Belanja AI Big Tech Makin Ngebut di 2026

(Business Lounge Journal – Tech)

Isu gelembung (bubble) kecerdasan buatan sempat berembus kencang sepanjang 2025. Namun, jika melihat laporan kinerja terbaru para raksasa teknologi, tanda-tanda perlambatan justru sulit ditemukan. Dalam earnings call terbaru awal Februari 2026, perusahaan-perusahaan Big Tech kembali menegaskan satu hal: belanja untuk AI masih digenjot, bahkan makin agresif.

Dari Palo Alto hingga Hong Kong, optimisme terhadap AI terasa konsisten. Alih-alih mengerem investasi karena kekhawatiran valuasi terlalu tinggi, para eksekutif justru berbicara soal ekspansi kapasitas, peningkatan belanja modal (capital expenditure), dan pembangunan infrastruktur baru untuk menopang permintaan komputasi yang terus melonjak.

Salah satu indikator paling jelas adalah lonjakan belanja data center. Perusahaan teknologi besar terus menambah server, memperluas pusat data, dan membeli chip AI dalam jumlah masif. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung pengembangan model bahasa besar (LLM), layanan cloud berbasis AI, hingga aplikasi AI generatif yang kini makin luas digunakan di sektor bisnis.

Jika sebelumnya pertumbuhan AI banyak didorong oleh layanan cloud, kini gelombang pendapatan mulai merambah sektor lain. Aplikasi AI tertanam dalam perangkat lunak produktivitas, layanan keamanan siber, otomasi industri, hingga perangkat konsumen. Artinya, monetisasi AI tidak lagi bergantung semata pada penyewaan komputasi awan, melainkan mulai menyebar ke berbagai lini bisnis.

Di sisi lain, produsen chip tetap menjadi pemenang utama dalam euforia ini. Permintaan terhadap chip khusus AI—terutama GPU dan akselerator komputasi—masih jauh melampaui pasokan. Produsen semikonduktor menikmati pertumbuhan pendapatan yang solid karena perusahaan teknologi berlomba-lomba mengamankan pasokan untuk proyek AI mereka.

Fenomena ini sekaligus mematahkan narasi bahwa investasi AI akan segera mendingin setelah lonjakan besar dalam dua tahun terakhir. Para analis yang berharap adanya koreksi besar harus menunda prediksi mereka. Hingga awal 2026, sinyal yang muncul justru sebaliknya: pipeline proyek AI masih panjang, kontrak infrastruktur terus bertambah, dan permintaan komputasi belum menunjukkan tanda jenuh.

Meski demikian, pertanyaan soal keberlanjutan tetap ada. Apakah semua investasi ini akan menghasilkan keuntungan jangka panjang? Sejumlah investor masih berhati-hati, mengingat sejarah gelembung teknologi di masa lalu. Namun, perbedaan kali ini terletak pada adopsi nyata di berbagai industri. AI tidak lagi sekadar eksperimen laboratorium, tetapi sudah menjadi bagian dari operasional bisnis sehari-hari.

Bagi Big Tech, 2026 tampaknya menjadi tahun konsolidasi sekaligus ekspansi. Mereka tidak hanya memperbesar infrastruktur, tetapi juga mulai menunjukkan jalur monetisasi yang lebih jelas. Jika ada gelembung, setidaknya hingga kini belum terlihat tanda-tanda akan pecah.

Satu hal yang pasti: perlombaan AI masih jauh dari garis finis, dan uang yang digelontorkan untuk mendukungnya justru semakin besar. Perlombaan yang semakin