Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Perdana Menteri Dmitry Medvedev menyaksikan pasukan kehormatan saat upacara peletakan karangan bunga di Tembok Kremlin sehari sebelum perayaan Hari Kemenangan di pusat kota Moskow, Rusia, Kamis kemarin. Rusia merayakan kemenangan mereka atas Nazi Jerman setiap tanggal 9 Mei.
Acara yang memperingati kemenangan Rusia atas Nazi Jerman ini adalah acara kebanggaan nasional yang dilakukan dengan rasa penuh patriotisme. Setiap tanggal 9 Mei upacara besar di Rusia ini digelar di seluruh negeri untuk memperingati bagaimana lebih 20 juta warga Uni Soviet telah tewas dalam perang melawan Jerman.
Ketika parade militer di Moskow yang dia pimpin ini berlangsung, Putin memuji akan perjuangan pasukan Uni Soviet yang telah membela mati-matian untuk “membela tanah airnya”.
“Tekad baja penduduk Uni Soviet, keberanian dan stamina tangguh mereka telah membebaskan Eropa dari perbudakan. Negara kita berhasil menghancurkan Nazi, kita menang dengan pengorbanan jutaan orang dan penderitaan besar”, demikain disampaikan Putin di hadapan para veteran militer di Lapangan Merah.
Ada 151 satuan militer yang dilengkapi persenjataan mutakhir ditampilkan dalam parade milter tersebut. Antara lain panser jenis T-90A, helikopter tempur Ka-51 Alligator, pesawat tempur Mig-29 dan pesawat pembom supersonik Tu-160.
Putin mengatakan mereka setiap saat siap mempertahankan warisan para pahlawan, yang sudah mengorbankan segalanya untuk menjaga perdamaian dunia.
Sejak aneksasi Krimea dan diberlakukannya sanksi terhadap para pejabat Rusia, maka hubungan Rusia dan negara-negara barat semakin jauh. Bahkan Amerika Serikat dan Uni Eropa akan menerapkan sanksi ekonomi yang lebih luas lagi, jika destabilisasi teteap dilakukan Rusia di Ukraina Timur.
Pada hari Jumat siangnya setelah dari upacara parade militer di Moskow, Putin mendarat di Krimea untuk menghadiri upacara peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.
Kunjungannya ke Krimea ini dikecam oleh Kementerian Luar Negeri Ukraina. Dia sebutkan bahwa provokasi yang dilakukan Putin ini kembali memperlihatkan Rusia sengaja menyulut ketegangan dalam hubungannya dengan Ukraina.
Kementerian Luar Negeri Ukraina mengecam kunjungan Putin ke Krimea. “Provokasi ini kembali menunjukkan bahwa Rusia sengaja menyulut ketegangan dalam hubungan dengan Ukraina”, demikian disebutkan dalam sebuah pernyataan. Dia sampaikan bahwa dulunya mereka berjuang bersama Rusia untuk menghadapi fasisme, tetapi sekarang Ukraina bersama sama dengan AS dan Uni Eropa harus menghadapi ancaman dari Rusia.
Arum/Journalist/VM/BL
Editor: Iin Caratri
Image: Antara

