Halliburton

Laba Halliburton Turun Meski Pendapatan Kuartalan Naik

(Business Lounge – Global News) Halliburton mencatat penurunan laba pada kuartal keempat meskipun pendapatannya berhasil melampaui ekspektasi pasar, mencerminkan tekanan biaya dan dinamika industri jasa energi yang masih penuh tantangan. Perusahaan jasa ladang minyak terbesar kedua di dunia itu melaporkan pendapatan sebesar US$5,66 miliar, sedikit lebih tinggi dibanding perkiraan analis yang berada di kisaran US$5,41 miliar, sebagaimana dilaporkan oleh media keuangan internasional.

Kenaikan pendapatan tersebut terutama didorong oleh aktivitas pengeboran dan layanan ladang minyak yang relatif stabil, khususnya di pasar internasional. Namun, pertumbuhan tersebut belum cukup untuk menahan tekanan pada profitabilitas. Laba Halliburton justru menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring meningkatnya biaya operasional, tekanan harga, serta normalisasi aktivitas energi setelah lonjakan pascapandemi.

Manajemen perusahaan menjelaskan bahwa meskipun permintaan layanan tetap solid di sejumlah wilayah, terutama Timur Tengah dan Amerika Latin, margin tertekan oleh kenaikan biaya tenaga kerja, logistik, serta investasi berkelanjutan pada teknologi dan peralatan. Selain itu, aktivitas di Amerika Utara cenderung lebih moderat, mencerminkan kehati-hatian perusahaan energi dalam mengalokasikan belanja modal di tengah ketidakpastian harga minyak dan gas.

Dalam pernyataannya, Halliburton menegaskan bahwa kinerja kuartal keempat mencerminkan fase transisi industri, di mana perusahaan jasa energi harus menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan dengan disiplin biaya. Perusahaan juga menyoroti bahwa pelanggan kini lebih selektif dalam membelanjakan anggaran, dengan fokus pada efisiensi dan pengembalian investasi, bukan ekspansi agresif seperti beberapa tahun lalu.

Meski laba menurun, pencapaian pendapatan di atas ekspektasi pasar memberikan sinyal bahwa permintaan dasar terhadap layanan Halliburton masih relatif kuat. Aktivitas pengeboran di luar Amerika Utara tetap menjadi penopang utama, seiring meningkatnya proyek energi di Timur Tengah dan beberapa wilayah Asia. Kondisi ini membantu mengimbangi perlambatan di Amerika Utara, yang selama ini menjadi pasar terbesar perusahaan.

Investor mencermati hasil ini dengan sikap hati-hati. Di satu sisi, kinerja pendapatan yang solid menunjukkan ketahanan bisnis Halliburton. Namun di sisi lain, penurunan laba menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana perusahaan mampu menjaga margin di tengah biaya yang terus meningkat dan persaingan yang ketat di sektor jasa energi.

Halliburton menyatakan akan tetap fokus pada efisiensi operasional, disiplin belanja modal, serta pengembangan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas klien. Perusahaan juga melihat peluang pertumbuhan jangka menengah dari proyek energi nasional di berbagai negara, termasuk pengembangan ladang minyak dan gas baru serta proyek energi konvensional yang kembali mendapat perhatian.

Kinerja kuartal ini menggambarkan realitas industri energi saat ini: permintaan masih ada dan bahkan tumbuh di beberapa wilayah, tetapi tekanan biaya dan ketidakpastian pasar global membuat perusahaan harus bekerja lebih keras untuk menjaga profitabilitas. Bagi Halliburton, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan pendapatan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut benar-benar menghasilkan nilai tambah bagi pemegang saham.