah khususnya dalam masuknya dana asing.
Sentimen Jokowi atau Jokowi Effect ini dimulai sejak bulan Maret lalu ketika mendeklarasikan dirinya sebagai capres hingga perdagangan pasca pilpres 9 Juli lalu. Pada hari Jumat tanggal 14 Maret saat Jokowi mendeklarasikan dirinya sebagai calon Presiden dari partai PDIP, sontak setelah deklarasi itu perdagangan di bursa saham melonjak tajam setelah investor asing melakukan aksi beli yang cukup besar.
Investor asing terus menyerbu saham lokal hingga akhir perdagangan dengan total nilai 6,5 T, nilai ini merupakan nilai harian terbesar untuk net buy asing sepanjang perdagangan tahun 2014. Derasnya masuknya dana asing ini menyebabkan IHSG melonjak drastis 152,48 poin atau naik 3,23% dari penutupan perdagangan sebelumnya ke level 4.878,64.
Gejolak di pasar saham tersebut terus berlanjut pasca hari pilpres tanggal 9 Juli 2014, 2 hari perdagangan sebelum pilpres IHSG terus melonjak hingga menembus kembali level 5000 dengan perolehan dana asing sebesar 1,5 triliun. Tahun ini pasar modal berhasil mencetak rekor sepanjang sejarah dengan masuknya dana asing sekitar 55,8 triliun yang didapat hanya dengan 5 bulan saja. Sejak pencalonan diri Jokowi hingga perdagangan hari Selasa (22/7) dana asing masuk sekitar 31,2 triliun, yang juga memecahkan rekor sepanjang sejarah yang diperoleh dalam 4 bulan.
Jokowi effect juga terjadi pada pasar obligasi dan juga pasar valas untuk kurs rupiah, di pasar obligasi tahun ini berhasil memecahkan rekor sepanjang sejarah dengan masuknya dana asing sekitar Rp. 390,57 triliun.
Dari pasar rupiah sendiri imbas Jokowi effect beberapa kali kurs rupiah menguat ditengah terus melemahnya kurs rupiah, rupiah berada di level Rp11.411 per dolar AS, sebelum Jokowi mengatakan siap menjadi capres. Setelah Jokowi melakukan deklarasi, rupiah menguat tajam sampai ke level Rp11.350 per dolar AS. Hal tersebut juga terjadi sehari sebelum Pilpres yang dilanjutkan sehari setelah Pilpres.
Kurs rupiah sebelum pilpres ada di kisaran Rp.11.626, yang menguat dari Rp.11.711 dari perdagangan sebelumnya. Kemudian sehari setelah Pilpres semakin perkasa di Rp.11.573. Dampak penguatan rupiah ini juga berdampak kepada harga emas batangan Antam yang akan menurunkan harga emasnya jika kurs rupiah terhadap dolar AS menguat.
Jokowi effect telah berhasil menorehkan sejarah baru pada pasar modal dan pasar oligasi Indonesia dengan masuknya dana asing yang cukup besar. Prestasi ini nantinya diharapkan akan dialami semua sektor yang menopang perekonomian setelah Jokowi resmi menjadi Presiden RI periode tahun 2014 – 2019.
Jul Allens/EIC Vibiznews/VMN/BL


