Buat Anda para kolektor jam tangan, jangan sampai Anda melewatkan yang satu ini. Berawal dari sebelas orang anak muda yang kreatif, akhirnya terciptalah suatu jam tangan unik berbahan dasar kayu.
Siapa sangka, produk unik tersebut justru berawal dari tugas mata kuliah di Sekolah Bisnis dan Manajemen di Institut Teknologi Bandung (ITB), dimana ketika mereka di tingkat dua diwajibkan untuk menjalankan sebuah bisnis mandiri.
Ide awal mereka membuat jam tangan, adalah karena mereka melihat bahan kayu sedang trend dan bisa menarik pasar. Mereka juga melihat, kayu juga digunakan dalam desain interior, karena itulah mereka akhirnya tertarik untuk mencoba membuat jam dari bahan dasar kayu.
Untuk memberikan nilai estetika, mereka juga menambahkan bahan lainnya agar lebih menarik masyarakat, yaitu beberapa bahan kain asli Indonesia. Melihat banyaknya kerajinan tradisional Indonesia, seperti ulos, tenun ikat, songket, hal tersebut memberi motivasi kepada mereka untuk menggabungkannya menjadi suatu karya seni yang indah.
Mereka juga menjual produk tersebut secara tematik setiap bulannya. Dimulai dari bulan Desember, mereka mulai mencoba menggunakan kain dari Sumatera. Di bulan berikutnya mereka mencoba kain dari Nusa Tenggara, lalu Kalimantan, dan untuk ke depannya mereka berencana untuk mengeksplorasi berbagai jenis kain, seperti kain yang berasal dari Jepara, kain batik, dan lainnya.
Dalam membuat jam tangan unik ini, para anak muda ini juga mempelajari pasar demi kepuasan konsumen mereka. Mereka juga sangat memahami tipikal konsumen mereka yang konsumtif. Karena itulah, mereka akhirnya membuat konsep interchangeable, yang berarti satu jam tangan namun bisa diganti berbagai model. Dengan konsep tersebut, konsumen mereka yang menyukai jam tangan dengan berbagai model, tidak perlu melakukan pembelian berulang-ulang, tetapi cukup membeli satu jam tangan saja dan mengganti talinya sesuai selera mereka.
Untuk bahan dasar kayunya, mereka menggunakan 2 jenis kayu, yaitu kayu terang dan gelap. Kayu yang gelap itu kayu jati, sedangkan yang terang adalah pinus Jerman. Untuk rencana kedepannya, mereka akan mengeksplor lebih banyak kayu lagi, seperti maple, ebony, dan lainnya untuk memperbanyak warna yang ada.
Mengenai harga dari tiap produk mereka, bisa dikatakan harganya cukup bervariasi, ada yang 595.000,- Rupiah, 695.000,- Rupiah, dan juga 780.000,- Rupiah. Dan setiap bulannya, biasanya produk mereka terjual sekitar 70-100 buah jam tangan. Jumlah yang cukup banyak, bukan?
Melihat bisnis Woodka yang sudah bisa dikatakan cukup stabil, mungkin membuat orang bertanya, apakah kesebelas anak muda ini punya rencana kedepan untuk pengembangan produk mereka. Dan sepertinya, mereka sudah jatuh cinta pada bahan dasar kayu untuk berbisnis. Hal itu terbukti, karena ketika ditanya mengenai rencana kedepan untuk bisnis mereka, salah satu dari mereka mengungkapkan bahwa mereka berencana untuk bukan hanya berbisnis jam tangan saja, tetapi juga bisnis fashion lainnya yang tetap menggunakan bahan dasar kayu.




