Biaya Hidup Global: Di Mana Posisi Indonesia di Tengah Kota-Kota Dunia?

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Di tengah meningkatnya mobilitas global—baik untuk bekerja, belajar, maupun berekspansi bisnis—biaya hidup (cost of living) menjadi salah satu faktor kunci dalam pengambilan keputusan. Data terbaru dari Numbeo, basis data biaya hidup terbesar di dunia berbasis crowdsourcing, memberikan gambaran komparatif yang menarik antara kota-kota global dan Indonesia.

Peta Biaya Hidup Global: Dari New York hingga Jakarta

Dalam indeks biaya hidup Numbeo, New York dijadikan patokan global dengan skor 100, mencerminkan tingginya harga kebutuhan dasar seperti hunian, transportasi, layanan kesehatan, dan konsumsi harian. Kota-kota global lain seperti London (~90) dan Sydney (~75) berada tidak jauh di bawahnya, terutama karena mahalnya biaya sewa properti dan jasa publik, meskipun ditopang oleh kualitas infrastruktur dan layanan sosial yang relatif matang. Berlin (~70) dan Prague (~60) merepresentasikan model kota Eropa yang lebih seimbang, dengan biaya hidup yang masih tinggi namun didukung oleh transportasi publik yang efisien serta kebijakan sosial yang kuat.

Di sisi lain spektrum, kota-kota di negara berkembang seperti Beijing (~38), Rio de Janeiro (~35), Jakarta (~30), dan Delhi (~23) menunjukkan tingkat biaya hidup yang jauh lebih rendah. Namun rendahnya indeks ini tidak semata-mata mencerminkan murahnya harga, melainkan juga mencerminkan perbedaan struktur ekonomi, tingkat pendapatan rata-rata, subsidi negara, serta akses terhadap layanan publik. Dalam konteks ini, Jakarta menempati posisi strategis sebagai kota metropolitan dengan biaya hidup relatif rendah dibandingkan kota-kota global, menjadikannya kompetitif bagi investor, ekspatriat, dan pelaku bisnis internasional—meskipun tantangan daya beli domestik dan kualitas hidup masih menjadi pekerjaan rumah utama.

Jika New York (100) dijadikan titik acuan, maka kota-kota dengan Cost of Living Index di atas 100 merepresentasikan kelas ekstrem biaya hidup dunia. Menariknya, kategori ini hampir sepenuhnya didominasi oleh kota-kota di Swiss, negara dengan standar upah tinggi, mata uang yang kuat, serta kualitas layanan publik kelas dunia. Zurich (118,5) dan Geneva (116,5) berada di posisi teratas, didorong oleh tingginya harga bahan makanan, biaya restoran yang melampaui New York, serta struktur ekonomi berbasis jasa bernilai tinggi seperti keuangan global, diplomasi internasional, dan teknologi. Kota-kota lain seperti Basel, Lausanne, Lugano, dan Bern yang konsisten berada di atas indeks 110 menegaskan bahwa mahalnya biaya hidup di Swiss bersifat sistemik, bukan anomali lokal.

Yang membedakan kota-kota Swiss dari kota mahal lainnya adalah Local Purchasing Power Index yang sangat tinggi—bahkan mencapai 183,7 di Basel. Artinya, meskipun harga absolut sangat mahal, daya beli penduduk lokal justru jauh lebih kuat dibanding New York. Dengan kata lain, Swiss menjadi contoh bagaimana biaya hidup tinggi dapat berjalan seiring dengan keseimbangan pendapatan, stabilitas sosial, dan kualitas hidup, sebuah kontras tajam dengan kota-kota berbiaya rendah seperti Jakarta, yang murah secara global namun masih menghadapi tantangan struktural dalam daya beli domestik.

Indonesia: Negara dengan Biaya Hidup Rendah, Tapi Tidak Murah dalam Segala Hal

Gambaran Umum Biaya Hidup di Indonesia

Menurut Numbeo:

  • Keluarga (4 orang): ± Rp25,8 juta/bulan (di luar sewa)
  • Individu lajang: ± Rp7,27 juta/bulan (di luar sewa)
  • Biaya hidup Indonesia 62,4% lebih rendah dari Amerika Serikat
  • Biaya sewa 77,4% lebih rendah dibanding AS

Dengan Cost of Living Index 25,78, Indonesia tergolong very low cost country dalam konteks global.

Namun, murah tidak selalu berarti tanpa tantangan.

Perbandingan Harga Kebutuhan: Indonesia vs Kota Global

Makan & Minum

  • Makan di restoran lokal: Rp30.000
  • Makan berdua restoran menengah: Rp250.000
  • Cappuccino: Rp28.000

Sebagai perbandingan:

  • Cappuccino di London: ± £4 (±Rp80.000)
  • Meal serupa di New York bisa 3–4 kali lipat lebih mahal

Indonesia unggul signifikan di sektor konsumsi harian dan F&B.

Bahan Pokok & Pasar

Harga bahan pokok di Indonesia relatif terjangkau:

  • Beras 1 kg: Rp15.000
  • Ayam 1 kg: Rp53.000
  • Telur 12 butir: Rp25.000

Namun beberapa produk seperti:

  • Keju lokal (hingga Rp143.000/kg)
  • Daging sapi (±Rp132.000/kg)

menunjukkan bahwa produk protein dan olahan susu masih relatif mahal, terutama bila dibandingkan dengan daya beli lokal.

Transportasi & Utilitas

  • Transportasi umum bulanan: Rp200.000
  • Bensin: ± Rp12.500/liter
  • Internet broadband 60 Mbps: ±Rp360.000
  • Utilitas apartemen 85 m²: ± Rp1,12 juta

Transportasi dan utilitas Indonesia masih jauh lebih murah dibanding Eropa dan Amerika, namun biaya internet dan listrik mulai mendekati standar regional Asia.

Hunian: Murah di Global, Mahal untuk Domestik

Inilah paradoks terbesar biaya hidup Indonesia.

Sewa & Properti

  • Apartemen 1BR pusat kota: ±Rp5,1 juta
  • 3BR pusat kota: ±Rp14,6 juta
  • Harga beli apartemen pusat kota: ±Rp29 juta/m²

Sementara:

  • Average net salary Indonesia: ± Rp4,87 juta/bulan
  • Property Price to Income Ratio: 23,87 (Very High)

Artinya, secara global Indonesia murah, tetapi secara lokal kepemilikan properti sangat mahal bagi warga berpenghasilan rata-rata.

Local Purchasing Power di Asia: Biaya Hidup Rendah Bertemu Upah Tinggi

Data Local Purchasing Power Index di Asia menunjukkan bahwa daya beli tidak selalu berkorelasi langsung dengan rendahnya biaya hidup. Dalam peringkat ini, India muncul sebagai negara dengan daya beli lokal tertinggi, dipimpin oleh Hyderabad (154,4), disusul Pune, Bangalore, dan Noida. Kota-kota ini memiliki Cost of Living Index yang sangat rendah (sekitar 21–23), namun ditopang oleh pertumbuhan sektor teknologi, jasa digital, dan outsourcing global yang mendorong peningkatan pendapatan kelas menengah perkotaan. Kombinasi biaya hidup rendah dan upah kompetitif menjadikan kota-kota India sebagai outlier positif dalam peta daya beli Asia.

Di posisi berikutnya, Arab Saudi dan negara-negara Teluk seperti Jeddah, Dammam, Riyadh, Doha, Abu Dhabi, dan Dubai menampilkan pola berbeda. Cost of Living Index mereka berada pada level menengah, namun Local Purchasing Power konsisten di atas 120, didorong oleh upah tinggi, subsidi negara, dan rendahnya pajak penghasilan. Model ini menciptakan realitas di mana konsumsi rumah tangga relatif kuat, meskipun harga sewa dan restoran lebih mahal dibanding Asia Selatan.

Israel juga menempati posisi menonjol dengan beberapa kota seperti Ramat Gan, Haifa, Petah Tikva, dan Beersheba yang mencatat Purchasing Power di kisaran 126–133, meskipun indeks harga restoran dan bahan makanan tergolong tinggi. Hal ini mencerminkan ekonomi berbasis inovasi dan teknologi tinggi, di mana pendapatan mampu mengimbangi mahalnya biaya hidup.

Sementara itu, Jepang dan Korea Selatan—diwakili oleh Tokyo, Osaka, dan Seoul—menunjukkan daya beli yang solid namun lebih moderat. Cost of Living Index relatif lebih tinggi dibanding India, tetapi Purchasing Power tetap berada di atas 117–130, mencerminkan stabilitas upah dan sistem ekonomi maju yang mapan.

Jika dibandingkan dengan data ini, Indonesia—yang Purchasing Power Index-nya berada di level 32,82—tertinggal jauh dari kota-kota Asia dengan daya beli tertinggi, namun masih lebih unggul dari Filipina. Hal ini menegaskan bahwa tantangan utama Indonesia bukan pada mahalnya harga, melainkan pada rendahnya pendapatan riil dibanding biaya hidup perkotaan, terutama untuk hunian dan mobilitas. Tanpa perbaikan struktur upah dan produktivitas, Indonesia berisiko tetap menjadi negara dengan biaya hidup murah namun daya beli yang lemah di tingkat regional Asia.

Perbandingan Antar Kota di Indonesia

Kota Cost of Living Index Purchasing Power
Bali 36,8 12,8
Jakarta 29,6 46,6
Surabaya 27,4 31,3
Bandung 24,4 35,2

Menariknya:

  • Bali paling mahal, didorong sektor pariwisata dan ekspatriat
  • Jakarta unggul dalam daya beli, meski biaya hidup lebih tinggi
  • Bandung & Surabaya menawarkan keseimbangan biaya dan kenyamanan

Murah bagi Dunia, Mahal bagi Sebagian Warganya

Indonesia—dan Jakarta khususnya—menempati posisi yang unik dalam peta biaya hidup global. Dengan indeks biaya hidup yang relatif rendah, Indonesia sangat kompetitif di mata dunia dan kerap dipersepsikan sebagai destinasi yang menarik bagi investor, ekspatriat, serta digital nomad yang mencari efisiensi biaya. Namun di balik daya tarik global tersebut, masih terdapat tantangan struktural yang nyata bagi daya beli domestik. Rendahnya pendapatan riil, tingginya harga properti perkotaan, serta keterbatasan akses terhadap layanan publik berkualitas membuat biaya hidup yang “murah” secara statistik tidak selalu terasa ringan bagi sebagian besar masyarakat lokal.

Ke depan, diskursus mengenai biaya hidup tidak dapat dilepaskan dari isu yang lebih mendasar, yakni peningkatan upah riil yang sejalan dengan produktivitas, penyediaan hunian yang terjangkau, serta pembangunan infrastruktur transportasi dan kualitas lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan. Tanpa perbaikan pada faktor-faktor tersebut, keunggulan biaya hidup rendah berisiko hanya menjadi nilai tambah bagi pihak eksternal, bukan fondasi bagi kesejahteraan jangka panjang. Pada akhirnya, biaya hidup yang rendah hanya memiliki makna apabila berjalan seiring dengan kualitas hidup yang berkelanjutan dan inklusif.