(Business Lounge Journal – Interview Session)
Di tengah optimisme terhadap bonus demografi Indonesia, muncul satu tantangan mendasar yang kerap luput dari perhatian: ketidaksesuaian antara aspirasi generasi muda dan kebutuhan riil pasar kerja. Hal ini disampaikan oleh Saemin Ahn dari Rakuten dalam wawancara singkat dengan Business Lounge Journal. Menurutnya, isu ketenagakerjaan tidak bisa dilihat secara hitam-putih, melainkan harus dipahami secara bertahap dan kontekstual. “Saya pikir semuanya perlu dilihat secara step-by-step. Yang paling penting adalah adanya edukasi yang lebih baik mengenai mismatch demografis antara pekerjaan yang tersedia dan preferensi generasi muda,” ujarnya.
Saemin menyoroti fenomena di mana banyak lapangan pekerjaan tersedia di sektor manufaktur dan pekerjaan berbasis keterampilan teknis (blue-collar), namun generasi muda justru lebih banyak mengejar pekerjaan white-collar. Ketimpangan ini menciptakan ketidakseimbangan struktural dalam pasar tenaga kerja. “Secara spesifik, ada banyak pekerjaan blue-collar atau high-manufacturing-skilled yang tersedia, tetapi generasi muda lebih mengejar pekerjaan white-collar. Ini tentu menciptakan kebocoran dalam bonus demografi yang selama ini kita harapkan,” jelasnya.
Bonus demografi seharusnya menjadi momentum pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas, konsumsi, dan inovasi. Namun, apabila tenaga kerja muda tidak terserap secara optimal di sektor-sektor yang membutuhkan, potensi tersebut bisa tergerus.
Saemin menambahkan bahwa dampak lanjutan dari mismatch ini bukan hanya pada angka pengangguran, tetapi juga pada melambatnya peningkatan konsumsi dan inovasi teknologi yang seharusnya didorong oleh generasi produktif.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam membangun pemahaman yang lebih realistis tentang peluang kerja yang tersedia. “Saya pikir dari sisi pemerintah dan masyarakat, edukasi yang lebih baik mengenai peluang yang ada akan sangat penting untuk masa depan,” katanya.
Menurutnya, edukasi tersebut bukan sekadar informasi karier, melainkan juga perubahan persepsi mengenai nilai pekerjaan berbasis keterampilan teknis dan industri manufaktur yang kini semakin modern dan berbasis teknologi.
Pernyataan Saemin Ahn ini menjadi pengingat bahwa bonus demografi tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Tanpa penyelarasan antara sistem pendidikan, aspirasi generasi muda, dan kebutuhan industri, potensi besar tersebut justru bisa berubah menjadi tantangan struktural jangka panjang.

